Lenteng, NU Online Sumenep
Momen peringatan hari besar Islam layak sekali dilestarikan. Setiap bulan Rajab diperingatilah acara Isra’ Mi’raj guna menjadi media bertafakur terhadap perjuangan baginda Nabi Muhammad SAW ketika mendapatkan perintah shalat lima waktu.
Demi melaksanakan tradisi tersebut, Mushalla Al-Muttaqin Lembung Barat, Lenteng, kembali mengadakan acara Isra’ Mi’raj dengan mengundang masyarakat sekitar, tokoh masyarakat, Pimpinan Ranting (PR) Muslimat NU dan Fatayat NU Lembung Barat. Acara ini dikemas dengan pengajian umum bersama KH Abdul Ghafir Al-Khalid selaku pengasuh Pondok pesantren Al-Itqan, Nyabakan Barat, Batang-Batang, Selasa (2/3/2021) di halaman mushalla setempat.
Acara dibuka dengan pembacaan tawasul, dilanjutkan pembacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an, pembacaan shalawat Nabi, sambutan oleh pengasuh mushalla Al-Muttaqin KH Sunnatulllah. Dalam sambutannya, beliau menjelaskan tujuan acara.
“Bagaimana nahdliyin dan nahdliyat mengingat kembali sejarah peristiwa yang luar biasa dan akal tidak dapat menerimanya, yaitu ketika nabi isra’ mi’raj dari masjid al-Haram, masjid al-Aqsha, ke sidrat al-Muntaha, dan pada akhirnya mendapatkan perintah shalat. Sejak itulah, ada perintah mengerjakan shalat,” ujar alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk.
Acara berikutnya diisi dengan kegiatan inti, yaitu ceramah agama oleh KH Abdul Ghafir Al-Khalid. Dalam ceramah yang berdurasi satu jam lebih itu, beliau memulainya dengan menjelaskan tentang cara mengenal Nabi Muhammad SAW.
“Salah satu cara mengenal dekat Nabi adalah mengikuti sunahnya walaupun sifatnya kecil. Kemudian menjaga shalat lima waktu, memperbanyak shalawat, dan melakukan tawasul kepada Nabi guna menyambung ikatan bathin ruhaniyah dengannya,” ulas alumni Pondok Pesantren Al-Is’af Kalabaan Guluk-Guluk.
Pria yang juga pernah mengenyam pendidikan di Pondok Pesantren As-Sadat Ambunten juga menceritakan tentang peristiwa orang-orang terdahulu yang kokoh dalam mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT dan menampakkan rasa cintanya kepada Nabi-Nya. Mestinya, ini perlu dijadikan pelajaran bagi generasi muda.
“Zaman dulu, ada sebuah kaum yang kokoh mempertahan keimanannya. Kita ambil contoh Siti Masyithah yang menjadi pembantu raja Fir’aun. Raja yang mengaku Tuhan ini menyuruh kepada pembantunya untuk menyembahnya, tetapi dia dengan tegas menolaknya,” ungkapnya.
Mendengar hal itu, lanjutnya, Fir’aun marah bercampur geram dan segera mengambil langkah untuk memaksa menyembahnya dengan cara menggoreng suaminya, anak-anaknya, dan pada akhirnya Siti Masyithah lah juga menerima hukuman yang sama.
“Walaupun dengan cara itu, dia tetap berpegang teguh pada keyakinannya kepada Allah SWT dan Nabi-Nya sehingga dari peristiwa itu dia layak menerima balasan surga. Dari sini dapat kita ambil hikmah bahwa kita dituntut untuk lebih daripada itu,” imbuhnya.
Beliau juga menyelipkan pembahasan tentang kedahsyatan atau fadilah shalawat Nabi. Jika warga NU istiqamah memabaca shalawat Nabi, maka akan aman dari kebakaran, segala bentuk pencurian, dan segala macam cobaan.
“Semakin banyak bershalawat, maka semakin tampak kecintaan kita kepada Nabi. Sebagaimana dalam surat Al-Ahzab ayat 56 innallāha wa malā`ikatahụ yuṣallụna ‘alan-nabiyy, yā ayyuhallażīna āmanụ ṣallụ ‘alaihi wa sallimụ taslīmā,” pungkasnya.
Diakhir acara ada sesi pemberian cenderamata oleh pengasuh mushalla Al-Muttaqin, K Safrawi kepada penceramah.
Pewarta: Lukmanul Hakim
Editor: Firdausi

