Image Slider

Pesan Kiai A’la Basyir untuk Calon Alumni Ponpes Annuqayah Latee Guluk-Guluk

SuMner Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee Rayon KH. Ahmad Basyir AS Guluk-Guluk Sumenep menggelar lepas pisah angkatan pertama bagi para santri calon alumni, pada Sabtu (19/6/2021) di Mushalla setempat.

Para santri yang hendak boyong dari pesantren untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya atau mengabdi di tengah-tengah masyarakat diingatkan untuk selalu menghormati orangtua dan ilmu yang telah didapatkan selama belajar di pondok pesantren.

Hal ini disampaikan KH. Abd A’la Basyir, Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Latee saat mengisi tausiyah di acara yang dihadiri oleh pengurus, wali santri, dan jajaran asatidz itu.

Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu juga mengajak kepada semua pihak untuk bersyukur karena di saat banyak orang mengukur kesuksesan dengan materi, ternyata masih ada bahkan banyak santri-santri yang mau belajar agama dan oleh orangtuanya dipasrahkan ke pesantren.

“Walaupun banyak orang yang mengedepankan materi, masih ada santri-santri yang mau belajar agama dan orang tua yang memasrahkan putera-puterinya ke pesantren,” kata Kiai A’la, seperti dikutip NU Online Jatim.

Beliau juga meminta kepada para calon alumni angkatan pertama Rayon KH. Ahmad Basyir itu untuk memuliakan orangtua. Sebab karena merekalah ilmu yang didapatkan di pesantren berpeluang besar untuk diamalkan.

“Keberhasilan kalian di dalam dan di luar pesantren, karena jasa orang tua. Kemulian kalian ada pada orang tua. Oleh karenanya, amalkanlah a’malul yaumiyah yang telah diajarkan para guru,” pintanya.

Setinggi apapun ilmu yang diperoleh selama belajar di pondok pesantren, hendaknya dipersembahkan untuk kedua orangtua. Kemudian tradisi pesantren yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur harus diamalkan di tengah-tengah kehidupan masyarakat.

Kepada para calon alumni, Kiai A’la membekali amalan yang sangat disukai dan sering diamalkan oleh Almaghfurlah KH. Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, yakni membaca Shalawat Nabi dengan istiqamah.

“Semasa beliau sehat, abah sering mengamalkannya, karena shalawat menjadi wasilah sampai akhir hayat. Beliau mengijazahkan shalawat kepada santri untuk membaca sebanyak 1000 kali dalam satu hari,” ungkapnya.

Mantan Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu, menegaskan bahwa di dalam kalimat Al-Qur’an terdapat unsur barakah. Karena itu harus selalu menjadi pegangan para santri dalam melakoni kehidupan.

Hal lain yang lebih ditekankan beliau adalah bagaimana mengedepankan Akhlaqul Karimah. Meski ilmunya tinggi dan luas akan tetapi tidak di barengi dengan akhlak yang baik maka tidak akan mencapai nilai ikhlas.

“Walaupun kita berilmu luas, tapi tidak dibarengi dengan akhlak, maka kita tidak akan mencapai nilai ikhlas. Perlu diketahui, ciri khas Latee adalah mengedepankan akhlak dan pengabdian luhur,” ungkapnya.

Bagi santri calon alumni yang hendak melanjutkan pendidikan ke jenjang berikutnya, Kiai A’la mengimbau untuk selektif dalam memilih lembaga pendidikan. Sebab di luaran ada beberapa pesantren yang ideologinya menyimpang dari Ahlussunnah Wal Jama’ah, utamanya pesantren tahfidz.

“Jika kalian ingin melanjutkan jenjang pendidikannya di luar pesantren, jaga nama baik alamater pesantren. Terlebih, kalian harus peka dan selektif dalam melanjutkan hafalannya di pesantren tahfidz. Karena di luar sana, ada pesantren tahfidz yang tidak berlatar belakang Ahlusssunnah wal Jamaah,” pungkasnya.

Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga