Image Slider

Mushalla Al-Muttaqin Lenteng, Isi Lebaran Ketupat dengan Istighatsah Bersama

Lenteng, NU Online Sumenep

Ketupat memang tidak bisa dipisahkan dari perayaan besar umat Islam di dunia, Idul Fitri. Di Indonesia, panganan nasi yang dimasak dalam jalinan daun janur itu seakan jadi hal yang wajib hadir.

Tidak afdhal rasanya merayakan lebaran tanpa ketupat. Namun, tahukah bahwa ketupat punya “Hari Lebaran” tersendiri? Ya, masyarakat Jawa atau di berbagai daerah di Madura biasa mengenalnya sebagai lebaran ketupat.

Lebaran ketupat sudah menjadi tradisi turun-temurun di dalam masyarakat Jawa atau Madura terutama yang berada di kawasan pesisir maupun pegunungan. Lebaran Ketupat biasanya dilaksanakan satu minggu setelah Idul Fitri 1 Syawal, yaitu pada 8 Syawal.

Dalam rangka mentradisikan kegiatan tahunan tersebut, Mushalla Al-Muttaqin kembali melaksanakan perayaan hari lebaran ketupat yang dikemas dengan istighatsah bersama masyarakat sekitar pada Kamis (20/05/2021) yang bertempat di Mushalla Al-Muttaqin desa Lembung Barat, Lenteng.

Acara ini dihadiri langsung oleh Kiai Safrawi selaku pengasuh mushalla, tokoh masyarakat, perangkat desa, dan sekitar 100 orang masyarakat sekitar.

Kiai Safrawi selaku pengasuh Mushalla Al-Muttaqin mengutarakan beberapa hal terkait acara ini dilaksanakan.

“Kegiatan di mushalla ini, dalam rangka menyemarakkan perayaan lebaran ketupat memang diisi dengan istighatsah. Tujuan dari acara ini adalah bagaimana kita dapat lebih mendalami lagi makna dari tradisi lebaran ketupat, sebagai wasilah untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT, menajamkan nilai spiritualitas, serta juga bisa mendoakan rakyat Palestina yang saat ini masih dijajah,” ujar kepala Madrasah Ibtidaiyah (MI) Nurul Yaqin Lembung Barat, Lenteng itu.

Sebelum pelaksanaan istighatsah dimulai, para hadirin dimintai oleh panitia untuk menyetorkan nama-nama arwah sesepuhnya yang akan dikirimi pahala istighatsahnya.

Pembacaan istighatsah dipimpin langsung oleh Kiai Sunnah. Beliau, membacanya dengan nada semangat dan lantang sekali kepada pendengaran. Istighatsah berlangsung selama satu jam.

Di lain pihak, Muhammad selaku jamaah yang menghadiri kegiatan ini mengaku senang, karena tradisi lebaran ketupat masih tetap terjaga hingga saat ini.

“Alhamdulillah di desa saya masih banyak orang yang berbondong-bondong untuk merayakan hari raya ketupat. Walaupun sebenarnya hari raya ketupat ini memang diperuntukkan bagi orang yang telah puasa 6 hari di bulan Syawal. Di mushalla ini juga, kegiatan istighatsah sebagai acara inti dari perayaan lebaran ketupat masih juga lestari,” tuturnya.

Setelah istighatsah selesai, lalu dilanjutkan dengan sesi saling bermaaf-maafan.

“Adanya saling bermaaf-maafan satu sama lain berguna agar dosa yang telah diperbuat kita dapat melebur dan kembali suci,” pungkas Kiai Safrawi.

Pewarta: Lukmanul Hakim

Editor: Ibnu Abbas

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga