Pragaan, NU Online Sumenep
KH Ahmad Madzkur Abdul Wasik, Wakil Ketua Pengurus Cabang (PC) Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep menyebutkan ciri-ciri Ahlussunnah wal Jamaah dalam rekam sejarah Nabi Muhammad SAW dan Sahabatnya dalam peradaban dan budaya.
Pertama dakwah Tauhid dan memperjuangkan kemanusiaan dengan memanusiakan manusia. Semua manusia pada dasarnya akan menolak menyembah dan tunduk pada sesamanya apalagi menjadi penyembah pohon dan bebatuan. Semua manusia memiliki hak dihormati bukan ditindas oleh yang kuat.
“Kedua ‘Adālah atau keadilan, ini pintu pertama yang terus diperjuangkan hingga sekarang. Dan tak ada satupun negara telah mencapai kesempurnaan dalam nilai ini, namun semuanya harus terus berbenah dan memperjuankannya,” ujarnya saat memberi penguatan ideologi ke-NU-an di masjid Al-Gufron Aeng Soka, Pragaan Laok, Pragaan, Ahad (17/07/2022).
Ketiga, lanjutnya, As-Salām hidup damai tentram dengan berdampingan dalam bingkai keberbedaan atau dalam konteks Keindonesiaan, yaitu Bhinneka Tunggal Ika. Diceritakan, di masa Nabi ada Pakta Madinah (Piagam Madinah) di mana ia mengayomi muslim, Yahudi, Nasrani selama sejalan dan senyawa dengan piagam madinah kecuali mereka berbuat dzalim dan merongrong Madinah.
Bani Khuzā’ah adalah kaum musyrik yang berafiliasi dengan muslim Madinah pasca Shuluh Hudaibiah. Namun Quraish Musyrik merusak perjanjian itu dengan membunuh orang-orang Khuza’ah di tengah malam.
“Di situlah Nabi Muhammad SAW dan Muslimin membela khuzā’ah yang notabenenya non muslim. Lantaran itu pula belum sepuluh tahun gencatan senjata, Nabi melakukan Fathu Makkah karena Quraish telah merusak perjanjian dan mendzalimi kaum non muslim yang berafiliasi dengan Madinah. Di situlah nilai Piagam Madinah yang mengandung nasionalisme dan keadilan yang tampak tegas membela antarsesama bangsa,” ungkapnya.
Dilanjutkan, keempat At-Tahaffudz an at-Takfīr tidak mudah mengkafirkan orang. Rekam jejak di zaman Nabi adalah penghianatan seorang sahabat Hatib bin Abi Balta’ah yang membeberkan rahasia tentang kapan Rasul dan sahabatnya akan melakukan fathu Makkah melalui surat yang dikirimkan pada pembesar Quraish saat itu.
“Ketika Nabi mengetahuinya melalui Jibril, maka memanggil Hathib dan menanyakan modusnya. Hathib berkata, sungguh yang aku lakukan bukanlah karena ingin kafir setelah aku beriman wahai Rasul, akan tetapi aku hanya sendirian dan tak punya famili di Makkah di mana jika fathu Makkah terjadi, aku hanya ingin mencari suaka dari orang-orang musyrik Makkah,” urai Pengasuh Pondok Pesantren An-Najah 1 Karduluk itu.
Sejak itulah turun ayat pertama dalam al-Qur’an Surat Al-Mumtahanah yang memiliki arti bahwa Allah SWT masih memanggil Hathib dalam golongan muslim. Tidak bisa dibayangkan jika kejadian itu ada di jaman medsos sekarang apalagi disikapi oleh kaum radikalis pastinya Hathib akan dikafirkan sekafir-kafirnya atau akan digelari munafik, iblis, thaghut dan lain-lain.
Diceritakan pula, di masa Sayyidina Ali bin Abi Thalib juga menjadi justifikasi bahwa dulu tidak mudah orang mengkafirkan, membid’ahkan dan menuduh musyrik. Di masa itu Khawarij tidak setuju dengan seluruh khalifah Nabi Muhammad SAW, karena menurut mereka Khalifah telah banyak memutuskan masalah tidak dengan ayat tapi dengan musyawarah.
Khawarij memberontak pada Sayyidina Ali, namun masih menggolongkan mereka sebagai saudaranya bukan dikafirkan atau dimurtadkan.
إخوان بغوا علينا
Artinya: Saudara kita yang merongrong kita.
Yang kelima adalah Adam at-Tanābuz bil alqōb tidak suka menjuluki dan menggelari orang lain atau yang tak sepaham dengan gelar yang melecehkan, menghina dan meremehkan, lebih-lebih berkaitan dengan postur. Seperti kata jokodok, iblis, munafik, setan dan lain-lain.
“Itu bukan ciri Aswaja, apalagi Aswaja An-Nahdliyah yang menjadi identitas organisasi terbesar dunia yaitu Nahdlatul Ulama,” pungkasnya di hadapan puluhan Pengurus Anak Ranting (PAR) NU.
Editor : Ach. Khalilurrahman

