Gapura, NU Online Sumenep
Di acara Peringatan Hari Lahir (Harlah) NU ke-98 dan Pelantikan Pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kecamatan Gapura Masa Khidmat 2021-2026 pada Sabtu (27/3/2021), KH. Imam Hendriyadi, Wakil Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep menyampaikan beberapa hal tentang pentingnya menjalankan amanah dengan baik dan totalitas.
Awal mula, Pimpinan Pondok Pesantren Al-Ifadah Desa Cangkreng Kecamatan Lenteng Kabupaten Sumenep itu menceritakan kisah Rasulullah SAW yang sedang menyampaikan tausiyah kepada para Sahabat. Di sela-sela Baginda Rasul menyampaikan tausiyah, kemudian ada salah seorang yang bertanya kepada beliau tentang waktu datangnya hari kiamat.
“Ada satu kisah yang penting untuk kita ketahui bersama. Suatu ketika di saat Baginda Rasul Muhammad SAW menyampaikan tausiyah kepada para sahabat, tiba-tiba ditengah pembicaraan, seorang A’Rabi (orang Arab, red.) bertanya tentang kapan waktunya kiamat,” ujarnya.
Mendengar cerita tersebut, hadirin yang memenuhi ruangan Aula Aswaja Lantai II MWCNU Gapura itu seketika terdiam mendengarkan dengan seksama kisah yang akan dilanjutkan oleh Kiai Imam, sapaan akrab beliau.
“Ya Rasulallah, kapan waktunya kiamat tiba?,” ungkap beliau menceritakan pertanyaan seorang A’Rabi itu kepada Baginda Rasul.
Namun demikian, karena saat itu Baginda Rasul sedang menyampaikan tausiyah, membuat pertanyaan yang dilontarkan oleh salah seorang A’Rabi itu tidak ditanggapi. Sang Rasul tetap meneruskan ceramahnya dan tidak menghiraukan.
“Beberapa ulama menyebutkan bahwa Baginda Rasul tidak menanggapi pertanyaan seorang A’Rabi itu karena tidak mendengar sebab pembicaraan sedang berlangsung. Sebagian ulama lainnya juga menyebutkan bahwa Baginda Rasul memang sengaja tidak merespon sampai beliau selesai menyampaikan tausiyah,” ungkap Kiai Imam.
Setelah Baginda Rasul mengakhiri penyampaian tausiyahnya, kemudian pandangan dan arah pembicaraan dialihkan kepada salah seorang A’Rabi yang tadi sempat memotong pembicaraan dengan pertanyaan kapan waktu kiamat tiba.
“Dimana ya sepertinya tadi ada yang bertanya?,” kata Baginda Rasul dissmpaikan Kiai Imam.
Kala itu, Baginda Rasul langsung menjawab. Dengan nada rendah khasnya, Kiai Imam menyampaikan jawaban Baginda Rasul kepada seorang A’Rabi yang masih bertanya-bertanya itu.
“Apabila amanat sudah disia-siakan, maka tunggulah saatnya kehancuran,” ungkap Kiai Imam, menyampaikan jawaban Baginda Rasul kepada seorang A’Rabi.
Tidak berhenti sampai di situ, Mantan Katib PCNU Sumenep Masa Khidmat 2015-2020 itu meneruskan kisah salah seorang A’Rabi yang masih belum puas dengan jawaban Rasulullah. Karena, menurut beliau, seorang A’Rabi tersebut memiliki daya kritis yang cukup kuat.
“Seorang A’Rabi ini rupayanya agak kritis. Kemudian ia kembali bertanya kepada Baginda Rasul. Kapan amanat itu disia-siakan?,” imbuhnya.
Kemudian, Kiai Imam melanjutkan kisah itu dengan menyampaikan jawaban Baginda Rasul.
“Apabila urusan umat diserahkan kepada umat yang bukan ahlinya. Maka tunggulah saatnya kehancuran,” ungkap beliau menceritakan.
Dari penggalan kisah Baginda Rasul tersebut, Kiai Imam bermaksud untuk menyampaikan pesan kepada segenap pengurus MWCNU Gapura yang baru saja resmi dilantik. Bahwa amanah untuk menjalankan tugas dan tanggungjawab harus diberikan kepada ahlinya. Agar roda organisasi bisa dijalankan dengan baik..
“Dari penggalan kisah Baginda Rasul itu, kalam-nya adalah kalam khabari. Paling tidak sebagai isyarat dan pengajaran kepada kita semua bahwa kalau diberikan amanah jangan sampai menyia-nyiakan. Sebab akan berdampak kepada hancurnya sebuah tatanan organisasi,” ungkap beliau mengingatkan.
Agar amanah bisa dijalankan dengan baik, dan organisasi bisa bergerak aktif dan bahkan berkemajuan, maka, menurut Kiai Imam, amanah harus diserahkan kepada yang memang ahli di bidangnya.
“Jangan sampai yang tidak paham komputer, tidak tahu ngetik, malah diberikan amanah sebagai sekretaris. Yang tidak paham keuangan malah diberikan amanah sebagai bendahara. Ini bisa berbahaya, dan jika sampai terjadi, maka tunggulah saatnya kehancuran,” sergahnya.
Jika amanah sudah diberikan kepada yang memang ahli di bidangnya, maka setelah itu semua harus mampu membangun solidaritas yang kuat di internal kepengurusan. Tugas pokok dan fungsi (tupoksi) harus dijalankan oleh semua.
“Di NU itu harus diisi oleh orang-orang yang memiliki skill dan kemampuan yang mumpuni di bidang-bidang tertentu, sehingga tugas-tugas ke-NU-an bisa dijalankan dengan baik,” pintanya kepada segenap pengurus MWCNU Gapura.
Meski begitu, pihaknya optimis bahwa NU di Gapura akan mampu mengemban amanah dengan sebaik mungkin. Karena tokoh-tokoh NU di Gapura, menurut beliau, sangat luar biasa.
Editor: Firdausi

