Giliraja, NU Online Sumenep
Pondok Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja terus berupaya syiarkan agama Islam dengan menggelar Safari Khatmil Qur’an rutin setiap Kamis siang hingga sore hari setengah bulan sekali.
Sejak awal kegiatan rutinan ini digelar di Masjid Nurul Huda Dusun Billa Karamat Desa Banbaru tiap Kamis sore menjelang Jumat Legi, kemudian dikembangkan menjadi program bulanan Ikatan Keluarga Santri Alumni Nurul Huda (Iksanda) yang diselenggarakan di Maqbaroh almarhum Kiai Mahfud Yahya tiap Jumat Legi pagi.
Atas dorongan para alumni dan masyarakat, safari khatmil quran juga digelar secara bergiliran dari satu tempat ke tempat lainnya. Seperti yang dilakukan oleh anggota khatmil quran pada Kamis sore, (20/5/2021) kemarin. Safari Khatmil Qur’an tersebut berlangsung di kediaman Ustadz Fathol Anwar di Desa Banmaleng Giliraja. Beberapa alumni dan masyarakat ikut berpartisipasi dalam kegiatan rutin yang bertujuan untuk meningkatkan kecintaan kepada Al-Qur’an itu.
Pimpinan Pondok Pesantren Nurul Huda Banbaru Giliraja, Kiai Abd. Hafidh, menuturkan bahwa sejak awal masyarakat sangat antusias dengan rutinan itu. Hingga warga sekitar meminta kepada Putra sulung Almarhum Kiai Mahfudh ini untuk menjadikan kegiatan tersebut rutin ditempatkan di rumah warga secara bergiliran.
“Khatmil Qur’an ini digelar rutin setiap Jum’at Legi di Maqbarah Almarhum Kiai Mahfudh. Kemudian karena respon masyarakat antusias, mereka meminta agar digelar dengan ditempatkan di rumah warga bergiliran,” ungkap Kiai Abd. Hafidh.
Pasalnya, berdasarkan penuturan Syauqi Mahla, salah seorang pegiat Khatmil Qur’an rutinan tersebut, bahwa Arisan Khatmil Qur’an yang digelar di Maqbarah Kiai Mahfudh Yahya merupakan rintisan Almarhum Kiai Mu’arif dan Rasyad Sukarto sejak belasan tahun silam.
Hal itu dilakukan sebagai upaya untuk meningkatkan kefashihan masyarakat dalam membaca Al-Qur’an. Sebab sebagaimana yang disampaikan kepada NU Online Sumenep, pada Kamis sore (20/5/2021) usai kegiatan itu, dirinya mengaku benar-benar merasakan manfaatnya. Dari yang semula tidak fashih, menjadi fashih.
“Arisan Khatmil Qur’an ini berawal dari Masjid Nurul Huda Banbaru. Kegiatannya ini dirintis oleh Kiai Mu’arif dan Kak Rasyad, keduanya sudah almarhum. Mereka berdua sangat berjasa terhadap keberlangsungan arisan ini. Saya sendiri merasakan manfaatnya, dari baca quran terbata-bata (awal-wal-wal) hingga lumayan fasih,” ungkapnya.
Pak Syauqi menambahkan, bahwa anggota Arisan Khatmil Qur’an yang digelar rutin tiap setengah bulan itu beranggotakan warga dari empat desa yang ada di Pulau Giliraja, diantaranya Desa Banbaru, Banmaleng, Jate dan Lombang.
Senada dengan itu, Kiai Abd. Hafidh membenarkan bahwa Arisan Khatmil Qur’an yang digelar di rumah anggotanya memang atas inisiatif almarhum kiai Mu’arif, dan lebih khusus ia menyebut nama almarhum pak Rasyad Sukarto.
“Arisan khatmil quran ini adalah inisiatif adik ipar saya, almarhum Mu’arif dan kak Rasyad belasan tahun silam, saya lupa entah tahun berapa. Almarhum kak Rasyad meminta saya untuk membuka khatmil quran di Masjid Nurul Huda dan memohon agar khatmil quran diadakan secara rutin,” ujar kiai Abd. Hafidh.
Mustasyar Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Giliraja ini memaparkan bahwa Arisan Khatmil Qur’an ini sangat bermanfaat untuk masyarakat, khususnya yang sudah lanjut usia yang kurang fasih dalam membaca Al-Qur’an. Lebih dari itu juga bisa meningkatkan kecintaan kepada Al-Qur’an untuk membacanya.
“Arisan Khatmil Qur’an ini harus kita pertahankan, kami rutin tiap setengah bulan di hari Kamis. Ini sangat banyak manfaatnya, di samping untuk menjalin silaturahmi, juga dalam rangka membumikan serta menanamkan rasa kecintaan terhadap Al-Qur’an. Ini menjadi ajang belajar membaca, khususnya di kalangan tua yang tidak fasih,” imbuhnya.
Lebih jauh, kiai Abd. Hafidh mengutip hadits Nabi Muhammad yang menjelaskan tentang beberapa golongan yang sangat dirindukan oleh surga.
“Saya mendapati satu hadits dalam kitab Dzurrotun Nashihin, bahwa surga itu merindukan empat golongan, yakni orang yang membaca Al-Quran, menjaga lisan (ucapan), memberi makan orang lapar, puasa di bulan Ramadlan. Semoga kita termasuk yang dirindukan oleh Surga,” pungkasnya.

