Pragaan, NU Online Sumenep
Sabtu (19/02/2022) Pengurus Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama (LDNU) Sumenep mengadakan acara Halaqah Dai Daiyah di aula kantor PCNU setempat.
Halaqah menghadirkan pembicara tersohor yang sudah malang melintang di dunia dakwah yaitu KH. Muhammad Zainurrahman Hammam Ali, KH. Imam Hendriyadi dan KH. Ahmad Madzkur Abdul Wasik.
K. Imam Sutaji selaku Ketua LDNU Sumenep dalam sambutannya menjelaskan bahwa tujuan dari kegiatan Halaqah Dai Daiyah pertama sebagai media silaturrahim bagi para pendakwah di lingkungan Nahdlatul Ulama.
Tujuan yang kedua dan ketiga yaitu untuk memantapkan strategi dakwah yang efektif dan efisien serta memperkuat dakwah Aswaja dengan pemahaman korelasi agama dan budaya.
Yang keempat dimaksudkan untuk memperkuat pemahaman relasi agama dan negara.”Terakhir saya berharap nanti dapat terbentuk Forum Da’i Da’iyah di lingkungan NU Sumenep,’ ucapnya.
Sementara itu dalam sesi Halaqah, K. Zainur sapaan akrab pembicara pertama menjelaskan tentang dakwah bil lisan dan bil hal. Yang dimaksud dengan dakwah bil lisan adalah dakwah yang disampaikan secara lisan melalui seruan. Sedangkan dakwah bil al-hal adalah dakwah yang disampaikan dengan mengutamakan perbuatan.
Sementara itu, K. Hendri sapaan akrab penyaji yang kedua, membedah hubungan agama dan budaya. Hubungan antara agama dan budaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan tidak boleh dipertentangkan.
Beliau sebut ada budaya bangsa jahiliyah yang tetap dilanjutkan oleh nabi seperti budaya tawaf dan aqiqah. Ada sebagian tradisi lama bangsa arab yang tetap dilanjutkan dengan membuang anasir yang tidak sesuai dengan syariat.
“Pada masa Jahiliyah, jika salah seorang di antara mereka ada yang memiliki bayi, mereka menyembelih domba dan darahnya dilumurkan ke kepala si bayi. Setelah Islam datang, tradisi akikah dengan menyembelih domba tetap dilanjutkan, mencukur rambut si bayi, dan melumuri kepalanya bukan dengan darah tapi minyak za’faran,” ujarnya.
Jadi ada budaya yang dilegalkan, ada yang sama sekali diamputasi kalau nyata bertentangan dengan syariat.
Sementara itu K. Madzkur pembicara ketiga membahas hubungan antara negara dan agama. Tujuannya agar negara menjadi aman. “Negara yang aman akan menjadi ladang berkembangnya syariat Islam,” jelasnya.
Demi tegaknya tujuan jangka panjang Fathu Makkah dimana warga Makkah masuk Islam secara serentak,
perundingan Hudaibiyah seolah cenderung merugikan umat Islam, tapi perdamaian menjadi tujuan utama.
Demi perdamaian, katanya, sebagian redaksi pembuka perjanjian Hudaibiyah, kata “Bismillahirrahmanirrahim” rela dicoret menjadi “Bismika Allahumma”. Serta tulisan “Hadza ma qadla ’alaih muhammad rasulullah”. Dua kata “Rasul dan Allah” rela dicoret menjadi Muhammad bin Abdullah saja demi perdamaian dan tujuan jangka panjang.
“Menghindari pertikaian dan pertumpahan darah adalah sikap yang dijunjung tinggi oleh Rasulullah. Perdamaian menjadi prioritas tujuan, meski isi kesepakatan ‘mengurangi’ kebesaran nama agama pada tataran simbolis,” ucapnya.
Setelah acara selesai dibentuk Forum Da’i Da’iyah dibawah tanggung jawab Lembaga Dakwah Nahdlatul Ulama Sumenep.
Forum dimaksud mempercayakan penasehat kepada penceramah senior KH. Musyfiq Makmum, KH. Muhammad Zainurrahman Hammam, KH. Imam Hendriyadi dan K. Ahmad Zubairi Karim.
Ketua Forum diberikan kepada K. Izzul Muttaqin, M.Pd.I, Wakil Ketua I KH. Subhan Khotib, Wakil Ketua II Nyai Hj. Chairun Nisa’, S.Ag. Sekretaris Ustadz Suhairi, S.Pd.I. dan Bendahara forum diberikan kepada Ustadz Junaidi Taufiq, SE.
Editor : Ach. Khalilurrahman

