Oleh: Amrullah*)
Surah Al-Ma’un merupakan salah satu surah dalam Al-Qur’an yang menempati urutan ke-107. Surah ini terdiri atas tujuh ayat dan memiliki sejumlah keunikan dibandingkan dengan surah-surah lainnya. Salah satu keunikan tersebut adalah bahwa surah ini menjadi satu-satunya surah yang ditutup dengan kata al-ma’un. Selain itu, surah ini juga diawali dengan ungkapan ara’aita yang berarti “tahukah kamu”.
Ayat pertama berbunyi: “Ara’aita alladzi yukadzdzibu bid-din” yang berarti “Tahukah kamu orang yang mendustakan agama?”. Dalam Al-Qur’an, beberapa surah memang diawali dengan bentuk pertanyaan retoris. Surah Al-Ma’un termasuk di antaranya, yang dibuka dengan kata tanya tersebut. Bentuk pertanyaan ini memiliki makna retoris yang bertujuan untuk menarik perhatian pembaca sekaligus mendorong mereka untuk merenungkan secara mendalam persoalan yang akan dibahas.
Pada ayat berikutnya disebutkan: “Fadzalika alladzi yadu‘ul yatim” yang berarti “Itulah orang yang menghardik anak yatim”. Ayat ini menegaskan bahwa keimanan dalam Islam tidak hanya bersifat konseptual atau sekadar pengakuan lisan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan nyata dalam kehidupan sosial. Salah satu bentuk konkret dari implementasi iman adalah kepedulian terhadap anak yatim serta perhatian terhadap kesejahteraan kaum lemah.
Dalam konteks tersebut, amal yang disebutkan pada bagian awal surah Al-Ma’un lebih menekankan pada aspek sosial atau ibadah muamalah. Bentuk amal ini tercermin melalui sikap peduli terhadap anak yatim serta dukungan terhadap pemenuhan kebutuhan orang miskin. Dengan demikian, ajaran Islam tidak hanya menekankan ibadah ritual, tetapi juga menuntut tanggung jawab sosial sebagai wujud nyata dari keimanan.
Lebih lanjut, prinsip-prinsip perlindungan terhadap anak yatim dalam Al-Qur’an dapat dipahami melalui beberapa nilai utama. Pertama adalah ‘adl (keadilan), yaitu sikap memperlakukan anak yatim secara adil dengan menjaga serta memenuhi hak-hak mereka tanpa melakukan tindakan zalim. Kedua adalah ishlah, yaitu upaya memperbaiki kondisi kehidupan mereka dengan menjalin hubungan yang baik serta memberikan perhatian yang konstruktif. Ketiga adalah ihsan, yakni sikap berbuat baik secara maksimal dengan memberikan perlindungan dan perhatian yang sungguh-sungguh, bukan sekadar kepedulian yang bersifat formalitas.
Selain menyoroti kepedulian terhadap anak yatim, surah Al-Ma’un juga menekankan pentingnya perhatian terhadap kaum miskin. Hal ini terlihat dalam ayat “Wa la yahudhdhu ‘ala tha‘amil miskin” yang berarti “dan tidak menganjurkan untuk memberi makan orang miskin”. Ayat ini menunjukkan bahwa salah satu ciri orang yang mendustakan agama adalah ketidakpeduliannya terhadap penderitaan kaum lemah serta tidak adanya dorongan untuk membantu mereka.
Penggunaan kata tha‘am dalam ayat tersebut oleh sebagian mufasir dipahami sebagai isyarat bahwa makanan yang diberikan kepada orang miskin pada hakikatnya merupakan bagian dari hak mereka. Dalam terminologi Al-Qur’an, hal tersebut disebut sebagai haqq atau haqqun ma‘lum, yaitu hak tertentu yang memang telah ditetapkan bagi mereka.
Pandangan ini juga diperkuat oleh beberapa ayat lain dalam Al-Qur’an, seperti dalam surah Adz-Dzariyat dan Al-Ma’arij, yang menjelaskan bahwa dalam harta orang kaya terdapat hak bagi orang miskin. Dengan demikian, kaum miskin dapat dipahami sebagai pihak yang memiliki hak atas sebagian harta yang dimiliki oleh orang-orang yang berkecukupan. Dalam perspektif ini, pemberian kepada orang miskin bukan sekadar tindakan belas kasihan, melainkan bentuk penyaluran hak yang memang seharusnya mereka terima.
Oleh karena itu, seseorang yang memberikan bantuan kepada orang miskin seharusnya tidak merasa sedang memberikan sesuatu yang sepenuhnya menjadi miliknya. Sebaliknya, ia hanya menyalurkan atau mengembalikan hak yang telah ditetapkan bagi mereka. Sikap ini mencerminkan etika luhur dalam Islam yang menekankan kerendahan hati serta kesadaran sosial dalam tindakan memberi.
Dalam lanjutan pembahasannya, surah Al-Ma’un memberikan peringatan keras kepada orang-orang yang menjalankan shalat, namun tidak memahami makna dan hakikat ibadah tersebut. Hal ini ditegaskan melalui ayat “Fawailul lil-mushallin” yang berarti “Celakalah orang-orang yang melaksanakan shalat.” Peringatan ini muncul setelah sebelumnya surah tersebut menyoroti sikap tidak peduli terhadap anak yatim dan orang miskin, yang dipandang sebagai bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai agama dan hari pembalasan.
Selanjutnya dijelaskan dalam ayat berikutnya, “Alladzina hum ‘an shalatihim sahun” yang berarti “yaitu orang-orang yang lalai terhadap shalatnya.” Kata sahun dalam ayat ini memiliki makna lupa atau lalai. Secara bahasa, istilah sahw dapat diartikan sebagai nisyan (lupa) atau ghaflah (kelalaian). Dalam ayat tersebut digunakan ungkapan ‘an shalatihim sahun, yang menunjukkan sikap lalai terhadap shalat mereka sendiri, baik dalam pelaksanaan maupun dalam penghayatan maknanya.
Sebagian ulama tafsir menjelaskan bahwa makna kelalaian dalam ayat ini dapat dipahami lebih jelas melalui dua ayat setelahnya, yaitu yang menyebutkan sifat riya’ dan keengganan untuk memberikan bantuan kepada sesama. Ayat tersebut menjelaskan bahwa orang-orang yang dimaksud adalah mereka yang melakukan ibadah dengan tujuan memperlihatkan amal kepada orang lain demi memperoleh pujian atau pengakuan sosial. Selain itu, mereka juga enggan memberikan bantuan kepada orang lain yang membutuhkan.
Dengan demikian, kelalaian terhadap shalat dalam konteks ayat ini tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis pelaksanaan ibadah, tetapi juga menyangkut sikap batin dan tujuan seseorang dalam melaksanakan shalat. Kelalaian tersebut dapat terwujud dalam berbagai bentuk perilaku, di antaranya sebagai berikut.
Pertama, melaksanakan shalat semata-mata untuk memperoleh pujian atau penilaian positif dari orang lain, bukan sebagai bentuk penghambaan yang tulus kepada Allah. Dalam kondisi seperti ini, kehadiran hati dan keikhlasan dalam shalat menjadi sangat minim.
Kedua, seseorang hanya melaksanakan shalat ketika terdapat kemungkinan ia akan dipuji atau dilihat oleh orang lain. Sebaliknya, ia mudah meninggalkan shalat ketika tidak ada orang yang mengetahui atau memperhatikannya.
Ketiga, melaksanakan shalat dengan sikap malas dan tanpa kesungguhan. Shalat dilakukan dengan perasaan terpaksa, sering ditunda hingga akhir waktu, atau dikerjakan secara tergesa-gesa tanpa memperhatikan kekhusyukan. Namun, ketika terdapat peluang untuk mendapatkan pujian dari orang lain, ia justru dapat melaksanakannya dengan penuh semangat.
Penggunaan istilah al-mushallin dalam ayat tersebut juga memberikan isyarat bahwa tidak semua orang yang melaksanakan shalat secara otomatis memperoleh nilai spiritual yang tinggi. Istilah tersebut menggambarkan orang-orang yang melakukan shalat, tetapi kualitas ibadahnya masih jauh dari kesempurnaan.
Shalat yang dilakukan tidak berkesinambungan, tidak dilaksanakan dengan memenuhi syarat dan rukun secara sempurna, kurang menghadirkan kekhusyukan, serta tidak diiringi dengan pemahaman terhadap bacaan dan gerakan yang dilakukan. Selain itu, shalat tersebut juga tidak disertai dengan rasa cinta dan penghambaan yang tulus kepada Allah.
Melalui penjelasan ini, surah Al-Ma’un memberikan pesan bahwa ibadah shalat tidak hanya dinilai dari aspek lahiriahnya saja, tetapi juga dari keikhlasan, kesungguhan, serta dampaknya terhadap sikap sosial seseorang. Dengan kata lain, kualitas shalat seharusnya tercermin dalam perilaku sehari-hari, terutama dalam bentuk kepedulian terhadap sesama.
Ayat terakhir dalam surah Al-Ma’un berbunyi “Wa yamna‘ūnal-mā‘ūn” yang berarti “dan mereka enggan memberikan bantuan.” Ayat ini menjelaskan salah satu sifat buruk yang muncul dari hati yang tidak bersih, yaitu sikap menolak atau enggan memberikan pertolongan kepada orang lain.
Meskipun tergolong surah yang singkat, kandungan pesan dalam surah Al-Ma‘un sangat padat dan sarat makna. Surah ini menyimpan pelajaran penting yang berkaitan dengan keimanan, praktik keislaman, serta kemurnian hati dalam menjalankan ajaran agama. Melalui ayat-ayatnya yang ringkas, surah ini menghadirkan pesan moral dan spiritual yang mendalam bagi setiap pembacanya.
Surah Al-Ma‘un mengajak umat Islam untuk menempatkan Al-Qur’an pada kedudukan yang semestinya sebagai pedoman hidup yang mampu membawa perubahan dalam kehidupan manusia. Surah ini tidak hanya menegaskan pentingnya memberikan perlindungan dan perhatian kepada kelompok yang lemah, seperti anak yatim dan orang miskin, tetapi juga menjadikan kepedulian terhadap mereka sebagai indikator dari keimanan yang sejati. Dengan kata lain, sikap acuh terhadap penderitaan kaum lemah mencerminkan bentuk pengingkaran terhadap nilai-nilai agama, khususnya terkait keyakinan akan adanya balasan atas setiap perbuatan manusia.
Selain itu, surah Al-Ma‘un juga memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai hakikat ibadah dalam Islam. Ibadah tidak hanya dipahami sebagai rangkaian ritual yang bersifat formal, tetapi harus menghasilkan dampak nyata dalam bentuk perilaku dan amal perbuatan yang baik. Shalat, sebagai salah satu bentuk ibadah utama, sejatinya merupakan wujud penghambaan total kepada Allah yang tercermin melalui keikhlasan hati, penghayatan dalam pelaksanaannya, serta diwujudkan dalam kepedulian terhadap sesama manusia.
Surah ini juga menegaskan bahwa kualitas shalat seseorang sangat dipengaruhi oleh kemurnian hati. Semakin bersih hati seseorang dari dorongan untuk mencari pujian manusia dan dari keterikatan yang berlebihan terhadap harta, maka semakin tinggi pula kualitas ibadah yang dilaksanakannya. Oleh karena itu, setiap mukmin yang menjalankan ibadah dituntut untuk senantiasa menjaga niat dan keikhlasan agar tidak terjerumus ke dalam sikap riya’ maupun sifat kikir.
Melalui pembahasan yang didukung oleh berbagai rujukan dari kitab-kitab tafsir klasik maupun kontemporer, buku ini menyajikan penjelasan yang komprehensif mengenai berbagai aspek surah Al-Ma‘un. Pembahasan tersebut mencakup keunikan surah ini, relevansi pesannya bagi kehidupan masyarakat modern, nilai-nilai tauhid dan akhlak yang terkandung di dalamnya, serta pesan moral yang ditujukan kepada para pelaku ibadah dan pembaca Al-Qur’an.
Selain itu, buku ini juga menguraikan keterkaitan surah Al-Ma‘un dengan surah-surah lain dalam Al-Qur’an, khususnya dengan surah Al-Fatihah serta surah-surah di sekitarnya. Tidak hanya itu, setiap ayat dalam surah ini juga dijelaskan melalui analisis konsep-konsep kunci yang membantu pembaca memahami makna dan pesan yang terkandung di dalamnya secara lebih mendalam.
Judul : Memahami Surah Al-Maun Tujuh Pesan Penerang Hidup
Penulis : Izza Rohman
Penerbit: Qaf
Cetakan: Januari 2026
Tebal : 166 hlm/SC/Bookpaper
ISBN : 978-634-04-5902-9
*Amrullah, Guru SMP Nahdatul Ulama.

