Zaman berubah sedemikian cepat. Saat ini kita sampai pada zaman disrupsi informasi. Disrupsi adalah terjadinya perubahan yang fundamental atau mendasar yang mengacak pola tatanan lama dan menciptakan pola tatanan baru. Lahirlah kini evolusi dan digitalisasi informasi di berbagai aspek kehidupan.
Sebelum datangnya era ini, dulu kita menyerap informasi dengan menonton TV atau membaca media cetak, koran, tabloid.
Di zaman itu, TV dan media cetak telah memengaruhi cara pandang kita pada berbagai persoalan sekaligus memengaruhi pengambilan keputusan penting bagi individu dan negara. Kini trend-nya makin lama makin tergeser. Bukan lagi pada TV dan koran, sekarang kita sudah dihadapkan pada berbagai medium informasi yang sangat beragam.
Konon, seorang pelukis Perancis yang sangat terkenal dan sulit dicari bandingannya namanya Ernest Meissonier (1815-1891) lukisannya sangat presisi dan dikagumi dunia. Namun saat teknologi camera ditemukan, skillnya seolah terbunuh, tergantikan oleh perubahan hasil camera.
Teknologi benar-benar telah mengubah segalanya. Ensiklopedia manual yang dulu diagungkan sebagai sumber informasi yang memuat topik dan pengetahuan dasar yang ada hubungannya dengan suatu subjek tertentu kini mulai ditinggalkan, digantikan syekh google yang berakal pintar dan menawarkan apa saja. Penjual es batu mulai sepi ketika banyak rumah tangga sudah punya kulkas. Komunitas ojek manual mulai berubah ke gojek online. Kapal feri mulai masuk kandang ditinggalkan pengguanya ketika jembatan penyeberangan dan tol laut sudah dibangun dimana-mana.
Di dunia media, banyak pengusaha media cetak terpaksa merubah wujud medianya menjadi media online, mereka tak ingin tenggelam, lapuk dimakan era disrupsi.
Mereka sadar rating televisi sekarang ambruk, oplah media cetak cekak tak bergerak. Media massa daring atau online-pun tak pernah nyaman karena terus diganggu oleh kecepatan informasi yang dibagi di platform-platform media sosial.
Kabarnya ada puluhan media mainstream cetak saat ini runtuh, bangkrut gara- gara bertahan dengan mindset lama tak mau bergeser dari cetak ke teknologi.
Lalu apa yang tak mati di era ini?. Yang tak akan mati adalah human-nya (manusianya) people-nya (orangnya) dan SDM-nya. Yaitu Human manusia yang terus berpijak pada nilai-nilai kejujuran, integritas, dan akuntabilitas. Itulah yang tidak akan pernah mati sampai dunia ini juga selesai. Disaat orang lain mengumbar kebohongan untuk membuat distruksi, mereka yang tak ingin mati, mereka tetap bertahan dengan pemberitaan berintegritas, jujur dan kredibel.
Tak dapat dilawan, zaman bergulir sedemikian cepat. Orang sudah bisa bikin media sendiri hanya dari kekuatan gadget di tangan. Karenanya banyak media berjatuhan. Kompas, Tempo yang dulu berjaya, sekarang mulai kelimpungan.
Banyak media mainstream ternyata belum survive dengan hentakan keadaan, terlihat panik, gelisah bahkan banyak yang menyalahkan buzzer, youtuber dan influenzer.
Karena kalah bersaing, buzzer lalu dituduh membabi buta mendukung apapun yang dilakukan negara dan kelompok moderat. Padahal banyak juga buzzer yang berhati baik. Mendukung pemerintahan bagi mereka bukanlah mendukung person oligarkinya, tapi mendukung simbol negara, simbol pemerintahan dari banyak gempuran provokasi.
Pada saat yang berbeda, buzzer yang baik juga harus berani menghantam kebijakan oligarkis yang tidak berpihak pada nilai-nilai kebenaran.
Banyak dijumpai, berbagai provokasi yang dialamatkan pada negara harus dicounter agar memberi keberimbangan berfikir bagi warganya. Negara harus dijaga dari narasi sesat. Untuk itulah peran buzzer diperlukan sebagai penyeimbang, sekaligus sebagai penghantam rezim jika otoriter.
Buzzer itu arti sederhananya bas, suara berdengung bernada rendah. Yang berdengung itu lebah. Sifat lebah seharusnya memberi madu dan mengcounter kebisingan. Buzzer juga sering disebut sebagai orang atau kelompok yang memiliki pengaruh tertentu untuk menyatakan suatu kepentingan. Buzzer bergerak dengan sendirinya untuk menyuarakan sesuatu, atau bisa jadi ada sebuah agenda yang disetting secara khusus.
Harus diakui juga, boleh jadi memang buzzer dibayar untuk kepentingan kelompok tertentu atau negara, tapi tidak semua kerja buzzer buruk dan meresahkan masyarakat. Hanya buzzer berhati jahatlah yang menjadi mesin penghancur tatanan kehidupan.
Selama ini pemerintah membayar media mainstream untuk membackup kebijakannya, sekarang buzzer-pun menjadi obyek bayaran yang efektif untuk menyampaikan program sekaligus mengcounter narasi bohong pada negara.
Apakah pemerintah salah karena bekerja dengan buzzer, tak selalu salah. Jika pemerintah memanfaatkan buzzer untuk mengamankan kebijakan baiknya, Itu namanya pemerintah adaftif pada media yang efektif.
Di era disrupsi, kita juga kadang terganggu dengan akun anonim. Akun anonim yaitu sebuah akun penggunanya menyamarkan identitas asli dalam sosial media. Orang menyebutnya juga dengan akun bodong.
Menghadapi itu, maka penikmat media sosial seharusnya tidak boleh menggunakan kacamata kuda, semua ditelan tanpa disaring. Akal dan literasi harus digunakan sebagai cara untuk menilai integritas akun dan tulisan yang keluar. Sehingga akun anonim sekalipun bukanlah jadi masalah dalam menyaring informasi karena ukurannya bukan siapa dibaliknya tapi apa yang diberitakan.
Ya, sejatinya memang kita harus tahu otak besar di belakang setiap informasi dari akun anonim, tapi tidak tahu sekalipun, penilaian obyektif kita dengan menggunakan literasi keilmuan akan mampu mengurai semuanya. Sehingga kita bisa mengcounter provokasi kebencian yang ditimbulkan.
Menurut saya, di era post truth informasi, buzzer tak boleh dijadikan musuh, tapi dirangkul, diajak bergandeng tangan untuk saling mengisi ke arah yang lebih positif. Kekuatan korporasi media saat ini telah pecah menjadi akun pribadi-pribadi yang kadang merisaukan, atau disisi lain malah mendukung kemakmuran kehidupan.
Ingat, teknologi ini ada untuk memudahkan masyarakat mendapatkan informasi. Akal sehat kita yang memilah dan memilihnya. Maka mari jangan membenci perubahan informasi, jangan mudah menyalahkan orang atau kelompok pesanan. Bergulirlah dengan santai dan tidak kehilangan akal sehat menghadapi perubahan itu sendiri agar tetap mendapatkan saripatinya.
Konon, disaat yang lain mati bergelimpangan, yang akan terus hidup adalah perubahan itu sendiri dan cara berfikir positif pada semua keadaan.
Penulis : Zubairi Karim
Wakil Ketua PCNU Sumenep.

