Gapura, NU Online Sumenep
Puncak Hari Santri Nasional yang diadakan oleh Mejelis Wakil Cabang Nadhalatul Ulama Gapura yang ditempatkan dihalaman kantor BMT Nuansa Umat JawaTimur menghadirkan K.H Hafidzi Syarbini sebagai penceramah, Jumat (22/10/2021) pukul 19.30 WIB.
Dalam ceramahnya Kiai Hafidzi menyampaikan beberapa hal yang berkaitan dengan akhlak dan perbedaan santri dan murid.
Beliau memulai ceramahnya dengan satu pernyataan bahwa tidak ada orang atau santri yang alim tanpa berguru. Maka punya anak harus dimondokkan agar menjadi santri yang memiliki akhlak yang baik.
“Menjadi santri pada hakikatnya adalah dia yang memiliki moral atau akhlak yang baik dan santun, baik kepada Tuhan dan Negara, karena santri juga harus mengabdi kepada Negara dan menjunjung tinggi NKRI,” ungkapnya.
Tidak ada ulama alim yang tak berguru kepada guru, misal beliau mencontohkan KH Mohammad Khalil Bangkalan yang berguru ke Mekkah, KH Hasyim Asy’ari pun berguru kepada KH Mohammad Khalil.
“Artinya kalau mau menjadi santri kita harus keluar, keluar maksudnya mondok,” lanjutnya.
Beliau juga menegaskan bahwa Islam akan maju jika pondok pesantren dibangun dengan akhlak yang baik, dengan tujuan juga memperjuangkan akhlak yang baik. Lebih lanjut beliau menyampaikan bahwa manusia menjadi mulia dan baik akhlaknya karena manusia diberi akal oleh Allah yang berfungsi untuk memikirkan dan menjalankan akhlak.
Jadi kalau ada manusia (guru beliau menyebutnya) di lingkungan pondok pesantren yang meminta bayaran, berarti dia bukan santri, tapi dia murid, itu bedanya santri dan murid, sebab kalau santri tidak mungkin meminta bayaran. Maka Tuhan tidak akan memberi pahala kepada manusia yang tidak sibuk pada pekerjaan-pekerjaan atau gerakan-gerakan yang mengarah kepada kebaikan.
“Mengajar itu baik, tapi meminta bayaran adalah akhlak yang tidak baik. Maka bekerjalah mulai sekarang untuk menjalankan perintah Tuhan,” tegasnya.
Berikutnya beliau menyebutkan bahwa salah satu akhlak yang dilahirkan ulama adalah tahlil. Tahlil yang dimulai dari Fatihah, surat Al-Ikhlas, surat Al-Falak, dan surat An-Nas terus dilanjutkan Fatihah sampai terakhir ini sebenarnya tidak main-main. Jika ada yang mengatakan itu bid’ah, maka berarti orang itu bodoh, tuturnya.
“Oleh karenanya kita tidak boleh sombong, di saat kita jaya, kaya, pintar, menjadi juara, sebab sombong itu akan memutuskan derajat manusia. Tidak ada orang alim yang derajatnya diangkat oleh Tuhan karena mendapatkan juara baca kitab kuning, bukan lomba itu salah, tapi sikap kita ketika menjadi juara membuat hati sombong,” dawuhnya.
Terakhir, Kiai Hafidzi yang kini menjadi Rais Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep itu menekankan agar di hari Santri ini, sangat penting bagi santri untuk selalu menjaga akhlak.
Pewarta: Matroni Muserang

