Batuan, NU Online Sumenep
Di Grand Opening Hari Santri Nasional (HSN) 2021, Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep KH. Hafidhi Sarbini menyampaikan pesan gurunya, almarhum KH. Maimoen Zubair atau Mbah Moen, untuk menjaga agama di Madura.
Diceritakan Kiai Hafidhi, sapaan akrabnya, KH. Maimoen Zubair semasa hidupnya pernah berpesan kepada salah satu santrinya di Bangkalan untuk menjaga agama di Madura.
“Madura hati-hati!, jangan sampai turun agamanya (red: Aswaja an-Nahdliyah). Kalau agama di Madura merosot, maka otomatis corak agama di dunia juga akan turun,” tuturnya serius menyampaikan wasiat gurunya, Jum’at, (1/10/2021) di Aula Lantai 2 Kantor PCNU Sumenep.
Menurut beliau, cara yang dapat dilakukan agar corak agama di Madura tidak turun adalah dengan menjadikan anak-anak kita menjadi santri, memondokan anak, bukan hanya menyekolahkan saja.
“Dengan memondokkan anak menjadi santri itulah yang akan menyelamatkan Islam di Madura, Islam di Indonesia dan di dunia,” tambahnya.
Beliau bersyukur bahwa sampai saat ini semangat kesantrian di Madura, khususnya di Sumenep tetap bergemuruh.
“NU tak mungkin berdiri tanpa santri. Para ulama asalnya juga santri,” ungkapnya.
Yang punya santri, menurut Kiai Hafidhi, adalah Nahdlatul Ulama. Bukan yang lain. Wahabi tak punya santri. Ciri khas kesejatian kata santri sangat melekat pada jati diri Nahdlatul Ulama. Meskipun demikian, kesantrian Nahdlatul Ulama tak membutuhkan pengakuan publik, cukup menjadi kenyataan saja.
Jangankan kita, lanjut Kiai Hafidhi, Nabi Musa AS saja diabadikan oleh Allah dalam al-Quran sebagai pencari ilmu yaitu santri. Nabi Musa masih disuruh mengaji oleh Allah pada seorang nabi bernama Khidir. Allah mengutus Nabi Khidir untuk mengetengahkan tiga macam ilmu yang tidak dimiliki oleh nabi Musa.
Ciri seorang santri, menurut Pengasuh Pondok Pesantren Darul Istiqamah Batuan Sumenep itu, mencari ilmu dengan mendatangi gurinya. Adapun sang guru adalah orang yang dengan ikhlas mengajar tanpa mengharapkan gaji atau honor.
“Kata Imam Malik, _Al-ilmu yu’ta wala ya’thi_. Ilmu itu didatangi bukan guru yang datang menjumpai muridnya,” ujarnya.
Kebiasaan mendatangi murid itu, katanya, adalah seperti ciri santri nusantara/santri nahdliyyin yang datang ke berbagai pondok pesantren mencari guru untuk mendapatkan ilmu.
“Bukan kiainya diundang untuk mengajarkan anak-anaknya,” tandasnya.
Beliau di kesempatan itu juga mengkritik tentang kebiasaan mendatangkan guru ke rumah untuk mengajar anak-anaknya dengan imbalan honor.
“Makanya tidak heran, banyak anak kiai pondok pesantren dimondokkan ke pesantren lain, agar meraih barokah dengan mendatangi guru-gurunya,” jelasnya.
“Kalau sudah tidak ada lagi santri, maka ulama akan hilang. Alhamdulillah NU di Sumenep masih mampu menjaga tradisi keilmuan dan akhlaq santri,” imbuhnya lagi.
Meski demikian, beliau meminta agar Pengurus NU jangan sombong. Malah harus bersyukur, karena dengan syukur akan ditambah nikmatnya olah Allah SWT.
Selain itu beliau juga menyinggung soal kepemimpinan. Santri saat ini adalah pemimpin di masa yang akan datang. Prilaku rakyat saat ini adalah cerminan prilaku pemimpinnya. Kalau ada pemimpin jelek bukanlah semata kesalahan pemimpinnya, tapi sebagai cerminan atas kesalahan dan prilaku rakyatnya.
“Saya heran kenapa saya yang diamahkan Allah sebagai Rais Syuriyah. Karena saya masih banyak nakalnya, punya banyak kesalahan pada Allah SWT, lalu diberi amanat oleh-Nya,” pungkasnya.

