Kota, NU Online Sumenep
Safari Dakwah Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep kerja sama dengan Pro 2 RRI Sumenep dilaksanakan pada Kamis (13/04/2023) di Rumah Tahanan (Rutan) Kelas II Sumenep dengan tema “Menghapus Dosa Kembali Fitri”.
Acara ini ini dibuka dengan muqaddimah oleh Kiai Imam Sutaji Ketua LDNU Sumenep. Penceramah muda ini mengatakan, bahwa setiap manusia punya problematika masing-masing dalam hidupnya yang tidak diketahui oleh siapa pun kecuali oleh dirinya dan Allah SWT.
Menurutnya, setiap orang punya keinginan menjadi orang baik dan dicatat kebaikannya oleh Allah SWT, hanya saja semua perlu disadari bahwa setiap manusia tidak lepas dari godaan syetan yang terkutuk melalui gelora hawa nafsu dan akal pikiran yang selalu ditunggangi oleh godaan iblis. Namun sebesar apa pun dosa seseorang akan diampuni oleh Allah selama yang bersangkutan tidak sombong.
“Kalau kita punya kesalahan, sebesar apa pun kesalahannya, selama tidak berbarengan dengan sombong, insya Allah diampuni oleh Allah SWT,” jelasnya kepada peserta ngabuburit yang terdiri atas warga binaan Rutan kelas II Sumenep
Alumnus Annuqayah ini juga menjelaskan bahwa iblis adalah makhluk yang pintar, tapi karena dibarengi sombong maka tidak diampuni oleh Allah SWT.
“Nabi Adam juga mempunyai kesalahan, tapi karena diakui kesalahannya dan terus bertaubat, maka Nabi Adam diampuni oleh Allah SWT,” tambahnya.
Menurut dai asal Pragaan ini jika seseorang sudah terlanjur melakukan kesalahan, maka yang harus dilakukan pertama adalah mengakui kesalahannya, yang kedua menyesal atas apa yang dilakukan, dan yang ketiga berjanji kepada diri sendiri untuk tidak melakukan lagi kesalahan itu di masa-masa yang akan datang.
Di akhir ceramahnya, Kiai Sutaji menjelaskan bahwa keutamaan menjadi umat Nabi Muhammad SAW jika berbuat dosa tidak langsung dihukum sebagaimana yang dikatakan oleh Nabi Adam AS.
“Nabi Adam berkata ‘saya berbuat dosa di surga dikeluarkan dari surga ke dunia, tapi umat Nabi Muhammad SAW berbuat dosa di dunia, karena bertaubat, maka dimasukkan ke surga. Nabi Adam juga berkata ‘saya kalau berbuat dosa, pakaian saya lepas, tapi umat Nabi Muhammad ketika melakukan kesalahan tetap bisa memakai bajunya, tidak lepas. Saya berbuat dosa sekali saja, saya dijauhkan dengan istri pada jarak yang jauh, namun umatnya nabi Muhammad meski berbuat dosa tetapi tetap bisa berkumpul dengan keluarganya,” pungkasnya.
Pewarta : Surya Fajar Rasyid
Editor: A. Warits Rovi

