Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Musim tembakau telah tiba. Sejak bulan Mei 2021 lalu, para petani mulai menggarap lahannya guna mempersiapkan tanam tembakau. Meski di tahun sebelumnya mereka dirisaukan dengan harga jual yang tak bersahaja, namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat para petani untuk mencoba kembali.
Dalam beberapa tahun ini, petani selalu dihantui dengan harga tembakau yang anjlok. Modal yang dikeluarkan tidak sebanding dengan hasil yang didapatkan. Bahkan tidak jarang mereka mengalami kerugian yang besar.
Menyikapi hal itu, Serikat Pemuda Guluk-Guluk menggelar acara ‘Nyator Bhako’ dengan tema Melihat Masa Depan Petani Tembakau, pada Sabtu (12/6/2021) kemarin. Hal ini dilakukan sebagai langkah preventif agar petani tidak lagi dirisaukan dengan hasil panen yang rugi.
Moh. Faiq, Ketua Umum Serikat Pemuda Guluk-Guluk menuturkan bahwa sejak awal berbagai upaya dilakukan oleh para petani, rakyat, dan aktivis untuk menyuarakan agar segera diterbitkan kebijakan yang benar-benar memihak kepada rakyat, yakni petani. Bukan pemodal.
Akan tetapi usaha tersebut belum sepenuhnya sesuai harapan. Ketika musim panen tiba, petani masih saja diresahkan dengan harga tembakau yang sangat murah.
“Sayangnya, suara dari rakyat, petani dan aktivis itu tak ada balasan bagai debu dihempas angin di tengah jalan, sengaja dihempaskan,” ungkapnya sesal.
Di tahun ini, upaya kembali dilakukan dengan menggelar acara tersebut. Pria yang akrab disapa Faiq itu juga mendatangkan salah seorang anggota Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sumenep, Irwan Hayat.
Acara yang berlangsung di Scout Cafee Simpang Tiga Kemisan Guluk-Guluk ini juga melibatkan berbagai komunitas kepemudaan serta perwakilan dari masyarakat dan petani di Kecamatan Guluk-Guluk.
Faiq menambahkan bahwa diskusi yang langsung melibatkan pihak pemangku kebijakan itu ditujukan agar aspirasi masyarakat dapat diserap untuk kemudian ditindaklanjuti melalui regulasi Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) yang lebih memihak terhadap kepentingan petani.
“Memang itu (nasib petani tembakau) yang sedang kami kawal, kebijakan dan Raperda tembakau. Karena selama ini regulasinya tidak jelas. Dari ini kami berharap suara petani dapat diserap dan ditindaklanjuti sehingga harga tembakau tidak lagi murah seperti tahun-tahun sebelumnya,” imbuhnya.
Sementara itu, Kiai Muhammad Affan Adhim, Dewan Pembina Serikat Pemuda Kecamatan Guluk-Guluk turut menyayangkan nasib yang bertahun-tahun menimpa para petani tembakau. Meski berbagai upaya telah dilakukan oleh rakyat dan para aktivis namun hal itu belum menuai hasil.
“Jika dulu, petani tembakau mampu membuat dan memperbaiki rumah, namun dalam beberapa tahun terakhir petani mengalami kondisi yang kurang baik, kadang hasil yang di dapat seimbang antara modal dan pendapat, dan ada pula yang rugi,” ungkap Masyaikh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep itu.
Lebih jauh, Irwan Hayat, Anggota Komisi II DPRD Kabupaten Sumenep menjelaskan bahwa harga tembakau yang selama ini anjlok disebabkan karena pemerintah tidak bisa menentukan harga dan bahkan tidak bisa mengintervensi korporasi.
“Apalagi tembakau tidak masuk pada kebutuhan pokok masyarakat seperti padi, jagung dan kebutuhan pokok lainnya. Akan tetapi pemerintah saat ini tengah merancang dan mengupayakan sebuah regulasi khusus tembakau,” ujarnya.
Sekretaris Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) DPRD Kabupaten Sumenep itu menambahkan bahwa Raperda untuk tembakau memang telah disiapkan. Namun pihaknya memastikan dalam proses pembahasannya tidak terburu-buru agar nanti benar-benar bernilai dan tepat sasaran sesuai yang dibutuhkan rakyat.
“Sekalipun perda tersebut masih menemukan titik buntu, dikarenakan dalam mengesahkan tidak terburu-buru supaya nanti benar-benar bernilai,” pungkasnya.
Pewarta: Qariatul Hasanah
Editor: Ibnu Abbas

