Image Slider

Di Rapat LTM NU, Ketua PCNU Sumenep Minta Masjid Jadi Sentral Pemberdayaan Sosial

Batuan, NU Online Sumenep

Setelah melaksanakan program bersih-bersih masjid di Batuputih, Pengurus LTM NU  (Lembaga Takmir Masjid Nahdlatul Ulama) melakukan silaturrahim dengan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep pada hari Jum’at, (29/01/2021) di Kantor PCNU Jalan Raya Trunojoyo Nomor 295 Desa Gedungan Kecamatan Batuan Kabupaten Sumenep

Dalam hal ini, Ketua LTM NU Sumenep, Kiai Waqid Nurus Salam mengenalkan program lembaganya yang siap dilaksanakan, antara lain: Pelatihan Penggerak Masjid, Pelatihan Shalat Annahdliyah, Aksi Bersih-bersih Masjid, dan Pelatihan Mengurus Janazah.

Selain itu beliau juga mengenalkan satu persatu jajaran Pengurus LTM NU Sumenep Masa Khidmat 2020-2025 yang hadir pada kesempatan tersebut.

Menyambut berbagai program yang dicanangkan, Ketua PCNU Sumenep, KH. A. Pandji Taufieq, manyampaikan terima kasih dan rasa syukur karena banyak yang bisa hadir. Semua itu karena Ridha Allah. Disadari bahwa hadir di acara NU, menurutnya, tidak mendatangkan materi, semua hanya mengharapkan ridha Allah dan barokah muassis NU.

“NU ini dibuat sungguh-sungguh oleh para muassis. Sehingga dampaknya dahsyat. Semoga saat kita dipanggil oleh Allah nanti dalam keadaan husnul khatimah sebab mengurus NU”, ujarnya mengawali sambutan.

Beliau melanjutkan, bahwa Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memandang masjid bukan hanya sebagai tempat shalat, tapi central dinamisasi pemberdayaan sosial kemasyarakatan. Di tengah konstruksi budaya yang kurang mendukung, justru peran pemberdayaan masjid di tangkap oleh sebuah masjid di Lamongan dan Solo. Mereka melakukan gerakan sosial bagi-bagi makan gratis ribuan bungkus tiap hari bagi kaum dhuafa.

Di saat orang lain sudah memahami masjid sebagai dinamisasi umat, malah diantara kita, tambahnya, terkadang masih ada yang menempatkan masjid milik pribadi, sedikit angker bahkan orang mau masuk saja masih ewuh pakewuh.

“Disamping mengurai paradigmatik masjid yang masih tertutup, mati kita lakukan gerakan kemasyarakatan berbasis masjid melalui LTM NU ini”, tutur Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu penuh nasehat.

Gerakan sosial bersih-bersih masjid yang digarap LTM NU, bukanlah urusan rombongan kerja kebersihan, tapi lebih jauh harus memiliki gugahan gerakan sosial. Gerakan sosial itu, kata beliau menggerakkan paradigma masyarakat setempat agar memiliki pandangan bahwa masjid nantinya menjadi pusat gerakan agama, sosial, pendidikan, budaya bahkan menjadi central gerakan ekonomi.

“Dari masjid inilah budaya dan nilai-nilai kesantrian, harus terbangun menjadi realitas kehidupan nyata dalam upaya pemberdayaan umat”, imbuhnya.

Pembangunan dan pemberdayaan masjid itu warisan Nahdliyyin. Beliau bercerita bahwa di berbagai tempat masjid terbangun atas dukungan swadaya warga setempat. Beliau menyebut tokoh kiyai seperti K. Hammad Karay Ganding konon sampai membangun 40 masjid. K. Dahlan Karay konon saat bertandang ke sebuah daerah terlihat kering, beliau membangun sumur. Berikut banyak sekali contohnya kiai NU zaman dahulu mewariskan pengalaman sosial yang tinggi membangun masjid dan memberdayakan warga sekitar.

Beliau menilai bahwa perencanaan program LTM NU sudah sangat baik, namun beliau berharap sesuai hasil konferensi bahwa semua kegiatan kelembagaan dilakukan bersama ranting.

“Kegiatan lembaga diarahkan pada penguatan ranting. MWC dibawa ke ranting. Orientasi penguatan ranting ini bukan hanya jadi wacana, tapi tindak lakunya harus berbasis ranting. Bersih-bersih masjid bersama ranting. Masyarakatan sekitar masjid dilibatkan. Bahkan masjid adalah salah satu basis ranting yang tak boleh dipandang sebelah mata”, ujarnya mengingatkan orientasi penguatan ranting melalui kegiatan lembaga.

Bukan hanya itu, jelang bulan Ramadhan nanti, beliau berharap agar LTM bisa melakukan kegiatan Buka Puasa Bersama dengan warga masyarakat dan menyantuni yatim di 100 masjid.

Melalui gerakan pemberdayaan masjid, katanya, yatim dan fakir miskin disantuni. Sehingga kohesifitas sosial terbangun bersama tokoh masyarakat setempat.

“Bahkan teori Komunis dulu, kalau mau memengaruhi tokoh, nyemplung ke bawah berbaur bersama di tengah masyarakat. Sehingga kehadirannya diterima”, tambahnya lagi.

Lainnya, beliau juga katakan bahwa kehadiran pelaku di pemerintahan desa adalah partner yang strategis. LTM harus mampu mengajak pelaku desa untuk menguatkan partner bersama memberdayakan masjid.

“Kiyai NU sejak dulu tak pernah memandang birokrasi sebagai musuh, tapi malah partner yang baik”, imbuhnya pula.

Terakhir beliau mengingatkan motto Lembaga Takmir Masjid PBNU “Al-harokatu Barokah”, bahwa kalau bergerak pasti akan selalu dijumpai barokahnya.

“Jika kita selalu mengadakan kegiatan, insya Allah akan menggerakkan banyak orang ikut bergerak membantu dan mendanai kita”, pungkasnya.

Hal senada juga disampaikan Sekretaris PCNU Sumenep K. Zainul Hasan yang juga turut hadir pada rapat tersebut. Menurut beliau selain pesantren dan madrasah, masjid adalah pilarnya Nahdlatul Ulama.

“Pilar itu jaga dan amankan. Kelompok lain sasaran empuknya adalah masjid. Mereka tak ragu masuk berdakwah meski tahu itu kantongnya Nahdlatul Ulama. Latih pelaku masjid sebagai penggerak masjid”, katanya membuka fenomina pertarungan dakwah kekinian. Bahkan di era politik etalase seperti saat ini, katanya, labelisasi NU pada masjid Nahdliyyin menjadi penting juga dilakukan.

Beliau sarankan LTM NU bisa mengajak Lembagaa Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) untuk silaturrahim mengisi wawasan keagamaan dan pengembangan sosial kemasyarakatan. Bahkan jika masjid kuat, Pengurus KAR (Kelompok Anak Ranting) kedepan bisa berbasis masjid, dimana Takmir Masjid bisa menjadi Pengurus KAR.

Sekretaris yang juga sebagai Instruktur Pendidikan Kader Penggerak Nahdlatul Ulama (PKP NU) militan itu juga mengharap agar LTM NU melakukan pendataan masjid dan mushalla.

Kegiatan yang ideal itu, tambahnya, berbasis data. Data potensi masjid akan mampu memilah sendiri potensi masjid yang masih bersifat ubudiyah saja, yang sudah mandiri dan yang masih perlu didampingi, serta masjid yang sudah bergerak ke gerakan sosial, menyantuni yatim, menyembelih hewan, korban bahkan yang sudah bisa memberikan beasiswa pada anak kekuarga dhuafa’.

Lebih jauh, Kiai Muhammad Syahid Munawar, Wakil Ketua PCNU Sumenep asal Gapura, yang ikut nimbrung di rapat tersebut juga mengusulkan agar LTM nantinya bisa menempatkan salah satu masjid sebagai binaan LTM, sebagai rool model percontohan gerakan pemberdayaan masjid. Beliau mengharap LTM NU tidak segan bekerjasama dengan lembaga lain yang kegiatannya senafas.

“Program yang sudah ada bagus. Namun demikian Program NU itu saat di lapangan kadang bisa meliuk-liuk sesuai konteks keadaan yang dihadapi”. ujar mantan Ketua Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura itu, mengakhiri rapat.

Foto bersama menjadi pertanda berakhirnya pertemuan silaturrahim itu.

Pewarta : Zubairi Karim
Editor : Ibnu Abbas

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga