Image Slider

Jiwa Kepemimpinan Abu Bakar sebagai Teladan yang Baik

Oleh: Ahmad Hosaini *)

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA merupakan sosok yang memiliki kedudukan sangat istimewa di sisi Rasulullah SAW.

Setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, beliau menjadi khalifah pertama yang melanjutkan perjuangan Islam dengan penuh ketulusan, kesederhanaan, dan pengabdian.

Sayyidina Ali menyebutkan bahwa Abu Bakar meneruskan perjuangan dan amaliah Rasulullah sampai akhir hayatnya.

Bahkan Rasulullah sendiri menyebutnya sebagai khalil (kekasihnya) sebagaimana yang beliau sabdakan:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ اتَّخَذَنِي خَلِيلًا كَمَا اتَّخَذَ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلًا، وَإِنَّ أَبَا بَكْرٍ خَلِيلِي.

Artinya: “Sesungguhnya Allah Yang Mahamulia dan Mahaagung telah menjadikanku sebagai khalil (kekasih yang sangat dekat), sebagaimana Dia menjadikan Ibrahim sebagai khalil. Dan sesungguhnya Abu Bakar adalah khalilku.” (Ahmad bin Hanbal.1983. Fadhail ash-Shahabah Juz I. Makkah. Umm al-Qura University. hal.102).

Berbagai riwayat yang dihimpun dari Imam Ahmad bin Hanbal dalam Fadha’il Ash-Shahabah serta keterangan Imam Ath-Thabari dalam Tarikh Al-Rusul wa Al-Muluk menunjukkan bahwa kepemimpinan Abu Bakar dibangun di atas fondasi iman, pengorbanan, kasih sayang, dan kerendahan hati.

Nilai-nilai tersebut tetap relevan sebagai teladan kepemimpinan pada masa kini dan juga masa yang akan datang.

Dalam hal ini, cukuplah kiranya sebuah syair dari Khifaf bin Nudbah untuk menggambarkan bagaimana jiwa kepemimpinan Abu Bakar berikut ini:

أَبْلِغْ ذُو عُرْفٍ وَذُو مُنْكَرٍ # مُقَسَّمَ الْمَعْرُوفِ رَحْبَ الْفِنَاءِ

“Sampaikanlah (kabar ini) kepada orang yang mengenal kebaikan maupun yang mengingkarinya, tentang seorang pembagi kebaikan, yang halaman rumahnya luas (sangat dermawan).”

لِلْمَجْدِ فِي مَنْزِلِهِ بَادِيًا # حَوْضٌ رَفِيعٌ لَمْ يَخُنْهُ الْإِزَاءُ

“Kemuliaan tampak nyata di kediamannya; ia bagaikan telaga yang tinggi dan mulia, dan tidak pernah mengecewakan siapa pun yang mendatanginya.”

وَاللَّهِ لَا يُدْرِكُ أَيَّامَهُ # ذُو مِئْزَرٍ حَافٍ وَلَا ذُو رِدَاءٍ

“Demi Allah, tidaklah seseorang dapat menyamai hari-hari (kejayaan dan kebajikan)-nya, baik orang yang hanya berselimut kain sederhana maupun orang yang berpakaian mewah.”

مَنْ يَسْعَ كَيْ يَدْرِكَ أَيَّامَهُ # يَجْتَهِدُ الشَّدَّ بِأَرْضٍ فَضَاءٍ

“Barang siapa berusaha untuk mencapai tingkat hari-harinya (keutamaan dan kemuliaannya), ia harus bersungguh-sungguh dengan sekuat tenaga di hamparan bumi yang luas.”

(Tarikh Ath-Thabari. Tarikh al-Rusul wa al-Muluk. Juz III. Kairo: Dar al-Ma’arif bimishr. hal. 427.)

Jiwa Pengorbanan dan Ketulusan
Rasulullah SAW bersabda:

مَا نَفَعَنِي مَالٌ قَطُّ مَا نَفَعَنِي مَالُ أَبِي بَكْرٍ

Artinya: “Tidak ada harta yang paling bermanfaat bagiku sebagaimana manfaat harta Abu Bakar kepadaku.”

Mendengar sabda tersebut, Abu Bakar menangis seraya berkata:

وَهَلْ أَنَا وَمَالِي إِلَّا لَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟


“Bukankah aku dan hartaku hanyalah untukmu wahai Rasulullah?”

(Ahmad bin Hanbal. 1983.Fadha’il ash-Shahabah. Juz I. Makkah: Umm al-Qura University. hal. 65).

Perkataan tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan Abu Bakar lahir dari ketulusan dan pengorbanan.

Tulus mengabdi jiwa dan raga untuk Allah dan Rasul-Nya. Tidak hanya itu, harta juga ia korbankan untuk agamanya.

Beliau tidak memandang harta sebagai tujuan hidup, melainkan sebagai sarana untuk memperjuangkan agama dan kemaslahatan umat.

Dalam sebuah riwayat juga disebutkan bagaimana totalitas pengorbanan Abu Bakar untuk agamanya.

Dari Umar bin Khattab RA ia berkata: Rasulullah SAW memerintahkanku untuk bersedekah. Saat itu aku memiliki harta. Maka aku berkata dalam hati, “Hari ini aku akan mengungguli Abu Bakar jika memang suatu hari aku dapat mengunggulinya.”

Lalu aku datang membawa setengah hartaku. Rasulullah SAW bertanya:


مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟

“Apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

Aku menjawab:


قُلْتُ: مِثْلَهُ

“Sebanyak yang aku sedekahkan.”

Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya. Rasulullah SAW bertanya:

يَا أَبَا بَكْرٍ، مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟

“Wahai Abu Bakar, apa yang engkau sisakan untuk keluargamu?”

Abu Bakar menjawab:

أَبْقَيْتُ لَهُمُ اللَّهَ وَرَسُولَهُ

“Aku tinggalkan bagi mereka Allah dan Rasul-Nya.”

Maka aku (Umar) berkata:

لَا أُسَابِقُهُ إِلَى شَيْءٍ أَبَدًا

“Aku tidak akan pernah dapat mengunggulinya dalam suatu hal pun selama-lamanya.”

(Jami’ at-Tirmidzi Hadits ke-3675. Riyadh. Dar As-Salam. hal. 1087).

Bahkan dari hartanya beliau memerdekakan Bilal bin Rabah.

Luar biasanya lagi, Abu Bakar memerdekakan Bilal bukan karena Bilal pernah berjasa kepadanya dan Abu Bakar ingin membalas jasa padanya, tetapi murni karena mengharap ridha Allah.

Sampai-sampai dengan kedermawanannya itulah dikaitkan dengan turunnya ayat 17-21 Surat Al-Lail:

وَسَيُجَنَّبُهَا الْأَتْقَى الَّذِي يُؤْتِي مَالَهُ يَتَزَكَّى وَمَا لِأَحَدٍ عِنْدَهُ مِنْ نِعْمَةٍ تُجْزَى إِلَّا ابْتِغَاءَ وَجْهِ رَبِّهِ الْأَعْلَى وَلَسَوْفَ يَرْضَى

Artinya: “Dan kelak akan dijauhkan darinya (neraka) orang yang paling bertakwa, yaitu orang yang menginfakkan hartanya untuk membersihkan diri.Dan tidak ada seorang pun yang mempunyai suatu nikmat padanya yang harus dibalasnya, melainkan (ia berbuat demikian) karena mencari keridaan Tuhannya Yang Mahatinggi. Dan sungguh kelak dia akan memperoleh kepuasan.” (QS. Al-Lail: 17–21)

Para ulama Ahlus Sunnah menjadikan ayat-ayat terakhir Surah Al-Lail sebagai salah satu dalil kemuliaan dan keutamaan Abu Bakar Ash-Shiddiq RA dibandingkan sahabat lainnya setelah Rasulullah SAW

(Tafsir Al-Qurthubi. al-Jaami’u al-Ahkaami Al-Qur’ani Juz XXII. Hal. 331- 332).

Abu Bakar memberikan contoh bahwa kepemimpinan yang baik tidak dibangun atas kepentingan pribadi, tetapi atas kesediaan berkorban demi kepentingan umat dan agama.

Pemimpin yang Dermawan dan Menjadi Sumber Manfaat
Abu Jakfar mengatakan dalam Tarikh Ath-Thabari bahwa Abu Bakar sebagai seorang yang dermawan, lemah lembut, dan sangat mengetahui silsilah bangsa Arab. Pujian tersebut diperkuat oleh syair Khifaf bin Nudbah tentang Abu Bakar:

مُقَسَّمَ الْمَعْرُوفِ رَحْبَ الْفِنَاءِ

“Seorang yang gemar membagikan kebaikan dan memiliki kemurahan hati yang luas.”

Syair ini menggambarkan bahwa Abu Bakar adalah seseorang yang terbuka, ramah, dermawan, dan menjadi sumber manfaat bagi banyak orang. Beliau juga diibaratkan sebagai telaga yang penuh air, yang memberikan kesejukan dan menghilangkan dahaga:

حَوْضٌ رَفِيعٌ لَمْ يَخُنْهُ الْإِزَاءُ

“Ia mempunyai telaga (mata air) kemuliaan yang luhur, dan tidak pernah mengecewakan siapa pun yang mendatanginya.”

Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seorang pemimpin ideal adalah pemimpin yang kehadirannya menghadirkan manfaat bagi masyarakat, bukan justru menjadi beban bagi rakyat.

Lemah Lembut dan Penuh Kasih Sayang
Dalam Tarikh Ath-Thabari disebutkan bahwa Abu Bakar sebagai sosok yang “layyinan” (lemah lembut). Kelembutan tersebut tampak dalam berbagai sikapnya. Ketika beliau mendengar Aisyah meninggikan suara kepada Rasulullah SAW, beliau ingin menegurnya sebagai bentuk penghormatan kepada Nabi.
.
Namun ketika melihat Nabi SAW. telah mendamaikan keadaan, Abu Bakar dengan penuh kehangatan berkata:

يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَشْرِكْنِي فِي سِلْمِكُمَا كَمَا أَشْرَكْتُمَانِي فِي حَرْبِكُمَا.

Artinya: “Ya Rasulallah, libatkanlah aku dalam perdamaian kalian sebagaimana kalian telah melibatkanku dalam perselisihan kalian.”

(Fadha’il ash-Shahabah. Juz I. hal. 75)

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar memiliki hati yang lembut dan mengutamakan terciptanya keharmonisan. Kepemimpinan yang kuat tidak selalu diwujudkan dengan kekerasan, tetapi dengan kebijaksanaan dan kasih sayang.

Rendah Hati dan Tidak Mencari Kemewahan
Meskipun menjadi khalifah, Abu Bakar tetap hidup sederhana. Diriwayatkan bahwa seorang laki-laki melihat Abu Bakar, sementara di atas pundaknya terdapat sebuah jubah (selimut kasar). Lalu orang itu berkata:

“Perlihatkan kepadaku (sesuatu milikmu).”,

Abu Bakar menjawab:

إِلَيْكَ، لَا تُغَرَّنِي، أَنْتَ وَلَا ابْنُ الْخَطَّابِ مِنْ عِيَالِي.

“Menjauhlah! Janganlah engkau memperdayaku. Engkau dan Ibnu al-Khaththab termasuk orang-orang yang menjadi tanggunganku.”

(Ahmad bin Hanbal. Fadhail ash-Shahabah hlm.104)

Riwayat ini menunjukkan kerendahan hati dan kepedulian Abu Bakar Ash-Shiddiq terhadap orang-orang di sekitarnya, termasuk Umar bin al-Khaththab, serta menggambarkan kehidupan beliau yang sederhana meskipun telah menjadi khalifah.

Jabatan tidak menjadikan beliau hidup mewah dan bergantung kepada orang lain. Beliau tetap bekerja dan mengurus keperluannya sendiri dan kebutuhan keluarganya.

Sikap sederhana ini merupakan pelajaran penting bahwa kepemimpinan adalah amanah, bukan sarana untuk mencari kemuliaan dunia. Tidak untuk mencari popularitas yang maunya dilayani dan dihormati. Akan tetapi, hidupnya dihibahkan untuk agama, bangsa dan negara.

Mengutamakan Amanah dan Kepentingan Umat
Ketika Rasulullah SAW sakit menjelang wafatnya, beliau memerintahkan Abu Bakar untuk menjadi imam salat kaum Muslimin. Beliau bersabda:

مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

“Perintahkanlah Abu Bakar agar mengimami manusia.”

Saat itu ada yang mengatakan bahwa Abu Bakar adalah orang yang sangat lembut hatinya, ia tidak akan mampu mengimami shalat karena pasti menangis, tapi Nabi tetap dengan pendiriannya bahwa Abu Bakar lah yang harus mengimami shalat dan Nabi bersabda:

إِنَّكُنَّ صَوَاحِبُ يُوسُفَ، مُرُوا أَبَا بَكْرٍ فَلْيُصَلِّ بِالنَّاسِ

Artinya: “Sesungguhnya kalian seperti para wanita yang mengelilingi Yusuf. Perintahkanlah Abu Bakar agar mengimami manusia.”

Namun ketika Nabi SAW merasakan sedikit keringanan dan hadir di masjid dengan dipapah, Abu Bakar hendak mundur dari posisi imam karena rasa hormat kepada Rasulullah. Akan tetapi, Nabi SAW mengisyaratkan agar beliau tetap berada di tempatnya.

(Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah Juz VIII, tahqiq Dr. Talbah ‘Abd al-Halim al-Halabi, Kairo: Dar Hajar li al-Tiba‘ah wa al-Nasyr wa al-Tawzi‘ wa al-I‘lan, bekerja sama dengan Pusat Penelitian dan Studi Arab dan Islam Al-Azhar. Hlm 45-47)

Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Abu Bakar tidak pernah mencari kedudukan. Beliau menerima amanah karena perintah dan tanggung jawab, bukan karena ambisi kekuasaan.

Sama halnya saat Abu Bakar dibai’at menjadi khalifah, beliau sendiri enggan menerima amanah tersebut dan lebih menjagokan Umar bin Khattab dan Abu Ubaidah bin Al-Jarrah untuk dipilih. Namun Umar membaiatnya dan diikuti yang lain.

Dalam khutbahnya saat didaulat menjadi khalifah beliau juga menyampaikan:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنِّي قَدْ وُلِّيتُ عَلَيْكُمْ وَلَسْتُ بِخَيْرِكُمْ، فَإِنْ أَحْسَنْتُ فَأَعِينُونِي، وَإِنْ أَسَأْتُ فَقَوِّمُونِي، الصِّدْقُ أَمَانَةٌ وَالْكَذِبُ خِيَانَةٌ…

Artinya: “Wahai manusia, sesungguhnya aku telah diangkat menjadi pemimpin atas kalian, padahal aku bukanlah orang yang terbaik di antara kalian. Jika aku berbuat baik, maka bantulah aku; dan jika aku berbuat salah, maka luruskanlah aku. Kejujuran adalah amanah dan kedustaan adalah pengkhianatan”.

Pemimpin yang baik adalah mereka yang mengutamakan amanah dan pelayanan kepada masyarakat daripada kepentingan pribadi, keluarga dan golongan.

Kepemimpinan yang Berlandaskan Ketakwaan
Selain apa yang telah disebutkan di atas tentang keutamaan Abu Bakar dari isyarah Al-Qur’an, totalitas dan ketulusan pengabdian, kedermawanan serta dipilih Nabi untuk menggantinya mengimami shalat. Ada juga tulisan pada cincin Abu Bakar berbunyi:

نِعْمَ الْقَادِرُ اللَّهُ

“Allah adalah sebaik-baik Yang Mahakuasa.”

(Tarikh At-Thabari Juz III hal. 427).

Ungkapan tersebut menggambarkan keyakinan bahwa kekuasaan sejati hanyalah milik Allah. Oleh sebab itu, Abu Bakar memandang jabatan sebagai amanah yang harus dipertanggungjawabkan kepada Allah SWT.

Kesadaran spiritual ini menjadikan beliau seorang pemimpin yang rendah hati, adil, dan tidak sombong.

Inilah potret kepemimpinan sejati dalam Islam yang sangat dibutuhkan sebagai cerminan kepemimpinan pada periode-periode berikutnya.

Relevansi bagi Kepemimpinan di Indonesia
Nilai-nilai kepemimpinan Abu Bakar Ash-Shiddiq sangat relevan bagi kehidupan bangsa Indonesia. Seorang pemimpin hendaknya:

  1. Memiliki totalitas dan ketulusan pengabdian kepada agama, bangsa dan negara.
  2. Dermawan dan mempunyai komitmen yang tinggi untuk kesejahteraan rakyat.
  3. Lemah lembut namun tegas dalam memegang prinsip.
  4. Hidup sederhana dan menjauhi kemewahan yang berlebihan.
  5. Menempatkan jabatan sebagai amanah, bukan alat untuk mencari keuntungan pribadi, keluarga dan golongan.
  6. Menjadikan nilai-nilai agama dan moral sebagai landasan dalam menjalankan kepemimpinan.

Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq RA merupakan teladan kepemimpinan yang sempurna dalam sejarah Islam. Ketulusannya dalam berkorban, kemurahan hatinya, kelembutan akhlaknya, kesederhanaannya, serta ketakwaannya kepada Allah SWT menjadi fondasi utama kepemimpinannya.

Oleh karena itu, jiwa kepemimpinan Abu Bakar bukan hanya menjadi bagian dari sejarah Islam, tetapi juga menjadi inspirasi bagi para pemimpin masa kini dalam membangun masyarakat yang adil, sejahtera, dan bermartabat.

*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga