Kota, NU Online Sumenep
Ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Sumenep, Asmoni menyatakan, paduan suara yang menghibur para masyaikh dan tamu undangan, bernama Bintang Sembilan.
“Saat pertama kali menjabat ketua di tahun 2016, paduan suara diberi nama bintang sembilan. Ini mencirikan bahwa kampus Taneyan Lanjhang identik dengan rasa Nahdlatul Ulama (NU),” ujarnya saat memberikan sambutan di acara Seminar Nasional Historiografi Khittah dan Politik NU dan Launching Beasiswa NU Care – Lembaga Amil Zakat, Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Sumenep, Ahad (06/02/2022).
Tak hanya itu, ia menyatakan siap mendukung program Lazisnu Sumenep. Minimal ia akan menggugah dan memberikan teladan atau contoh pada dosen, staf akademik dan mahasiswa bahwa berinfaq dan bershadaqah pada Lazisnu bagian dari ibadah.
Selain itu, Asmoni mengatakan bahwa banyak program beasiswa yang ada di STKIP. Salah satunya adalah beasiswa Bidikmisi dan Kartu Indonesia Pintar (KIP).
“Alhamdulillah, ini berkah dan rezekinya anak-anak, walaupun di semester 2 ketar-ketir. Tapi insyaallah ada jalan keluarnya,” tuturnya di gedung Graha Kemahasiswaan setempat.
Mantan Pengurus Wilayah (PW) NU Care – LAZISNU Jawa Timur itu menambahkan, pihaknya juga mengalokasikan beasiswa yatim dan yatim piatu.
“Kami mempersilahkan pada warga NU untuk mengkuliahkan putra-putrinya di sini, termasuk santri potensial yang berkeinginan melanjutkan ke perguruan tinggi,” imbuhnya.
Asmoni memberitahukan kepada seluruh pengurus Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) se-Sumenep bahwa STKIP memiliki program rekognisi linieritas.
“Barangkali teman-teman guru di lingkungan madrasah dan sekolah dasar belum linier, bisa dilinierkan. Karena banyak kasus guru-guru NU tidak bisa ikut kompetensi PPPK dan sertifikasi guru. Kami khawatir ada perubahan regulasi yang mengakibatkan sertifikasinya dicabut,” terangnya.
Di akhir sambutannya, ia memohon doa dan dukungannya bahwa pihaknya sedang berusaha pengalih statusan kampus menjadi universitas. Karena di sini memiliki 2 perguruan tinggi, yakni akademika kesehatan dan STKIP.
“Sekarang wajah STKIP tampak ke-NU-annya. Walaupun dalam masa lalu banyak orang memandang kampus ini di luar NU. Padahal yang sebenarnya kampus ini bernuansakan NU yang notabene dosen, staf dan mahasiswanya dari kalangan Nahdliyin,” tandasnya.

