Cerpen: Juwairiyah Mawardi
Pagi yang mengherankan. Masbuk tak mendapati HP-nya di meja tempat biasa ia meletakkan. Istrinya bilang tak tahu menahu. Anaknya, Sukat, dengan cuek justru mengatakan Masbuk ceroboh setiap menaruh apa saja. Ingin sebenarnya Masbuk menempeleng anaknya itu tapi ditahannya karena kadang-kadang Sukat membantunya dalam ‘beroperasi’. Tapi sekarang HP-nya hilang. Masa dirinya yang maling masih kecurian? Benar-benar tak lucu!
“Kau menaruhnya di mana sih, Pak?” Istrinya menuju kamar mandi.
“Aku belum pikun, Bu! HP itu kuletakkan di meja depan. Pasti ada yang mencurinya.” Masbuk melihat ke arah Sukat dengan agak curiga.
“Bapak menuduhku ya?” Sukat langsung menanggapi tatapan bapaknya dengan kata-kata.
Masbuk melotot. “Aku tidak akan menuduh sembarangan. Tapi kalau memang kamu yang mencurinya cepat kembalikan!”
Sukat membalas melotot. “Bapak yang mengajari aku jadi pencuri! Tapi pantang bagiku mencuri di rumahku sendiri! Apalagi milik Bapak!” Sukat meninggalkan Masbuk dengan langkah berdebam.
Istrinya yang kembali dari belakang dengan tangan kosong semakin membuat Masbuk ingin marah.
“Bapak ingat-ingat lagi menaruhnya di mana. Di mana-mana tidak ada, di dapur juga tidak ada. Tadi malam mampir ke mana saja sebelum pulang?”
“Mana sempat mampir ke mana-mana. Tadi malam aku kabur sebelum berhasil mencuri sapi. Capek-capek aku menabur rumput di petak-petak dekat kandang ternyata sapi keparat itu terburu ‘menyanyi’ sebelum aku masuk kandang. Dan pemiliknya tiba-tiba keluar.” Masbuk bersungut-sungut.
Istrinya memilih tak berkomentar lagi melihat raut suram suaminya. Dirinya juga heran suaminya kehilangan HP. Di rumah lagi. Bukanlah mereka keluarga maling? Siapa yang berani mencuri di rumah maling? Selama ini memang belum pernah mereka alami.
Semua penduduk desa ini mengetahui mereka adalah keluarga maling, yang hidup dari hasil mencuri. Meski Masbuk bolak-balik keluar masuk sel tapi selalu saja bebas. Jangankan cuma maling ternak atau barang berharga di rumah penduduk, pencuri uang negara saja gampang bebas, bahkan kadang tak sempat masuk sel, begitu pikir Masbuk.
Sudah hampir dua puluh tahun – jauh sebelum Sukat lahir tiga belas tahun lalu – Masbuk sudah mantap dengan pekerjaan mencuri sekalipun kadang tak mujur. Masih untung kalau hanya gagal mendapatkan barang curian. Daripada dibekuk warga atau polisi dan harus babak belur?
Selama bertahun-tahun ini baik Masbuk, istri dan anak tunggal mereka tak merasa perlu untuk mengunci rumah mereka. Toh merekalah pencuri di desa ini, manalah ada yang berani memasuki rumah mereka tanpa izin apalagi dengan niat mencuri? Bertemu di pasar pun, sebagian besar ibu-ibu takut untuk mengobrol lama atau sekadar disapa istri Masbuk. Bukan apa-apa. Mereka khawatir rumah mereka menjadi ‘target operasi’ berikutnya. Kadang-kadang Masbuk bangga orang-orang takut pada dirinya.
Kehilangan HP pagi ini membuat Masbuk berpikir kalau bukan Sukat yang mencurinya berarti mereka perlu untuk mengunci pintu depan rumahnya. Tapi istrinya masih menolak.
“Untuk apa, Pak? HP-mu itu mungkin terjatuh atau tertinggal di mana atau lupa kautaruh di mana. Kita cari lagi. Rumah kita tak perlu kunci. Toh tidak ada orang yang berani mencuri di rumah kita.”
“Buktinya sekarang HP-ku hilang di meja. Aku masih yakin HP-ku kuletakkan di sini.” Masbuk menunjuk meja di hadapannya.
Istrinya ngeloyor pergi. Menuju istana utamanya, dapur. Percuma meladeni suaminya yang keras kepala.
Sambil memasak, istri Masbuk juga berpikir-pikir. Sungguh heran mereka kehilangan HP jika masalahnya memang ada yang mencuri. Beda kalau suaminya itu memang lupa meletakkannya di mana.
Keluar dari dapur tidak didapatinya sang suami. Padahal biasanya suaminya itu betah di rumah kalau siang hari. Maklumlah, mengumpulkan energi, memikirkan strategi dari ‘target operasi’ yang mungkin akan dilakukannya malam hari nanti. Dan tentu saja istirahat karena meski tidak beroperasi, malam hari adalah jadwal kerja suaminya. Minimal keliling-keliling mengamati suasana dan situasi.
Masbuk – suaminya itu – toh tidak akan ditangkap begitu saja hanya karena jalan-jalan di malam hari keliling kampung. Tidak ada undang-undangnya orang ditangkap karena jalan-jalan, bahkan sekalipun larut malam. Sekalipun jelas-jelas ia adalah pencuri. Tetapi warga akan waspada di rumahnya masing-masing kalau mereka tahu Masbuk sedang menyisir keadaan. Mereka khawatir salah satu rumah mereka yang akan disanggong.
Keesokan harinya Masbuk marah-marah lagi ketika tidak didapatinya korek api yang biasa dipakainya merokok. Juga dompetnya yang berisi sedikit uang dan beberapa kartu penting serta KTP-nya.
“Aku benar-benar yakin sekarang HP-ku kemarin raib bukan karena aku tak ingat kutaruh di mana tapi memang ada yang mencurinya!” Katanya dengan nada marah.
Istrinya menangkap alamat Masbuk akan mengamuk. Mengamuk dalam kamusnya adalah melampiaskan kemarahan pada anak istri.
“Mana Sukat?!” Suara Masbuk mulai menggelegar.
“Aku tidak tahu, Pak. Sejak tadi malam belum pulang. Pamitnya memang ke langgar dengan teman-temannya. Tapi aku tak mengontrolnya lagi. Bapak juga tahu kan Sukat kadang tak pulang dan tertidur di langgar.”
“Maling kok tidur di langgar?! Laporkan padaku kalau dia datang nanti!” Masbuk bersungut-sungut menuju kamarnya.
Istrinya hanya menghela nafas. Runyam juga tinggal dengan suami dan anak yang kerjanya hanya saling bersungut-sungut dan mencuri. Hhh…
Agak siang Masbuk dibangunkan karena Sukat datang. Tanpa ba-bi-bu lagi Sukat ditempeleng.
Sukat terjajar ke belakang dan berpegangan pada kursi. “Bapak ini ada apa kok tiba-tiba memukulku tanpa alasan?”
“Alasannya jelas! Kamu mencuri dompet Bapak. Kamu mencuri korek api Bapak! Kali ini tidak usah mungkir lagi kamu! Cepat kembalikan. Uangnya boleh kamu ambil!” Masbuk mengulurkan tangannya.
“Bapak ini ngawur! Aku tidak mencuri barang-barang yang Bapak sebutkan itu! Untuk apa aku mencuri milik Bapakku sendiri?”
“Kalau bukan kamu siapa lagi? Di rumah ini cuma kita bertiga. Ibumu tak mungkin. Lagi pula tadi malam kamu tidur dimana tak pulang?”
“Aku melakukan yang disuruh Bapak beberapa hari yang lalu. Bukannya Bapak menyuruhku untuk mengamat-ngamati rumah Pak Karto? Ya kulakukan itu semalam.”
“Kamu selalu punya alasan! Sekarang mana dompetku?!” Masbuk mulai berang lagi.
“Pak! Bapak ini ngotot! Aku benar-benar tidak mencurinya!” Sukat juga marah.
“O la la…! Kalian ini bapak dan anak sama saja! Ya sama-sama ngotot ya sama-sama teriak maling! Sudah! Kamu sekarang bersumpah kalau memang tidak mencurinya. Kalau kamu mencurinya kamu kembalikan sekarang juga!” Istri Masbuk menoleh pada anaknya.
“Siapa yang percaya pada sumpahnya maling?” Masbuk mencibir anaknya.
“Tidak peduli! Semoga aku dimakan harimau kalau aku yang mencurinya!” Teriak Sukat.
“Sumpah kok dimakan harimau? Sumpah tahi!”
Tak peduli apa yang dikatakan bapaknya Sukat keluar setelah membanting pintu depan.
Beberapa malam Sukat tak pulang.
Sejak itu rumah mereka dikunci. Dan mereka tidak pernah kehilangan barang lagi.
Juwairiyah Mawardi, cerpenis perempuan kelahiran Sumenep Madura. Cerpennya terkumpul dalam antologi tunggal Mati Tua (2021) dan Perbincangan Tentang Pihak Ketiga (2024). Tinggal di FB dan IG Joe Mawar. Alamat : Blajud Karduluk Pragaan Sumenep

