Kota, NU Online Sumenep
Penulis buku Historiografi Khitthah dan Politik Nahdlatul Ulama, Ahmad Baso menegaskan, bahwa hendaknya dalam berpolitik, menjadikan kiai-kiai NU sebagai guru politik, bukan lantas dijadikan alat politik.
“Berbicara tentang khittah, poinnya adalah jadikan kiai NU sebagai guru politik. Bukan alat politik,” ujarnya saat menanggapi pertanyaan salah seorang peserta Seminar Nasional yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) Sumenep, Ahad (6/2/2022) di Graha Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumenep.
Ahmad Baso lantas menambahkan bahwa khittah yang dimotori oleh KH. Ahmad Shiddiq berlandaskan pada tiga hal, antara lain pengorganisasian, kaderisasi dan ideologisasi.
“Ideologisasi ini bagaimana membangunkan para kiai agar sadar berpolitik. Jadi sebelum berbicara politik, NU terlebih dahulu harus melek politik. Sehingga menjadi aktor kaderisasi nantinya,” imbuhnya.
Bilamana NU abai dalam hal ini, maka partai yang dilahirkan dari rahimnya sendiri akan mencari jalan sendiri arti politik. Karena itu, lanjut Baso, kaderisasi penting dikawal untuk menegaskan antara posisi NU dan partai politik.
Dirinya pun menegaskan bahwa NU dalam ranah politik harus pula dijadikan sebagai guru. Bukan justru murid. Baik dalam hal politik kebangsaan maupun politik praktis.
“Jadi tidak mesti pengurus NU yang terlibat dalam politik praktis. Tetapi NU harus menjadi guru politik,” pungkasnya.

