Image Slider

Ekstensifikasi Dakwah: Melampaui Pengertian yang Lumrah

Oleh: Aldi Hidayat

Dakwah secara sederhana berarti ajakan. Segala ajakan adalah dakwah. Kosakata ini lantas menjadi milik Islam, sehingga mengalami penyempitan makna sebagai ajakan menuju kebenaran dan kebaikan menurut Islam. Dakwah sama dengan misi dalam Kristen. Pelaku dakwah disebut da’i, sedangkan pelaku misi disebut misionaris. Islam dan Kristen sama-sama memiliki doktrin ajakan, khususnya mengajak orang-orang lain memeluk dua agama tersebut. Penulis tidak akan memperpanjang kesamaan antara dua agama tersebut, melainkan bakal meruncing pada dakwah versi Islam.

Dalam QS. Al-Nahl, Ayat 125, Allah membagi dakwah kepada tiga, yaitu hikmah, maw’izhah hasanah dan mujadalah. Fakhr al-Din al-Razi dalam karya monumentalnya, al-Tafsir al-Kabir wa Mafatih al-Ghayb mengartikan hikmah sebagai dakwah yang memuaskan dan bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Adapun maw’izhah hasanah ialah dakwah yang memuaskan, meski secara ilmiah kurang dapat dipertanggungjawabkan. Dakwah kategori ini cocok sebagai menu spiritual masyarakat awam. Sementara itu, mujadalah adalah dakwah dialogis.

Dakwah dari sudut target bagi penulis dibagi dua. Pertama, dakwah formal yaitu dakwah yang terang-terangan mengajak pada Islam, lengkap dengan aneka pernak-pernik yang lumrah dianggap sebagai bagian dari Islam. Dakwah macam ini adalah seperti ceramah keagamaan atau apa pun itu yang mengajak audien untuk meramaikan maulid, tahlil, berbusana muslimah, membuat Perda Syariah dan lain sebagainya. Kedua, dakwah substansial yaitu ajakan menuju nilai-nilai Islam, kendati secara tampilan, terkesan bukan bagian dari Islam. Dakwah macam ini adalah seperti kesediaan Gus Dur mengikuti serangkaian acara di Gereja. Secara kasat mata, tindakan itu membuat Gus Dur murtad (keluar dari Islam). Akan tetapi, jika ditelusuri lebih dalam, tindakan tersebut sejatinya mencerminkan nilai Islam, yaitu toleransi. 

Barangkali beberapa kalangan tetap bersikukuh mengafirkan Gus Dur. Di sini, kita perlu melihat konteks atau secara sederhana keadaan. Dalam keadaan apa Gus Dur berkenan melakukan itu? Gus Dur melakukannya tatkala Indonesia terancam oleh gerakan separatis (hendak memisahkan diri dari NKRI). Gus Dur meresponnya melalui tindakan tadi. Apakah tindakan macam ini mendapat legitimasi dari kitab klasik? Tentu saja ada. Syekh ‘Abdullah Ba ‘Alawi dalam karyanya, Sullam al-Tawfiq menyatakan bahwa murtad terjadi lantaran menghina atau meremehkan doktrin-doktrin sakral dalam Islam, seperti rukun iman, rukun Islam dan lain sebagainya. Masalahnya sekarang apakah tindakan Gus Dur disebut menghina Islam? Apakah tindakah dinilai berdasarkan tampilannya atau berdasarkan motif dan konteksnya? Jika Anda sebagai guru memukul murid, lantaran si murid nakal kelewat batas, apakah Anda rela disebut barbar? Kalau Anda berteriak takbir dalam shalat, sebab menjadi imam bagi jama’ah yang banyak, sedangkan pengeras suara tidak ada, apakah Anda rela disebut teroris? Jika Anda membawa celurit untuk mencari rerumputan sebagai makanan sapi, apakah Anda rela dibilang mau membunuh orang? Bukankah semua tindakan tadi secara tampilan, mengarah pada hal-hal yang dianggap negatif? Memukul secara tampilan bukan bagian dari Islam, karena Islam mengajarkan kasih sayang. Takbir bisa berarti ajakan teroris. Bawa celurit bisa berarti hendak carok. Demikian juga mengikuti serangkaian kegiatan Gereja dianggap murtad secara tampilan. Akan tetapi, jika kita lihat konteksnya, di mana bangsa ini pada saat itu terancam pecah, sedangkan Gus Dur saat itu merupakan figur kebanyakan orang, maka apa jadinya, sang figur massa yang banyak, menolak pergi ke Gereja dalam rangka merekatkan persatuan? Tidakkah masyarakat awam bisa menjaga jarak untuk kemudian timbullah saling curiga antara muslim dan umat kristiani?

Paparan di atas hendak menunjukkan bahwa dakwah tidak sesempit pemahaman rata-rata. Dakwah pada intinya adalah mengajak pada yang baik, meski secara tampilan belum islami. Jika tampilannya tidak islami, mungkinkah sang audien dakwah akan memeluk dan mematuhi Islam? Islam itu agama fitrah, yakni pasti sesuai dengan watak dasar dan akal waras umat manusia. Jika seseorang terbiasa dengan kebaikan yang secara tampilan tidak islami, lambat-laun dia akan berubah pikiran bahwa ternyata Islamlah sang tujuan itu sendiri. Mengapa demikian? Kebaikan itu pelan tapi pasti membuka mata hati orang yang bersangkutan. Demikian. Wallahu A’lam.

*) Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga