Image Slider

Pacapa Budaya: Ngopeni Lalampan, Ma’alos Tengka, Mabagus Tatakrama

Oleh: Matroni Muserang

Judul di atas sengaja saya jadikan judul tulisan ini karena judul ini yang diangkat pada pertemuan yang gawangi oleh Lesbumi MWCNU Gapura dengan Lesbumi PCNU Sumenep yang dilaksanakan di halaman Madrasah Nurul Anwar desa Andulang, dusun Gunung pada tanggal 13 Juni 2021 yang dihadiri oleh pengurus Banom, IPPNU, IPNU, Ansor, Pagar Nusa dan Pengurus MWCNU Gapura.

Menjaga dan merawat tradisi lokal atau kearifan lokal memang tidak mudah, karena tradisi lokal akan terus berhadapan dengan perubahan dan perkembangan waktu dan zaman, dimana waktu dan zaman itu selalu membawa paradigma baru dan pengalaman baru termasuk ilmu dan pengetahuan baru pula.

Namun di tengah ketidakmudahan menjaga dan merawat bukan kemudian kita sebagai bagian substansial dari tradisi lokal “membiarkan”, akan tetapi terus membaca dengan kritis bagaimana cara menjaga dan merawat tradisi lokal di tengah kepungan gelombang budaya modern yang terus berkembang dan berubah juga kata Kiai Muhammad Affan.

Malam itu diawali dengan mamaca yang baca oleh Kiai Jazuli bab memuji Tuhan dengan lagu Kasmaran, mamaca atau macopat yang dilakoni K. Jazuli sejak tahun 1957 sampai sekarang, namun hal dikhawatirkan oleh Ketua MWCNU Gapura KH. Moh. Alwi siapa yang akan meneruskan macopat ini, meskipun ketika dibacakan memang luar biasa.

Harapan Ketua MWCNU Gapura yaitu bagaimana tetap mempertahankan budaya lokal yang sesuai dengan laku NU, sebab Lesbumi berbeda dengan lembaga lain di bawah MWCNU, artinya ketika saya, kata KH. Moh. Alwi hadir ke acara Lesbumi selalu ingin bahagia.

Budaya lokal memang menjadi instrumen bagi penyebaran agama Islam di Indonesia, oleh karena Lesbumi harus mampu menjaga dan merawat dengan tidak keluar dari garis Aswaja An-Nadhliyah, sebab bukan budaya yang salah tapi kita yang salah memasukkan budaya-budaya orang lain bahkan mencampur-baurkan sehingga tidak jelas mana budaya lokal mana budaya modern.

Tidak akan dikatakan acara Lesbumi, jika acara yang membawa misi kebudayaan dan kesenian itu di isi dengan cekokan-cekokan agama sementara kebudayaanya kering, keseniannya kering, maka yang mampu membuat sejuk itu adalah Lesbumi, oleh Taufiq tampil dengan membawa senandung Sabdawikrama yang salah satu barisnya begini “wahai ulama menjadi pewaris ambiya'” “Sabda wikrama jadi mantra budayanya”. Lalu tentu puisi di sana selalu tersirat dan tersurat seperti yang ditampilkan oleh siswi Mts Nurul Anwar dari Sanggar Tas Taman yaitu Rofiqo dan Farida membaca puisi dengan total sebagai bagian tak terpisahkan dari kebudayaan dan kesenian.

Sementara Pagar Nusa menampilkan salam pembuka Pagar Nusa yang di tutup penghormatan simbol logo NU. Lalu dilanjutkan dengan Pojian bahwa pojian kata K. Quraysyi merupakan pojian yang juga ada Gapura Timur Ba’ bukkol, Dungke’ meskipun ada, tapi ada kalimat yang tak sama tapi maknanya sama yaitu pengakuan hamba, maknanya adalah ketakmampuan hamba memahami teks alqur’an waktu itu, tapi mereka waktu itu memiliki semangat luar biasa untuk menjunjung Tuhan maka diciptakan pojian dengan bahasa sederhana, yaitu dengan bahasa makhluk sekitar kita.

Meskipun acara Pojian ini tidak diletakkan disembarang tempat, dengan ritual misalnya membuat rarampathen taruh ancak, dan tempat tapak dang-dang dengan mengukur kesakralan nya, biasanya simbolnya, bulu kambing, kadang ayam yang sedingkali dianggap bid’ah, padahal ini hanya ekspresi ketakmampuan hamba memahami teks alqur’an. Ada 13 bunyi pojian yang harus dibaca di suarakan dengan keras salah satunya Takdammongnghurjem, he’pehe’, dan lain-lain, bahkan ada cerita minta hujan melalui pojian, tidak shalat istisqa’, kata K. Quraysyi yang saat ini menjabat ketua LazizNU MWC NU Gapura. Itulah yang membuat ketua Lesbumi PCNU Sumenep Kiai Chomaidi dan Kiai Affan menganggap Gapura itu hebat, sehingga Kiai yang dikenal dengan Ca’ Edi agar melanjutkan substansi kesenian dan kebudayaan untuk kemanusiaan.

Oleh karenanya acara Lesbumi sebenarnya diharapkan selalu membawa kebahagiaan dan kedamaian agar menjadi forum nga’-pa enga’ sasarengan, lebih lanjut Kiai Muhammad Affan sebagai Devisi Pengembangan Intelektual berkata bahwa dalam sejarah tradisi lokal segala kesenian hampir garis vertikalnya adalah Ketuhanan, sehingga kesenian di Madura itu sangat sufistik.

Maka wajar ketika Lesbumi harus mampu menjada dan merawat tradisi lokal dengan berbagai cara, tentu cara itu membutuhkan ilmu dan pengetahuan yang tidak gampang, Lesbumi harus mampu melawan perang budaya, kata Penyair Mahendra Cipta sekarang yang terjadi bukan perang fisik tapi perang budaya. Ini penting karena dengan menghilangkan budaya masyarakat bisa dihilangkan kekuatannya, sebab budaya merupakan sebuah kekuatan dari masyarakat itu sendiri, oleh karenanya tugas kita menguatkan kembali nilai-nilai kebudayaan dan kesenian, baik seni dan budaya itu sebagai pengetahuan atau sebagai tingkah laku, bahkan harapan dari devisi Riset Lesbumi PC NU Sumenep Kiai Ons Ornoto harus dimasukkan dan menjadi kurikulum sekolah.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga