Image Slider

Ilmu Nahwu Sebagai Perantara Menjernihkan Kalbu

Belajar Ilmu Nahwu merupakan suatu keniscayaan bagi kalangan pelajar hari ini, khususnya di kalangan nahdliyin. Belajar ilmu nahwu adalah salah satu perantara dalam memahami makna-makna yang terkandung di dalam kitab gundul (kitab kuning). Selain memahami beberapa karangan ulama terdahulu, belajar ilmu nahwu merupakan bagian dari menjaga kemurnian Al-Qur’an dan Hadits. Maka tidak salah, jika dalam kaidah ushul fiqih mengatakan bahwa, sesuatu yang menyempurnakan terhadap kewajiban maka hukumnya juga wajib. Termasuk pula dalam hal belajar ilmu Nahwu.

Ada banyak yang mengisahkan bahwa belajar ilmu nahwu merupakan perantara dalam menyampaikan makna-makna kehidupan. Karena sejatinya, ilmu nahwu merupakan ilmu yang sarat dengan analogi-analogi kehidupan yang bisa dijadikan refleksi dalam bersikap di berbagai lini; dari tatanan syariat hingga akhlak dalam kehidupan kita sehari-hari. Salah satu ulama yang sangat alim dalam bidang ini adalah Syaikhona Kholil Bangkalan. Karena kealimannya di bidang nahwu, ia bisa menunjukkan karamah dan kewaliannya kepada masyarakat sekitar. Memang dahsyat ilmu nahwu ini hingga bisa menyentuh terhadap batin orang yang sedang dididik, termasuk masyarakat sekitar ketika itu.

Buku yang berjudul Nahwul Qulub (gramatika kalbu) ini terbagi menjadi dua versi, yaitu Nahwul Qulub al-Kabir (besar/luas) dan Nahwul Qulub as-Shaghir (kecil/ringkas). Keduanya sama-sama menjelaskan tentang manfaat dan isi kitab, yaitu bahasa sufistik. Buku ini merupakan buku yang menjelaskan bagaimana persinggungan ilmu nahwu dengan nilai-nilai sufistik, sehingga pembaca bisa mengenal rahasia kehidupan melalui ilmu tata bahasa arab. Tidak salah jika asal kata nahwu sebagai contoh benar-benar bisa menjadi pionir dalam membimbing tata bahasa kalbu dalam mengenal Tuhan Yang Maha Kuasa. Sehingga dapat menjadi contoh paling nyata dalam menata kehidupan manusia.

Menurut Imam Al-Qusyairi, nahwu adalah sebuah cara menuju suatu tujuan, yaitu mampu mengucapkan kalimat dengan benar. Dengan demikian, Nahwul Qulub adalah suatu cara agar dapat mengucapkan perkataan terpuji berdasarkan hati dan perkataan. Hal tersebut tiada lain adalah dialog manusia dengan Allah melalui bahasa kalbu (hal.11). Karenanya, orang yang berdialog dengan Tuhannya dibagi menjadi dua dalam buku ini. Pertama, Al-Munadah dengan cara memanggil-manggil Allah. Kedua, Al-Munajah dengan cara merasakan kehadiran Allah.

Analogi tentang perjalanan spiritual menuju Tuhan dalam buku ini sangat rasional bagi mereka yang mengetahui terhadap istilah-istilah ilmu nahwu. Buku ini menjelaskan terlebih dahulu istilah-istilah dalam ilmu nahwu yang kemudian dibarengi dengan alasan-alasan dan perumpaan dalam dunia sufistik. Contohnya, definisi Kalam dalam pengertian ilmu nahwu adalah rangkaian kalimat yang terdiri dari isim (kata benda), fi’il (kata kerja), dan huruf (kata sambung) yang menghasilkan makna. Dalam istilah Nahwul Qulub, isim adalah Allah. Dan fi’il adalah segala sesuatu yang berasal dari Allah. Sedangkan, huruf adalah yang khusus melekat pada isim. (hal.12)

Contoh lain tentang analogi-analogi ilmu nahwu misalnya terdapat juga dalam pengertian makrifat dan nakirah atau istilah mubtada’ dan khabar dan berbagai istilah lainnya dalam pelajaran ilmu nahwu. Oleh sebab itu, menanamkan benih-benih makna kehidupan, terutama dalam sufistik menjadi pendidikan karakter yang dicita-citakan oleh semua kalangan. Dari pemerintah, guru, orang tua, hingga lembaga pendidikan tentu akan tetap mengedepankan karakter sebagai salah satu ciri khas untuk mempertahankan keberlangsungan moralitas peserta didik yang semakin membaik. Pendidikan karakter menjadi pedoman dalam mengaktifkan kembali nilai-nilai dan kejiwaan peserta didik di tengah hegemoni kebobrokan moral pemuda hari ini. Dengan membaca buku ini, peserta didik akan memantapkan dirinya untuk berhubungan dengan Sang Maha Kuasa melalui analogi-analogi sufistik yang ada di dalamnya.

Judul: Nahwul Qulub
Pengarang: Imam Al-Qusyairi
Penerjemah: Kiai Supirso Pati
ISBN: 978-6239-004-224
Tahun Terbit: 2019
Tebal Halaman : 168 halaman
Penerbit: Wali Pustaka

Peresensi: Abd Warits, Redaktur NU Online Sumenep

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga