Oleh: Ahmad Hosaini *)
Idul Adha pada tahun ini jatuh pada 27 Mei 2026 M./10 Dzulhijjah 1447 H. Insyaallah umat Islam serentak dalam merayakannya.
Idul Adha tidak terlepas dari cerita teladan pengorbanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Kita sebagai umat Nabi Muhammad dapat mengambil hikmah dari arti sebuah pengorbanan sebagai simbol ketaatan hakiki seorang hamba.
Kisah teladan yang diabadikan dalam Al-Qur’an ini, kita coba menganalisisnya dengan sentuhan lebih filosofis.
Memaknai lebih dalam arti sebuah pengorbanan dan kecintaan. Dalam Al-Qur’an dikisahkan yang diawali dengan Nabi Ibrahim yang bermimpi kemudian meminta tanggapan anak kesayangannya:
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ
Artinya: “Ketika anak itu sampai pada (umur) ia sanggup bekerja bersamanya, ia (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Pikirkanlah apa pendapatmu?” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu! Insyaallah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).
Saat Nabi Ibrahim mengutarakan mimpi menyembelih anak tercintanya yang kehadirannya sangat ditunggu-tunggu.
Sebagai seorang ayah tentulah sangat berat mengutarakannya apalagi pada anak yang masuk usia remaja. Apalagi Nabi Ibrahim saat keluar rumah dengan mengajak putra kesayangannya untuk mencari kayu bakar di sebuah lembah.
Namun, saat ada di tempat sepi di lembah tersebut, beliau baru memberitahukan perintah Allah kepadanya.
Jawaban Nabi Ismail kecil tidak disangka-sangka dan cukup mengagumkan dengan bahasa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:
افْعَلْ مَا تُؤمَرُ
Artinya: “Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu.”
Bahasa Nabi Ismail tidak menggambarkan adanya rasa takut sedikitpun. Bahkan ini bentuk kepasrahannya pada perintah Tuhannya.
Ia yakin pada ayahandanya sebagai seorang Nabi yang tidak mungkin mau melakukan itu kalau bukan karena perintah Allah.
Di sini juga tergambar makna sejati dalam sebuah pengorbanan. Ia rela menyerahkan ego diri, rasa takut, kenyamanan hidup, dan meninggalkan kepentingan diri demi ketaatan pada-Nya.
Kita harus senantiasa “menyembelih” kesombongan diri ini agar rela memaafkan dan tidak malu untuk meminta maaf.
Hawa nafsu harus kita sembelih demi menjaga kehormatan diri di tengah budaya dan pergaulan yang semakin bebas.
Sebagai orang tua, kita harus berani “menyembelih” ambisi pribadi demi mendidik anak dengan kasih dan iman, bukan hanya mengejar prestasi dunia.
Sebagai seorang pejabat, kita harus “menyembelih” kerakusan agar tidak memakan hak rakyat dan menjual beli jabatan serta menjual kebijakan demi uang.
Sebagai pelajar pun demikian, kita harus “menyembelih” kemalasan, kebodohan dan candu media sosial demi masa depan dan ilmu yang bermanfaat. Orang beriman juga harus “menyembelih” ketakutan demi menjaga kejujuran di zaman ketika kebohongan sering dianggap hal biasa.
Intinya ego kita harus “disembelih” dari keterikatan berlebihan pada dunia, jabatan, popularitas, pujian manusia agar hanya Allah yang menjadi pusat cintanya dan kita rela berkorban dan jadi korban demi mendekatkan diri pada Allah.
Peristiwa perintah penyembelihan itu berdasarkan sebuah mimpi bahkan ulama menyebutkan bahwa mimpi itu tidak hanya sekali tapi sampai tiga kali.
Maka kenapa menggunakan اني ارى artinya (أي رأيت) “yaitu saya melihat”, kata As-Shawi ini mengisyaratkan bahwa mimpi tersebut benar-benar terjadi, berdasarkan riwayat bahwa pada malam Tarwiyah, ada suara yang berkata kepadanya:
إن الله يأمرك بذبح ابنك
Artinya: “Sesungguhnya Allah memerintahkanmu untuk menyembelih anakmu.”
Ketika pagi tiba, ia merenungkan dalam dirinya apakah mimpi itu dari Allah.
Kemudian pada sore harinya, ia melihat hal yang sama pada malam kedua. Lalu ia melihat hal yang serupa pada malam ketiga, sehingga ia berniat untuk menyembelihnya, kemudian ia berkata kepada anaknya: (يابُنَيَّ = Wahai anakku), dan seterusnya.
Oleh karena itu, ketiga hari tersebut dinamakan hari: Tarwiyah, Arafah, dan Nahr. Sebab, pada hari pertama ia merenung (تروى), pada hari kedua ia mengenal atau mengakui (عرف), dan pada hari ketiga ia menyembelih (نحر).
Ketiga peristiwa penting ini menjadi rangkaian ibadah haji. Pada tanggal 8 Dzulhijjah adalah tarwiyah, tanggal 9 nya adalah Arafah dan tanggal 10-nya ada Idul Adha atau dikenal juga يوم النحر hari raya penyembelihan.
Dialog Kisah Pilu Penyembelihan Ismail
Ini ada sebuah dialog untuk menggambarkan bagaimana proses penyembelihan Nabi Ismail dan kepasrahannya dijadikan sebagai korban atas dasar perintah dari Allah.
Dalam Tafsir As-Shawi disebutkan bahwa saat Nabi Ibrahim membaringkan dan merebahkan Nabi Ismail di atas bukit dengan posisi yang siap untuk disembelih, Ismail kecil menyampaikan pada ayahnya:
قال: يا أبت اسدد رباطي كي لا أضطرب
Artinya: “Ia berkata, Wahai ayahku, kencangkanlah ikatanku agar aku tidak berontak.”
واكفف ثيابك حتى لا ينتضح عليها من دمي شيء، فينقص أجري، وتراه أمي فتحزن،
Artinya: “Dan singkaplah pakaianmu agar darahku tidak memercik ke atasnya, sehingga mengurangi pahalaku, dan agar ibuku tidak melihatnya lalu bersedih.”
واستحد شفرتك، وأسرع بها على حلقي، ليكون أهون علي،
Artinya: “Tajamkanlah pisaumu, dan segerakanlah (sembelihan itu) di leherku, agar lebih meringankan bagiku.”
وإذا أتيت أمي فاقرأ عليها السلام مني، وإن رأيت أن ترد قميصي عليها فافعل، فإنه عسى أن يكون أسلى لها عني،
Artinya: “Jika engkau menemui ibuku, sampaikanlah salam dariku, dan jika engkau berkenan untuk mengembalikan bajuku kepadanya maka lakukanlah, karena itu semoga bisa sedikit menghiburnya atas kehilanganku.”
Setelah itu, Nabi Ibrahim berkata:
نعم العون أنت يا بني على أمر الله
Artinya: “Ibrahim berkata, engkau adalah sebaik-baik penolong, wahai anakku, dalam menjalankan perintah Allah.”
Lalu Ibrahim melakukan apa yang diperintahkan oleh anaknya, kemudian ia menghadap kepadanya sambil menangis, dan sang anak pun menangis.
Ketika ia meletakkan pisau di lehernya, pisau itu sama sekali tidak mempan melukai.
Kemudian ia mengasahnya dengan batu sebanyak dua atau tiga kali, namun pisau itu tetap tidak mampu memotong sedikit pun.
Hal itu disebabkan karena dicegah oleh kekuasaan Allah SWT. untuk menunjukkan pada keagungan kekuasaan ilahi, yaitu dicegahnya besi dari daging. Mendapati hal itu, sang anak berkata:
يا أبت كبني لوجهي على جبيني
Artinya: “Wahai ayahku, telungkupkanlah wajahku di atas pelipisku.”
فإنك إذا نظرت في وجهي رحمتني، فأدركتك رأفة تحول بينك وبين أمر الله،
Artinya: “Karena jika engkau melihat wajahku, engkau akan menyayangiku, lalu timbul rasa kasihan yang menghalangimu dari perintah Allah.”
وأنا أنظر إلى الشفرة فأجزع منها
Artinya: “Dan (juga) agar aku tidak melihat pisau itu sehingga merasa cemas.”
Ibrahim pun melakukan hal tersebut, kemudian ia meletakkan pisau di tengkuknya namun pisau itu terbalik. Lalu ada seruan:
ياإِبْرَاهِيمُ قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَآ
Artinya: “Wahai Ibrahim, sungguh engkau telah membenarkan mimpimu.” (Hasyiyah As-Shawi Tafsir Jalalain, Beirut, Dar al-Jeel, hal. 321).
Begitu indah dialog yang diperlihatkan oleh kedua nabiyullah ini. Bagaimana keteguhan niat dan hati Nabi Ibrahim dalam menjalankan perintah Allah dan bagaimana ketulusan Nabi Ismail dalam menerima perintah-Nya.
Di sinilah sebenarnya makna ketulusan cinta dan pengorbanan itu. Cinta butuh pengorbanan dan tidak dikatakan cinta kalau tidak mau berkorban.
Pengorbanan butuh totalitas dan kualitas sempurna sebagai jalan terbaik untuk selalu merasa dekat dengan-Nya.
Arti Sebuah Cinta dan Pengorbanan
Hikmah di balik peristiwa pengorbanan itu menurut Ahmad bin Muhammad As-Shawi Al-Maliki adalah sesungguhnya Allah SWT. telah menjadikan Nabi Ibrahim sebagai الخيل/Al-Khalil (kekasih-Nya). الخلة/Al-Khullah (status sebagai kekasih Allah) adalah bentuk kecintaan yang paling murni, yang menuntut agar tidak ada pihak lain yang disekutukan dalam cinta tersebut selain-Nya.
Nabi Ibrahim sebelumnya memohon kepada Tuhannya agar dikaruniai seorang anak.
Namun, setelah anak itu dianugerahkan kepadanya, sebagian dari hatinya merasa sangat terikat dan mencintainya.
Oleh karena itu, ujian yang menguji kemurnian الخلة/Al-Khullah pun datang untuk mencabut keterikatan tersebut dari hati sang kekasih Allah (Ibrahim).
Maka, diperintahkanlah untuk menyembelih orang yang paling dicintainya, agar kemurnian الخلة/khullah itu tampak dan tidak ada sekutu di dalamnya.
Dengan demikian, ia menaati perintah Tuhannya dan lebih mendahulukan cinta kepada-Nya daripada cinta kepada anaknya. (Hasyiyah As-Shawi Tafsir Jalalain, Beirut, Dar al-Jeel, hal. 320).
Sementara itu, Ibnu Ajibah mengatakan Dzat Yang Maha Benar (Allah) itu Maha Pencemburu, Dia tidak suka melihat ada sesuatu selain diri-Nya di dalam hati kekasih atau wali-Nya.
Oleh karena itu, Dia memerintahkan penyembelihan putranya untuk mengeluarkannya dari hatinya, sebagaimana Dia memisahkan antara Yusuf dan ayahnya, dan menguji kekasih-Nya, Rasulullah SAW, melalui fitnah terhadap Aishah Ash-Shiddiqah.
Demikianlah sunnatullah (kebiasaan Allah) terhadap hamba-hamba-Nya yang terpilih. (Ibnu Ajibah, al-Bahr al-Madid fi Tafsiril Quranil Majid Jilid 4, Kairo, Thaba’ah ‘ala Nafaqati Hasan Abbas Zaki, tahun 1999. hal.111).
Begitulah seharusnya, ketika hati sudah terpaut dengan Allah, kemurnian cinta pada-Nya tidak boleh ada kekasih selain-Nya.
Tidak boleh cinta kita pada Allah dikalahkan dengan cinta kita pada selain-Nya. Ketika Ibrahim merelakan anak kesayangannya dikorbankan untuk Allah atas perintah-Nya, maka Dia Allah mengembalikan kembali pada Ibrahim.
Begitu juga ketika Nabi Ya’kub telah merelakan Yusuf putra kesayangannya, maka saat itulah Allah mempertemukannya kembali.
Begitu juga kita, jika kecintaan kita pada harta benda duniawi, kedudukan atau jabatan, menghilangkan cintanya pada Ilahi, maka yakinlah bahwa suatu saat ia akan dicabut.
Tidak ada harta, jabatan, dan kedudukan yang abadi, ia akan binasa paling tidak bersamaan dengan binasanya ia.
Dengan demikian, maka mari kita murnikan cinta kita pada Allah untuk selalu berada di dekat-Nya dalam setiap denyut nafas kehidupan.
Cinta yang hakiki adalah selalu siap berkorban jiwa dan raga pada yang dicintainya. Cinta yang hakiki adalah cintanya kita pada Allah karena Dia Maha Pengasih dan tidak butuh dikasihi.
Cinta pada makhluk akan melahirkan luka kecuali mencintainya karena Allah. Namun, cinta pada Allah tak akan pernah kecewa karena Dialah yang akan menuntun pada kebahagiaan dan surga-Nya. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

