Gapura, NU Online Sumenep
Pengurus Majelis Wakil Cabanag Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura menutup rangkaian Haul Muassis dan Harlah ke-99 NU dengan acara pengajian umum yang mendatangkan salah satu Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Kiai A. Daridiri Zubairi, pada Rabu (16/02/2022) di halaman kantor pusat Baitul Maal wa Tamwil Nuansa Umat (BMTNU) Jawa Timur.
Dalam tausiyahnya Kiai Dardiri menyampaikan bahwa NU tidak bisa dinalar, sebab NU adalah organisasi yang secara usia sudah menuju satu abad.
“99 tahun versi tahun Hijriyah dan 96 tahun versi Masehi, tidak ada organisasi sebesar NU di Indonesia bahkan di dunia,” ungkapnya.
Beliau menegaskan bahwa pengurus NU tidak ada honornya, dan secara kasatmata pengurus NU tidak terlalu serius dalam mengurus NU, namun jalannya organisasi ulama ini semakin lama semakin kokoh berdiri. Beliau mengutip dawuh KH Ridwan Abdullah, ‘Jikalau kamu aktif di NU dan kekurangan, cacilah aku’. Hal itu bermakna pengurus NU tidak perlu ragu dengan rezekinya jika mengurusi NU.
“Jumlah warga NU sampai saat ini sudah mencapai 100 juta lebih. Menjelang satu abad NU ini, pengurus NU, khususnya MWCNU Gapura harus memiliki kegiatan terukur dan terencana dengan baik. Keanggotaan pun harus didata dengan baik dan benar,” harapnya.
Menurut beliau, sebenarnya cikal bakal berdirinya NU jauh sebelum 1926, sedangkan faham yang dikembangkan oleh NU yaitu faham Ahlussunnah wal Jamaah sudah ada sejak zaman Walisongo.
KH Abd Wahab Chasbullah adalah penggerak berdirinya NU, sementara Hadratussyekh KH M Hasyim Asy’ari sebagai tokoh spiritual Mbah Wahab. Setiap akan melakukan gerakan-gerakan dalam mendirikan sebuah wadah atau organisasi, beliau selalu minta persetujuan sama Mbah Hasyim, seperti saat mau mendirikan Nahdlatul Wathan (yang bergerak dalam pendidikan rakyat) dengan membuka madrasah yang dikhususkan bagi anak-anak warga, kemudian mendirikan Tashwirul Afkar (yang bergerak dalam pemikiran untuk tercapainya kemerdekaan Indonesia), dan Nahdlatut Tujjar (yang bergerak di bidang koperasi/perekonomian warga).
Dalam kesempatan itu, beliau menyampaikan amanat Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Pertama, kaderisasi dan pendataan, pengurus NU harus melakukan pengkaderan pada setiap warga NU, selain itu juga pengurus NU harus melakukakan pendataan warga NU yang mengidentifikasi dirinya sebagai warga NU yang kemudian difasilitasi untuk membuat KARTANU.
Kedua, pendidikan kualitas, pengurus NU harus mengupayakan pesantren, madrasah, langgar, dan sekolah yang dimiliki warga NU harus memasukkan pendidikan keaswajaan dan ke-NU-an. Ketiga, ekonomi kemandirian. Dalam hal ini menyebutkan adanya marketplace Niagari yang bergerak bersama warga Gapura.
Keempat, kesehatan dan kesejahteraan, pengurus NU dan pemerintah memiliki kewajiban yang sama untuk memastikan bahwa warganya sejahtera dan sehat dalam kehidupannya. Beliau berharap agar tidak ada warga yang tidak makan dan sulit berobat, kader kesehatan yang dibentuk LKNU harus dan wajib mendata warga yang membutuhkan.
Kelima, literasi Dakwah digital. Menurut beliau, anak muda NU harus menguasai teknologi untuk menyeimbangkan faham-fahan atau ajaran yang berbeda dengan NU. Menurutnya, NU Gapura memiliki potensi yang luar biasa untuk hal ini.
“Makanya potensi itu harus dikelola dengan baik sehingga nantinya menjadi kekuatan yang dahsyat untuk kesejahteraan warganya,” harap pengasuh Pondok Pesantren Nasyatul Muta’allmin Gapura itu.
Sementara itu, beliau juga berharap kepada pengurus NU dan kepala desa untuk bersama-sama mengurus warga, sehingga tidak ada lagi warga yang tidak mempunyai beras atau kelaparan, tidak ada anak-anak yang putus sekolah, dan tidak ada warga yang susah berobat karena keterbatasan biaya.
“Sehingga NU mampu menjadi tempat pelindung bagi warga, pelindung bangsa, dan manfaat bagi warga,” pungkasnya.
Pewarta: Matroni dan Aribuddin Maliki
Editor: A. Warits Rovi

