Kota, NU Online Sumenep
Wakil Rais Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur, KH. Ali Maschan Moesa, menekankan pentingnya akhlak dalam ranah politik. Hal itu disampaikan dalam Seminar Nasional yang diselenggarakan Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) Sumenep, Ahad (6/2/2022) di Graha Kemahasiswaan STKIP PGRI Sumenep.
“Kalau NU secara kelembagaan ya tetap memperjuangkan politik kebangsaan. Kalau orang-orangnya silahkan berpolitik praktis. Tetapi dengan catatan, akhlaknya seperti Rasulullah SAW,” ujarnya.
Pasalnya, Guru Besar Ilmu Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu menanggapi beberapa pernyataan yang disampaikan Ahmad Baso, penulis buku ‘Historiografi Khitthah dan Politik Nahdlatul Ulama’ yang juga menjadi pembicara dalam Seminar Nasional tersebut.
Di awal, beliau menceritakan beberapa pengalamannya sejak aktif di NU hingga masuk di ranah politik. “Saya berpengalaman jadi ketua NU 10 tahun, jadi DPR di Jakarta satu periode. Bahkan juga ditawari jadi duta besar Arab Saudi. Tetapi tidak diperbolehkan oleh ibu saya. Disuruh ngajar saja. Lebih barakah,” ujarnya menceritakan.
Di dunia politik, menurut KH. Ali Maschan, harus menjadikan akhlak yang baik sebagai modal dasar dalam berpolitik. Hal demikian menjadi penting karena dalam perspektif Al-Qur’an, politik adalah imamah, atau pemimpin yang tidak hanya fokus pada urusan politik saja, melainkan juga agama.
Karenanya, lanjut Kiai Ali Maschan, aspek akhlak menjadi hal utama yang harus ditekankan bagi para politisi NU.
Menanggapi perihal khittah NU, Kiai Ali Maschan mengatakan bahwa seringkali di setiap ada perubahan, termasuk perihal khittah, masyarakat selalu fokus pada perubahan itu sendiri.
“Justru yang benar ya kita menyikapi dengan benar atas perubahan tersebut,” ujarnya.
Dinamika ke-NU-an yang terjadi, sejak awal berdirinya sebagai organisasi sosial keagamaan, kemudian berubah menjadi partai politik, dan kembali lagi ke khittah 1926, adalah realitas wajar. Terpenting, menurut Kiai Ali Maschan, adalah bagaimana menyikapi dengan benar atas perubahan-perubahan tersebut.
“Di NU itu terjadi perubahan-perubahan sudah biasa. Termasuk urusan politik. Justru ini harus kita sikapi dengan baik dan bijak. Itu yang terpenting,” pintanya.
Sehingga, menyikapi realitas tersebut, NU secara kelembagaan tetap menjalankan politik kebangsaan, memberikan kebebasan kepada warga NU untuk berpolitik praktis, kemudian pengurus NU harus mampu mengayomi dan memayungi para kader NU yang ada di dunia politik.
“NU perlu berkoordinasi atau kolaborasi secara jam’iyah dengan orang-orang yang ada di politik agar semakin kuat. Ini tidak mudah. Butuh kearifan,” pungkasnya.
Diketahui, Seminar Nasional tersebut juga hadiri oleh Ahmad Baso secara virtual sebagai pembicara dan Aksin Wijaya hadir secara langsung menemani KH. Ali Maschan Moesa yang juga sebagai pembicara.
Editor: Abdul Warits

