Giliraja, NU Online Sumenep
Lebih dari seminggu santri Pondok Pesantren Nurul Islam Karangcempaka Bluto menjalani masa liburan menjelang Ramadlan 1422 H, dimulai sejak hari Selasa 6/4/2021 hingga hari Kamis 15/4/2021. Selama liburan berlangsung. Sebagian besar santri Nurul Islam terlibat dalam kepanitiaan Pekan Seni dan Literasi pada satu komunitas Kontag (Komunitas Taretan Giliraja).
Hari ini, Kamis 15/4/2021, tiba saatnya mereka para santri untuk kembali ke pondok pesantren asuhan KH. Moh. Ramdlan Siraj mantan Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Sumenep.
Mereka akan menjalani program kegiatan Ramadhan In Campus (RIC), program khusus ramadhan yang diisi dengan bimbingan baca kitab kuning, praktik baca tulis Alquran, bimbingan dan praktik ibadah serta akhlak (budi pekerti).
Sehubungan dengan jadwal kembalinya santri Pondok Pesantren Nurul Islam yang telah menjalani masa liburan menjelang ramadhan, Ustadz Mathlub Anshori, Kepala Madrasah Aliyah Nurul Islam Karangcempaka Bluto berharap agar santri yang berasal dari Giliraja langsung kembali ke pondok, dari pelabuhan Kapedi atau Cangkarman langsung menuju pondok, ia mewanti-wanti agar santri tidak mampir kemana-mana.
“Saya berharap kepada santri Nurul Islam yang mau balik ke pondok, khususnya yang berasal dari Giliraja, hendaknya langsung menuju pondok, dari pelabuhan tidak boleh keluyuran kemana-mana. Terutama bagi santri putri, ini untuk menghindari fitnah”, ujar pri yang juga aktif sebagai Pengurus Cabang (PC) Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (Pergunu) Sumenep ini, saat dihubungi via WhatsApp pada Rabu malam (14/4/2021).
Lebih lanjut, Mathlub panggilan akrabnya, pria kelahiran Desa Banmaleng Giliraja ini meminta kepada santri Pondok Pesantren Nurul Islam supaya betul-betul memanfaatkan momentum ramadlan di pondok dengan baik, mengikuti kegiatan Ramadlan in Campus secara sungguh-sungguh.
Sementara itu, A. Rofik, guru Madrasah Tsanawiyah (MTs.) Nurul Islam Karangcempaka, meminta kepada santri Nurul Islam agar cepat beradaptasi dengan kegiatan pondok serta istiqamah membaca Al-Qur’an khususnya selama bulan ramadhan.
“Saat kembali ke pondok, diharapkan semua santri segera dapat menyesuaikan dengan kegiatan di pondok khususnya kegiatan RIC. Istiqamah mengaji Al-Qur’an sampai khatam berkali-kali selama Ramadhan dan mengikuti pengajian kitab khusus RIC jangan sampai absen,” ungkap A. Rofik, pria asal Giliraja yang saat ini dipercaya menjadi Ketua Satuan Koordinasi (Sako) Pramuka Maarif NU Sumenep.
Sisi lain dari itu, sejumlah santri asal Pulau Giliraja yang hendak kembali ke pesantren harus melalui Pelabuhan Giliraja untuk bisa sampai Pelabuhan Cangkarman/Kapedi. Untuk tiba di pelabuhan Cangkarman/Kapedi, satu penumpang perahu dari Giliraja-Cangkarman harus menyiapkan uang sebesar Rp. 17.000.
Kendati demikian, khusus para santri, pihak pengelolan pelabuhan memberikan keringanan harga. Yang semula Rp. 17.000, menjadi Rp. 10.000 saja.
“Kami memberikan potongan harga sebagai wujud berbagi untuk santri yang akan kembali ke pondok, mereka akan menuntut ilmu dan itu harus didukung oleh semua pihak, termasuk oleh kami selaku paguyuban pengelola pelabuhan Tanggek ini”, ujar Moh. Syadali, juru tagih pembayaran jasa angkutan perahu Giliraja-Cangkarman.
Menurut pria yang juga Ketua Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (PRNU) Banbaru, bahwa santri menyambut positif dan merasa senang dengan adanya subsidi atau potongan ongkos jasa angkutan perah tersebut. Mereka berterima kasih kepada pihak paguyuban yang telah memberikan potongan ongkos jasa angkutan perahu.
Salah satunya diungkapkan oleh Diatut Tamilah ketika diwawancarai sesaat sebelum menaiki perahu. Dirinya menyampaikan terimakasih. Bukan hanya soal potongan harga. Melainkan kepedulian dari berbagai pihak kepada para santri adalah wujud dukungan dan kepercayaan untuk terus menuntut ilmu.
“Mewakili teman-teman santri Nurul Islam Karangcempaka Bluto, saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pihak paguyuban pengelola pelabuhan Tanggek. Potongan harga atau ongkos perahu sebisa mungkin terus diberlakukan kepada setiap santri yang mondok, entah karena liburan atau pulang karena ada kebutuhan lainnya” ucap Diatut Tamilah, santri putri asal dusun Billa Karamat desa Banbaru Giliraja.
Hasil pantauan Kontributor NU Online Sumenep untuk Pulau Giliraja, santri Nurul Islam Karangcempaka Bluto yang akan kembali ke pondok, kebanyakan dari mereka memilih berangkat dari pelabuhan Tanggek Desa Banbaru, meski tak menutup kemungkinan sebagian kecil santri memilih jalur pelabuhan Cangcang Desa Lombang, Pelabuhan Seorep Desa Banmaleng dan Pelabuhan Bundejeh Desa Banmaleng.
Sebagian santri putri diantar oleh wali atau familinya, sebagian lainnya dititipkan kepada santri yang lebih senior. Hingga tiba di pondok pesantren untuk mengikuti kegiatan Ramadlan In Campus tersebut.
Editor: Abdul Warits

