Oleh: Lukmanul Hakim
Pernikahan bukan sekadar janji suci yang diikrarkan di hadapan wali, saksi, atau para tamu undangan tatkala ijab qabul diucapkan. Akan tetapi, ia merupakan janji suci di hadapan Allah SWT.
Pernikahan bukanlah tebar pesona sebagaimana banyak orang memandang pernikahan perlu dirayakan dengan meriah lagi mewah. Namun sejatinya, janji suci itu mengandung tujuan sangat mulia yang menetapi syariat-Nya, menjalankan sunnah nabi-Nya, serta mengemban visi, misi, dan orientasi cinta yang agung.
Ia adalah manifestasi penghambaan kepada Tuhan, sebuah ibadah untuk meraih kebahagiaan hakiki lahir batin, dunia, dan akhirat. Apabila salah melangkah maka konsekuensinya tak hanya sengsara di dunia, namun di akhirat ia merugi.
Imam Al-Baihaqi dalam riwayat dari Asma’ binti Abu Bakar, bahwa Abu Bakar ash-Shiddiq berkata, “Sesungguhnya menikah itu seperti penghambaan. Maka hendaklah salah seorang di antara kalian, melihat kepada siapa ia menyerahkan putri kesayangannya.” (Sunan Al-Kubra, karya Al-Baihaqi, VII/82).
Ketika pernikahan dilandasi dengan petunjuk Islam, Insyaallah pasutri akan dicintai-Nya. Suami yang shalih hendaklah menjadikan bahtera cinta ini untuk berbuat baik kepada istrinya, meski wanita penuh kekurangan asalkan ia shalihah dan taat kepada suami. Seperti sabda Nabi Muhammad SAW:
لاَيَفْرَكْ مُؤْمِنٌ مُؤْمِنَةً إِنْ كَرِهَ مِنْهَا خُلُقًا رَضِيَ مِنْهَا آخَرَ
Artinya: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah. Jika ia tidak menyukai salah satu akhlaknya, tentu ia menyukai akhlak yang lain.” (HR. Muslim no. 469).
Imam An-Nawawi rahimahullah menjelaskan hadits ini dengan mengatakan, “Seyogyanya suami tidak membenci istrinya sama sekali. Sebab, jika ia menemukan akhlak yang tidak disukai darinya, tentu ia akan menemukan akhlak lain yang disukainya. Semisal, istri memiliki perangai buruk, tetapi ia taat beragama, cantik, menjaga kehormatan, atau penuh perhatian terhadapnya, dan lain sebagainya.” (Shahih Muslim bi Syarhin Nawawi, X: 47).
Janji suci yang diucapkan suami hendaklah diwujudkan secara faktual dan aktual dalam kehidupan rumah tangga. Menunaikan kewajiban sebagai pemimpin rumah tangga, seperti menafkahinya, mendidiknya, dan selalu bermuamalah dengan baik. Dalam Al-Qur’an dijelaskan:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِالْمَعْرُوفِ
Artinya: “Dan bergaullah dengan mereka secara patut.” (QS. An-Nisa’: 19).
Ketika para suami mampu mempraktikkan janji suci yang mulia ini tanpa dinodai dengan hal-hal yang menyakiti hati para istri, niscaya kehidupan pernikahan bersama istri akan dirahmati Allah SWT, bahtera cintanya bertabur barakah, dan gambaran ‘baiti jannati’ akan terwujud.
Demikian pula sosok istri idaman, harus pula memegang erat janji suci atas nama Allah SWT, senantiasa mempersembahkan cinta terindah kepada pasangan karena Allah SWT.
Ingat, istri pilihan perlu bersinergi dan berkolaborasi dengan suami untuk menghadirkan potret rumah tangga yang dilandasi nilai-nilai Islam sehingga pernikahan akan sukses dan bernilai ibadah di sisi-Nya. Jangan biarkan badai dan problematika singgah mengusik kehidupan cinta sejati.
Jadilah istri cerdas yang shalihah, tanggap terhadap keinginan suami, setia, perhatian, dan selalu menjadi bidadari yang memberikan kebahagiaan nan tulus.
Mustafa Shadiq Ar-Rafi’i berkata, “Perempuan sebenar-benar perempuan adalah perempuan yang tercipta untuk menjadi materi penyuplai keutamaan, kesabaran, dan keimanan bagi lelaki sehingga bagi lelaki ia adalah inspirasi, ilham, penghibur, kekuatan, penambah kegembiraan, dan penawar rasa sakitnya. Dalam kehidupan ini, perempuan tidak akan menjadi lebih agung dari lelaki, kecuali karena satu hal, yaitu yang menjadikan sifat malunya lebih agung daripada dirinya.” (Wahyul Qalam, II: 151).
Betapa wanita shalihah sangat berarti bagi kehidupan pria karena ia memiliki peran besar untuk suksesnya kehidupan rumah tangga. Mustahil janji suci hanya diwujudkan seorang suami atau istri saja. Pasutri harus kompak dan memiliki tujuan yang sama, hendak dilabuhkan ke mana kapal besar cinta mereka, ke pulau kebahagiaan akhirat ataukah sebatas demi kenikmatan semu di dunia.
Sungguh janji suci akan semakin indah lagi memesona ketika para istri mampu meresapi makna hakikat jati diri sebagai perhiasan dunia yang terindah. Rasulullah SAW bersabda:
الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَ خَيْرُ مَتَاعِهَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ
Artinya: “Dunia itu semuanya menyenangkan, dan sebaik-baik kesenangan dunia adalah wanita shalihah.” (HR. Muslim, no. 1467, An-Nasa’i VI/69, Ahmad II/168, dan Al-Baihaqi VII/80).
*) Mahasiswa Prodi PAI Program Pascasarjana Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Dewan Redaksi Jurnal Pentas Madrasah Aliyah 1 Annuqayah Guluk-Guluk, Pengurus Pimpinan Ranting (PR) Gerakan Pemuda (GP) Ansor Lembung Barat, dan Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk Tahun 2014-2021.

