Image Slider

Membungkam Retorika dengan Dalih Tak Tahu Etika

ADVERTISIMENT

Oleh: Moh. Ilham Alfarsi*

Salah satu realitas paling aneh dalam sejarah akademis pondok pesantren di beberapa daerah (Madura, khususnya) kuatnya doktrin moralitas yang cendrung dituding lebih urgens dan wajib dari pada penjabaran teori dan logika ilmiah antara santri dan guru terlebih jika disuguhkan dalam bentuk kritik dan sanggahan argumentatif (𝘐’𝘵𝘪𝘳𝘰𝘥𝘭 :𝘋𝘦𝘣𝘢𝘵). 

Alih-alih 𝘚𝘶-𝘶𝘭 𝘈𝘥𝘢𝘣, kalangan santri dan pelajar seringkali didoktrin untuk diam dan meng-iyakan semua asumsi dan argumentasi dari figur seorang guru atau kiai dan menjunjung tinggi moralitas dalam situasi apapun. Setidaknya prinsip itu masih dianggap sebagai refleksi pengamalan 𝘈𝘭-𝘈𝘥𝘢𝘣 𝘍𝘢𝘶𝘲𝘰𝘭 𝘐𝘭𝘮𝘪 yang masih eksis dijadikan referensi hingga saat ini.

Hal ini menjadi sangat realistis jika dilihat pada momen sidang Bahtsul Masa-il dibeberapa pondok pesantren atau lembaga-lembaga tertentu yang sering kali berakhir tragis di tangan perumus atau bahkan moderator saja, selebihnya tidak satupun diperkenankan menyampaikan intrupsi ataupun adu argumen yang distigma sebagai tindak arogansi terhadap pihak Musohhih, tentunya hal itu menjadi sangat kontras dengan realitas Bahtsul Masa-il daerah Jawa dan beberapa pondok ternama yang mempriorotaskan kualitas intelektual pelajar lewat doktrin sikap kritis dan merangsang insting dialektik mereka dengan sajian sesi adu argumen yang cukup antara pelajar dan Kiai ataupun Musohhih.

𝙏𝙧𝙖𝙘𝙠 𝙍𝙚𝙘𝙤𝙧𝙙 𝙆𝙤𝙣𝙩𝙧𝙤𝙫𝙚𝙧𝙨𝙞 𝙎𝙖𝙡𝙖𝙛𝙞 𝘿𝙖𝙧𝙞 𝙈𝙖𝙨𝙖 𝙆𝙚𝙢𝙖𝙨𝙖

Secara historis, sejarah mencatat banyak sekali kasus kontroversi dan silang argumentasi antara guru dan murid, orang tua dan anak bahkan antara ulama berkelas dimasanya, salah satunya adalah kisah perdebatan antara Imam Syafi’i dan gurunya Imam Malik perihal 𝘵𝘢𝘸𝘢𝘬𝘬𝘢𝘭 tak harus dibarengi 𝘪𝘬𝘩𝘵𝘪𝘺𝘢𝘳 , perdebatan alot itu berawal dari silang interpretasi hadis 

لَوْ أَنَّكُمْ تَوَكَّلْتُمْ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ، تَغْدُوا خِمَاصاً وَتَرُوْحُ بِطَاناً

Kisah lain yang tak kalah menarik adalah komentar-komentar pedas Imam Haromain atas karya-karya Guru beliau Imam Al-Juwaini yang masih berstatus sebagai ayah kandung, salah satu kutipan koreksi beliau pada asumsi Imam Al-Juwaini adalah.

هذه زلة أو فلتة أو غلطة من الشيخ

“𝘗𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯, 𝘬𝘦𝘵𝘦𝘭𝘦𝘥𝘰𝘳𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘨𝘶𝘳𝘶 𝘬𝘢𝘮𝘪”

Sejarah yang sama juga terjadi antara Imam Al-Bulqini dengan gurunya Imam Ibnu Hajar Al-‘Asqolani, kontroversi antara keduanya semakin memanas, dan klimaksnya saat masing-masing menuliskan sebuah karya khusus mengkritik dan menyudutkan antara satu sama lain.

Ada lagi kontroversi yang terjadi antara Imam Ats-sauri dan gurunya Ibnu Abi Laila yang menyebabkan keduanya tidak saling bertegur sapa hingga Ibnu Abi Laila wafat, bahkan Ats-sauri menolak untuk melayat dan menghadiri prosesi pemakamannya.

Masih banyak lagi sejarah kontroversi yang terjadi antara ulama-ulama ternama lantaran berbeda argumentasi namun semata-mata untuk menjaga validitas Hukum Islam antara yang Benar dan yang Salah menurut argumentasi masing-masing.

𝘽𝙚𝙣𝙖𝙧𝙠𝙖𝙝, 𝙁𝙞𝙜𝙪𝙧 𝙐𝙡𝙖𝙢𝙖 𝙏𝙖𝙠 𝙀𝙩𝙞𝙨 𝘿𝙞𝙠𝙧𝙞𝙩𝙞𝙨𝙞?

Etika sejak awal distigma lebih prinsipil oleh beberapa kalangan dari pada menjaga autentisitas Hukum Islam dan merawatnya agar tetap sesuai dengan teori salaf dan konsisten pada Manhaj, propaganda semacam ini cukup mudah diterima dikalangan masyarakat dan orang-orang idealis terlebih dengan argumentasi yang cukup berlandasan, salah satunya adalah 𝘈𝘭-𝘈𝘥𝘢𝘣 𝘍𝘢𝘶𝘲𝘰𝘭 𝘐𝘭𝘮𝘪 (𝘦𝘵𝘪𝘬𝘢 𝘫𝘢𝘶𝘩 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘐𝘭𝘮𝘶)

Padahal landasan itu tidak memiliki konotasi sebagaimana yang mereka asumsikan apalagi sampai melegitimasi asumsi, propaganda dan budaya yang mereka anut dan yakini.

Syaikh Sulaiman Al-Kurdi dalam Al-Fawa-id nya dengan tegas mengapresiasi segala bentuk kritikan dan sanggahan dari satu pihak ke pihak yang lain atas dasar keagamaan.

(فصل: الانتقاد لإظهار الصواب ممدوح في الشرع) وأعلم أنه ليس من التنقيص المذموم اعتراض بعض العلماء على بعضهم ، وتغليطهم في بعض مقالاتهم ، فإن ذلك أمر ممدوح في الشرع لإظهار الصواب

“(𝘉𝘢𝘣 : 𝘔𝘦𝘯𝘨𝘦𝘤𝘢𝘮/ 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴𝘪 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘦’𝘢𝘵). 𝘗𝘦𝘳𝘭𝘶 𝘥𝘪𝘧𝘢𝘩𝘢𝘮𝘪 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘯𝘥𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘺𝘨 𝘥𝘪𝘭𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘢’ 𝘬𝘦𝘤𝘢𝘮𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘣𝘢𝘯𝘵𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘢𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘱𝘦𝘳𝘣𝘶𝘢𝘵𝘢𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘥𝘪𝘢𝘱𝘳𝘦𝘴𝘪𝘢𝘴𝘪 𝘚𝘺𝘢𝘳𝘦’𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘮𝘪 𝘮𝘦𝘯𝘶𝘯𝘫𝘶𝘬𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘢𝘯.”

Fakta yang dituding tidak etis itu justru diklaim sebagai anugrah luar biasa dan kebanggan ulama salaf yang patut disyukuri, sebagaimana statement Imam Ar-Rofi’ie,

من لطف الله تعالى على هذه الأمة وما خصها به من الكمالات، ان علماءها لا يسكتون على غلط غيرهم وعن بيان حالهم ، وإن كان ألمعترض عليه والدا فضلا عن غيره

“𝘛𝘦𝘳𝘮𝘢𝘴𝘶𝘬 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘢𝘯𝘶𝘨𝘳𝘢𝘩 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘦𝘪𝘴𝘵𝘪𝘮𝘦𝘸𝘢𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘧𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘢𝘬𝘵𝘪𝘧 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘰𝘳𝘰𝘵𝘪 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨-𝘮𝘢𝘴𝘪𝘯𝘨, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘴𝘬𝘪 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘶𝘢 𝘬𝘢𝘯𝘥𝘶𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘢𝘪𝘯.”

Statement serupa juga pernah ditegaskan oleh Ibnu Hajar dalam Mu’jamus Syuyukh nya;

وهذا الذي أتحف الله به هذه الأمة من عدم سکوت أحد منهم على خلة رآها في غيره حفظ الله هذه الشريعة من التغيير والتبديل، وكانت معصومة عن الخطأ، وكان إجماعها حجة قطيعة لا يتطرق إليه ريب ولا شك بوجه من الوجوه. بخلاف غيرها من الأمم؛ فإنهم تمالؤوا وتطابقوا على أن بعض علمائهم لا ينكر على بعض، وأن كل من كتم شيئا من الأمور الشرعية التي جاءت إليهم بها رسلهم وأنبياؤهم، أو غيره وبدله، أو أخذ عليه رشوة من ضعفائهم وأتباعهم؛ لا يتعرض أحد من بقية علمائهم إليه، فلما تطابقوا على ذلك تغيرت مللهم 

“𝘚𝘪𝘬𝘢𝘱 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘴 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘯𝘶𝘨𝘳𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘜𝘮𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘵𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢𝘮 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘮𝘦𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘤𝘢𝘳𝘢 𝘈𝘭𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘚𝘺𝘢𝘳𝘦’𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘥𝘢𝘬 𝘥𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘴𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘦’𝘢𝘵 𝘐𝘴𝘭𝘢𝘮 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘣𝘦𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘬𝘦𝘬𝘦𝘭𝘪𝘳𝘶𝘢𝘯 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘰𝘯𝘴𝘦𝘯𝘴𝘶𝘴 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮𝘯𝘺𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘭𝘢𝘯𝘥𝘢𝘴𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘵𝘦𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘥𝘪𝘳𝘢𝘨𝘶𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘦𝘥𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘧𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘶𝘮𝘢𝘵 𝘵𝘦𝘳𝘥𝘢𝘩𝘶𝘭𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘩𝘢𝘬 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘱𝘢𝘬𝘢𝘵 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘣𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘪𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘪𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘢𝘫𝘢𝘳𝘢𝘯 𝘴𝘺𝘢𝘳𝘦𝘢𝘵 𝘺𝘨 𝘥𝘪𝘣𝘢𝘸𝘢 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘯𝘢𝘣𝘪 𝘥𝘢𝘯 𝘳𝘢𝘴𝘶𝘭, 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘣𝘶𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘪𝘴𝘵𝘰𝘳𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘱 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘮𝘢𝘩 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘢𝘳𝘢 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘪𝘬𝘶𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘰𝘭𝘦𝘩 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘦𝘯𝘥𝘪𝘳𝘪, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘫𝘢𝘬 𝘪𝘵𝘶𝘭𝘢𝘩 𝘢𝘨𝘢𝘮𝘢 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘣𝘦𝘳𝘶𝘣𝘢𝘩.

Hal ini sangat rasional, karena tidak ada satupun yang benar-benar tidak boleh dibantah kecuali baginda Nabi Muhammad SAW, Imam Malik sebagaimana dikutip Al-Hafidz As-Sakhowi dalan Al-Maqosid nya sudah sejak lama menegaskan 

مَا مِنْ أَحَدٍ إلَّا مَأْخُوذٌ مِنْ قَوْلِهِ وَمَرْدُودٌ عَلَيْهِ إلَّا صَاحِبَ هَذَا الْقَبْرِ يَعْنِي النَّبِيَّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ 

“𝘛𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘶𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘥𝘪𝘢𝘥𝘰𝘱𝘴𝘪 𝘢𝘵𝘢𝘶 𝘥𝘪𝘴𝘢𝘯𝘨𝘨𝘢𝘩 𝘢𝘴𝘶𝘮𝘴𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘬𝘦𝘤𝘶𝘢𝘭𝘪 𝘴𝘰𝘴𝘰𝘬 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘥𝘢 𝘥𝘪𝘥𝘢𝘭𝘢𝘮 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 (𝘕𝘢𝘣𝘪 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥 𝘚𝘈𝘞)”

Imam Al-Ghozali dalam Ihya’nya menyanjung respek ulama terdahulu dan semangat kritik antara sesama bahkan dihadapan publik sekalipun

أن امرأة ردت على عمر رضي الله عنه ونبهته على الحق وهو في خطبته على ملأ من الناس فقال أصابت امرأة وأخطأ رجل وسأل رجل علياً رضي الله عنه فأجابه فقال ليس كذلك يا أمير المؤمنين ولكن كذا كذا فقال أصبت وأخطأت وفوق كل ذي علم عليم

“𝘚𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘯𝘵𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘺𝘢𝘵𝘢𝘢𝘯 𝘚𝘢𝘺𝘺𝘪𝘥𝘪𝘯𝘢 𝘜𝘮𝘢𝘳 𝘙𝘈 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘪𝘯𝘨𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, 𝘱𝘢𝘥𝘢𝘩𝘢𝘭 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘯𝘦𝘭𝘢𝘬𝘴𝘢𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘒𝘩𝘶𝘵𝘣𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘩𝘢𝘥𝘢𝘱𝘢𝘯 𝘱𝘶𝘣𝘭𝘪𝘬, 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣; 𝘒𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘸𝘢𝘯𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘥𝘢𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘗𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘫𝘶𝘨𝘢 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘢𝘯𝘺𝘢𝘪 𝘚𝘢𝘺𝘺𝘪𝘥𝘪𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘪 𝘙𝘈 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶𝘱𝘶𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘯𝘺𝘢, 𝘯𝘢𝘮𝘶𝘯 𝘱𝘳𝘪𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘦𝘨𝘶𝘳 𝘫𝘢𝘸𝘢𝘣𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘭𝘪𝘢𝘶; 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘵𝘶 𝘸𝘢𝘩𝘢𝘪 𝘈𝘮𝘪𝘳𝘶𝘭 𝘔𝘶’𝘮𝘪𝘯𝘪𝘯, 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘣𝘦𝘨𝘪𝘯𝘪.., 𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘚𝘢𝘺𝘺𝘪𝘥𝘪𝘯𝘢 𝘈𝘭𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘢𝘵𝘢; 𝘒𝘢𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳, 𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩. 𝘉𝘦𝘯𝘢𝘳𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢𝘵𝘢𝘴 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘩𝘦𝘣𝘢𝘵”

Bahkan dibagian akhir kajiannya, Ibnu Hajar Al-Haitami dalm Mu’jamus Syuyukhnya kembali menegaskan betapapun ekstrim nya sikap kritis yang terjadi antara satu ulama dengan yang lainnya atau bahkan terkesan arogan, itu semua adalah refleksi kepedulian mereka terhadap agama dan perinsip keagamaan yang patut dibanggakan.

فتأمل ذلك كله فإنه نفيس مهم . وبهذا يسهل عندك ما يقع بين علماء هذه الأمة من الاعتراض و التغليطات والتجريحات ، كفلان فاسق ، وفلان مبتدع ، وفلان كذاب . 

“𝘊𝘦𝘳𝘮𝘢𝘵𝘪𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘢𝘭𝘪𝘵𝘢𝘴 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘤𝘢𝘮 𝘪𝘵𝘶 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘩𝘢𝘳𝘨𝘢 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘱𝘦𝘯𝘵𝘪𝘯𝘨, 𝘴𝘦𝘩𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢 𝘢𝘯𝘥𝘢 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘮𝘢𝘬𝘭𝘶𝘮𝘪 𝘧𝘢𝘬𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘫𝘢𝘥𝘪 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢-𝘶𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘜𝘮𝘢𝘵 𝘔𝘶𝘩𝘢𝘮𝘮𝘢𝘥, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘬𝘳𝘪𝘵𝘪𝘬, 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘢𝘭𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯, 𝘥𝘢𝘯 𝘴𝘢𝘭𝘪𝘯𝘨 𝘮𝘦𝘯𝘤𝘦𝘭𝘢 𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘮𝘢 𝘭𝘢𝘪𝘯, 𝘴𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪 𝘚𝘪 𝘍𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘴𝘪𝘲, 𝘚𝘪 𝘍𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘓𝘪𝘣𝘦𝘳𝘢𝘭, 𝘚𝘪 𝘍𝘶𝘭𝘢𝘯 𝘗𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘭”

Maka dengan demikian, statement bahwa etika selalu lebih penting dari segalanya bukanlah hal yang keliru, namun bersikap kritis dalam konteks akademik bukan sikap yang melanggar kode etik apalagi sampai distigmakan sebagai faktor gagalnya ilmu barokah.

*) Penulis adalah Wakil Ketua PC LBM NU Sumenep 2026 – 2031

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga