Lenteng, NU Online Sumenep
KH Mudarris Abdul Wahab menuturkan bahwa salah satu bentuk kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW adalah meneladani akhlaknya yang luar biasa.
Hal tersebut disampaikannya saat mengisi mauidhah hasanah dalam acara Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW di Pondok Pesantren Al-Azizy As-Salafy, Lembung Barat, Lenteng, Sabtu (22/08/2026).
Selain meneladani akhlak Nabi, Kiai Mudarris menekankan pentingnya mencintai ulama. Ia mengingatkan bahwa ulama merupakan pewaris para nabi. Oleh karena itu, kecintaan kepada ulama menjadi salah satu bentuk upaya meningkatkan kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Tingkatkan cinta kepada Nabi dengan bukti cinta kepada ulama karena ulama pewaris para nabi,” tuturnya.
Dalam ceramahnya, Kiai Mudarris menyampaikan bahwa pelaksanaan Maulid Nabi merupakan salah satu bentuk menampakkan kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
“Diadakan Maulid Nabi merupakan tanda menampakkan bahagia atas lahirnya Nabi,” ungkap Kiai Mudarris.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Falah Pamekasan ini menjelaskan, kehadiran Nabi Muhammad SAW membawa tuntunan dan syariat yang menjadi pedoman bagi umat Islam.
“Dengan adanya Nabi, maka ada perintah shalat, zakat, puasa, dan haji,” jelasnya.
Menurut Kiai Mudarris, kehadiran Nabi Muhammad SAW juga menjadi sebab umatnya mendapatkan kebahagiaan.
“Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah tidak cukup hanya diungkapkan dengan lisan, tetapi perlu dibuktikan melalui perilaku dan keteladanan,” tandasnya.
Lebih lanjut, Kiai Mudarris mengajak jamaah untuk senantiasa menghadiri majelis pengajian dan berkumpul dengan para ulama.
“Majelis ilmu menjadi tempat untuk memperkuat pengetahuan agama sekaligus membangun lingkungan yang dapat membantu seseorang menjaga akhlak dan keimanan,” lanjutnya.
Wakil Katib PCNU Pamekasan ini juga mengingatkan pentingnya memperbanyak membaca shalawat kepada Nabi Muhammad SAW.
“Ikut majelis pengajian, berkumpul dengan ulama, perbanyak membaca shalawat agar kita mulia di dunia dan di akhirat,” ajaknya.
Di akhir ceramahnya, Kiai Mudarris turut menyampaikan pesan terkait adab ketika pelaksanaan shalawat qiyam.
“Air yang disuguhkan ketika qiyam tidak boleh digunakan untuk mencuci tangan, tetapi harus diminum sebagai bentuk penghormatan dan tabarruk, karena air tersebut memiliki nilai seribu kebaikan yang besar,” pungkasnya.

