Oleh: Ahmad Hosaini *)
Syekh Abu Al-Abbas RA. berkata: “Alhamdulillah seluruh waktu kami adalah Lailatul Qadar.” Karena ibadah mereka seluruhnya adalah ibadah kalbu (hati), yang berada di antara perenungan (fikrah) dan pengambilan hikmah (i’tibar), serta penyaksian (syuhud) dan pencerahan batin (istibshar), dan dalam sebuah keterangan
فكرة ساعة أفضل من عبادة سبعين سنة
Artinya: “Perenungan sesaat lebih baik daripada ibadah tujuh puluh tahun.”
Sebagaimana disebutkan dalam atsar (riwayat), bahkan penyaksian secara langsung (fikratal ‘ayan) jauh lebih utama dari itu.
Sebagaimana juga dalam sebuah syair:
“Setiap momen bersama kekasihku sebanding nilainya dengan seribu perjalanan.” (Ibnu ‘Ajibah, Jami’u Al-Kutub Al-Islamiyah jilid 7, ketabonline.com. hal. 333).
Jika kita selalu bertafakur dengan menyelami hakikat kebesaran Allah dan mengibaratkan Allah sebagai Sang Kekasih yang hati dalam kerinduan itu senantiasa terpaut pada-Nya, maka seluruh waktunya ibarat kehadiran Lailatul Qadar di bulan Ramadhan.
Bulan Ramadhan memang bulan yang istimewa. Dari saking istimewanya, banyak peristiwa penting yang terjadi di bulan Ramadhan. Seperti Kitab-kitab Allah diturunkan di bulan Ramadhan termasuk Al-Qur’an.
Nabi Muhammad SAW bersabda: “Kitab atau suhuf Nabi Ibrahim diturunkan di malam pertama bulan Ramadhan, kitab Taurat diturunkan pada keenam bulan Ramadhan, kitab Injil pada hari ketiga belas, Zabur pada hari kedelapan belas bulan Ramadhan dan Al-Qur’an pada hari keduapuluh empat.” (Usman bin Hasan Al-Khaubawiy, Dzurratun Nasihin, Dar ihya’ Al-Kutub Al-‘Arabiyah, hal.7)
Lailatul Qadar juga turun di malam bulan Ramadhan. Di mana menurut sebuah hadits tentang waktu turunnya ada yang menyebut pada 27 Ramadhan:
عَنْ أُبَىِّ بْنِ كَعْبٍ – رضى الله عنه – قَالَ قَالَ أُبَىٌّ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَاللَّهِ إِنِّى لأَعْلَمُهَا هِىَ اللَّيْلَةُ الَّتِى أَمَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- بِقِيَامِهَا هِىَ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ
Artinya: “Dari Ubay bin Ka’ab RA., ia berkata mengenai malam lailatul qadar, “Demi Allah, aku sungguh mengetahui malam tersebut. Malam tersebut adalah malam yang Rasulullah memerintahkan kepada kami untuk menghidupkannya dengan shalat malam, yaitu malam ke-27 dari bulan Ramadhan.” (HR. Muslim).
Penyebutan turunnya Lailatul Qadar ada banyak versi antara yang satu dengan lainnya berbeda. Mayoritas madzhab Syafi’i menyebut malam Lailatul Qadar jatuh pada malam 29 Ramadhan, 27 Ramadhan, pada malam pertengahan Ramadhan dan ada yang menyebutnya di semua Ramadhan.
Namun ada rumus untuk memprediksi turunnya Lailatul Qadar menurut Imam Ghazali adalah bisa diketahui dari awal puasa Ramadhan.
Jika awal Puasa jatuh pada hari Ahad atau hari Rabu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-29 bulan Ramadhan. Jika awal puasa hari Senin, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-21. Jika awal puasa jatuh pada hari Selasa atau hari Jumat, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-27.
Jika awal puasa jatuh pada hari Kamis, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-25. Jika awal puasa pada hari Sabtu, maka Lailatul Qadar jatuh pada malam ke-23. (Sayyid Al-Bakriyyi, I’anatut Thalibin Juz.2 Daar As-Salaami hal.1301).
Puasa Ramadhan tahun ini 2026 M. atau 1447 H. di Indonesia permulaannya berbeda antara kelompok satu dengan yang lainnya. Ada yang puasa pada hari Rabu, ada yang puasa sebelum itu dan ada yang sesudahnya, sedangkan pemerintah menetapkan puasa hari Kamis. Sehingga kalau berdasarkan rumus Al-Gazali di atas akan berbeda turunnya Lailatul Qadar antara kelompok yang memulai puasa hari Rabu, Kamis atau hari-hari yang lain.
Akan tetapi, berdasarkan prediksi di atas turunnya Lailatul Qadar di 10 malam terakhir bulan Ramadhan yaitu malam ke 21, 23, 25, 27 dan 29 atau kita perlu mengenali tanda-tanda yang lain turunnya Lailatul Qadar sebagaimana dalam hadits Rasulullah SAW bersabda:
لَيْلَةُ القَدَرِ لَيْلَةٌ سَمْحَةٌ طَلَقَةٌ لَا حَارَةً وَلَا بَارِدَةً تُصْبِحُ الشَمْسُ صَبِيْحَتُهَا ضَعِيْفَةٌ حَمْرَاء
Artinya: “Lailatul qadar merupakan malam yang penuh kemudahan dan kebaikan, tidak begitu panas, juga tidak begitu dingin, pada pagi hari matahari bersinar tidak begitu cerah dan nampak kemerah-merahan.” (HR. Al-Baihaqi).
Maka di saat itu atau malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan kita menjaga malam-malam tersebut dengan memperbanyak ibadah dan amal kebaikan karena ganjarannya lebih baik dari 1000 bulan.
Allah SWT berfirman:
اِنَّآ اَنْزَلْنٰهُ فِيْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ, وَمَآ اَدْرٰىكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِۗ, لَيْلَةُ الْقَدْرِ ەۙ خَيْرٌ مِّنْ اَلْفِ شَهْرٍۗ, تَنَزَّلُ الْمَلٰۤىِٕكَةُ وَالرُّوْحُ فِيْهَا بِاِذْنِ رَبِّهِمْۚ مِنْ كُلِّ اَمْرٍۛ, سَلٰمٌۛ هِيَ حَتّٰى مَطْلَعِ الْفَجْرِ
Artinya: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada Lailatulqadar. Tahukah kamu apakah Lailatulqadar itu? Lailatulqadar itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan Ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur semua urusan. Sejahteralah (malam) itu sampai terbit fajar.” (QS. Al-Qadr).
Menyikapi keistimewaan Lailatul Qadar, kelompok al-‘arif billah menyambutnya dengan suka ria dan bahkan menjadikan semua malam adalah malam Lailatul Qadar dengan senantiasa bertafakur (perenungan lebih dalam tentang hakikat penciptaan) lalu beri’tibar (mengambil pelajaran atau hikmah di dalamnya).
Mereka sudah masuk maqam Syuhud dan Istibshar yaitu tingkatan dalam tasawuf yang berkaitan dengan penglihatan batin dan kesadaran mendalam akan keberadaan Allah SWT.
Bagi mereka hal tersebut layaknya Lailatul Qadar atau bahkan lebih seperti dalam keterangan bahwa tafakur sesaat lebih baik dari ibadah 70 tahun.
Walaupun hadits itu disebut sebagai hadits dhaif (lemah), tapi keutamaan dalam menggunakan akal untuk menyelami hakikat terdalam dalam dunia ini atau perenungan terdalam tentang kebesaran Allah (tafakur) pasti lebih baik dari ibadah tanpa penghayatan.
Dengan demikian, jika kita umumnya terfokus pada bulan Ramadhan untuk memburu malam Lailatul Qadar, maka tidak ada salahnya jika waktu-waktu kita gunakan untuk bertafakur.
Apalagi bertafakur di samping ibadah-ibadah yang lain pada malam-malam sepuluh terakhir bulan Ramadhan, itu akan lebih baik jika kita lakukan. Wallahu A’lam.
*) Ahmad Hosaini, Wakil Sekretaris PCNU Sumenep dan Santri Alumni PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.

