Giliraja, NU Online Sumenep
Tasyakkuran kelas akhir yang dikenal dengan Haflatul Imtihan merupakan momentum berbahagia bagi santri yang akan lulus dari sekolah, khususnya di Pulau Giliraja. Beragam seremonial digelar untuk memeriahkan tasyakkuran kelas akhir ini, mulai dari lomba, perkemahan hingga pentas seni dan lepas pisah.
Salah satu lembaga pendidikan di Giliraja menggelar seremonial menjelang Haflatul Imtihan adalah Yayasan Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja, kegiatan tersebut dikemas dengan tajuk Malam Lepas Pisah, berpusat di halaman utama Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja, Rabu (16/06/2021) malam.
Acara yang dihadiri oleh wali santri dan masyarakat umum itu menyuguhkan beberapa acara yang bersifat hiburan dan mendidik, mulai dari mars perpisahan, pembacaan drama puisi, tari tradisional, pemberian hadiah juara kelas, serta pesan dan kesan dari santri kelas akhir.
Pada kegiatan Lepas Pisah khusus unit MI dan MTs, Ustadz A. Rofik, Biro Pendidikan Yayasan Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja berterima kasih kepada wali santri dan meminta kepada santri agar melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi.
“Malam ini, mewakili Pengurus Yayasan, kami ucapkan terima kasih kepada wali santri yang telah percaya kepada Nurul Huda. Kami berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan yang terbaik, tapi inilah batas kemampuan kami bersama teman-teman guru. Harapan besar kami kepada para santri yang telah lulus, silakan adik-adik melanjutkan pendidikan kalian ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi, pendidikan di Nurul Huda ini masih dasar. Jangan pernah lelah untuk belajar, ujar A. Rofik.
Lebih tegas lagi, A. Rofik meminta kepada santri yang telah lulus MTs agar mondok di berbagai pondok luar Giliraja.
“Bagi lulusan MTs dan mempunyai kemampuan secara finansial, upayakan mondok. Silakan pilih pondok sesuai selera dan kemampuan keuangan orang tua kalian. Kalau memang betul-betul tidak mampu secara ekonomi untuk mondok atau melanjutkan studi di luar Giliraja, silakan pilih lembaga pendidikan MA/SMK yang ada di Giliraja, ada Nurul Ulum Banmaleng, Al-ariel Jate, Assa’eyah Jate dan Nurul Hikmah Lombang. Insyaallah di sana banyak alumni Nurul Huda yang menjadi pengelola dan pengajar, jadi sanad keilmuan masih tetap nyambung,” tambahnya.
Selanjutnya, pria yang saat ini sedang menjadi Ketua Satuan Koordinasi (Sako) Pramuka Maarif NU Sumenep ini mewanti-wanti kepada santri yang telah menyelesaikan studinya agar tetap menjaga akhlak dan mengamalkan ilmunya di tengah-tengah kehidupan masyarakat.
“Pesan saya, bergaullah secara baik di tengah kehidupan masyarakat. Ingatlah, akhlak yang baik itu lebih utama dari kecerdasan. Silakan menjadi orang yang alim atau cerdas, tapi kecerdasan itu hendaknya membawa kedekatan kepada Allah, amalkan seberapa pun ilmu yang didapat di Nurul Huda. Terakhir, secara dzahir kalian akan berpisah dengan Nurul Huda, tapi secara bathiniah, secara emosional, kalian harus tetap menjaga hubungan baik dengan sesama teman, guru dan kiai di Nurul Huda, dan yang tak kalah penting, sewaktu-waktu sempatkan ziarah ke maqbaroh almarhum Kiai Mahfud Yahya. Karena hakikat Pengasuh Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja adalah almarhum kiai Mahfud Yahya, Kiai Abd Hafidh dan teman-teman guru sekadar melanjutkan,” ucap A. Rofik memungkasi sambutannya.
Laporan Panitia
Dalam kesempatan itu, Moh. Aldi Firmansyah, Ketua Panitia Pelaksana Malam Lepas Pisah ini mengungkapkan terima kasih kepada dewan guru Nurul Huda dalam berpartisipasi
“Mewakili teman-teman kelas akhir, khususnya kelas IX MTs Nurul Huda, kami ucapkan banyak terima kasih kepada guru-guru tercinta. Kegiatan malam ini tidak akan terlaksana dengan baik, jika tidak ada peran dari dewan guru dan masyarakat sekitar Nurul Huda,” ucap Aldi.
Selanjutnya, siswa kelas IX MTs Nurul Huda Banbaru Giliraja ini mengungkapkan rasa penyesalannya yang tidak rajin belajar selama di madrasah serta banyak melakukan kesalahan.
“Malam ini adalah detik-detik terakhir kebersamaan kita dengan teman-teman dan dewan guru, tentu saja kita telah banyak melakukan kesalahan dan pelanggaran. Mewakili teman-teman santri kelas akhir, kami mohon maaf yang tak terhingga. Kami tetap mengharap arahan serta bimbingan asatidz dan dewan masyayikh. Kami ingin tetap diakui sebagai santri ila yaumil qiyamah,” pungkasnya.
Editor: A. Habiburrahman

