Oleh: Miftahul Khoir*
Kaum agamawan seperti kita, pasti tidak asing dengan istilah surga dan neraka. Sebuah tempat yang dijanjikan Tuhan sebagai bentuk balasan bagi hambanya yang melakukan amal kebaikan. Diilustrasikan di dalamnya terdapat bidadari, buah-buahan yang tidak pernah ada di bumi, taman yang di bawahnya terdapat sungai yang mengalirkan air susu, sebagaimana tercantum dalam QS; Al-Baqarah 25; Al-Imron 15,136,195,198. Sedangkan Neraka sebaliknya, adalah tempat pembalasan bagi orang-orang yang melakukan kemaksiatan. Dicantumkan dalam QS; Al-Baqarah 119; Al- Imran 151; An-Nisa’ 169 dan Al- Maidah 86 .
Tetapi yang menjadi persoalannya kali ini, bagaimana jika mereka yang melakukan kebaikan bukan karena Tuhan, melainkan kerena mengharap kenikmatan surga? dan jika Tuhan memasukkan orang yang beramal baik ke dalam neraka serta memasukkan orang yang bermaksiat ke dalam surga?.
Semua itu berada dalam kuasa Tuhan yang mahakuasa melakukan segala sesuatu yang Ia kehendaki kepada ciptaan-Nya. Jika kita mengklaim, bahwa setiap hamba yang melakukan kebaikan harus masuk surga, sedang yang bermaksiat harus masuk neraka, secara tidak langsung kita menuntut Tuhan, serta menafikan hak otoritas-Nya, otomatis kita menghapus sifat Qudrah dan Iradah yang di miliki oleh Tuhan.
Sebagian dari kita berfikir “berarti janji Tuhan itu dusta?”. Iya, perlu diingat kembali, bahwa Tuhan masih mempunyai sifat jaiz yang berbunyi “melakukan sesuatu yang mungkin atau tidak sama sekali”. Dan juga karena yang membuat janji tersebut Tuhan bukan kita. Agar lebih mudah saya ilustrasikan begini: ada seseorang meletakkan tulisan Dilarang Masuk di depan pintu rumahnya. Larangan tersebut ditujukan kepada setiap orang yang melintas rumah orang tersebut. Tetapi tidak menutup kemungkinan orang tesebut masih memasukkan beberapa orang yang ia kehendaki. Apakah orang tersebut melanggar aturan yang ia buat sendiri?, Meskipun iya, Ia memiliki hak kuasa penuh atas rumahnya sendiri. Sama halnya yang terjadi dengan ketentuan-ketentuan yang Tuhan buatkan untuk kita.
Jadi, kita tidak bisa menyalahkan Tuhan atas apa yang dikehendaki kepada kita. Karena kita hanyalah sebuah ciptaan, mau Ia masukkan orang yang beramal jelek ke dalam surga, atau memasukkan orang yang beramal saleh kedalam neraka, itu semua terserah kepadanya. Contoh gampangnya begini. Saya membuat layangan, otomatis saya memiiki kuasa penuh atas layangan tersebut, mau saya terbangkan, pajang, jual, sobek, bakar semua itu terserah saya. Layangan tersebur tidak bisa menolak apalagi memerintah kepada saya. Demikian yang terjadi pada kita, mau Tuhan jadikan kita seperti apa dan bagaimana itu semua atas kehendaknya.
Kesalahan besar jika kita melakukan kebaikan bukan karena Tuhan, melainkan karena mengharap surga, atau kerena takut akan neraka. Kita sebenarnya menghamba kepada tuhan atau surga?. Ini juga menjadi alasan pada salah satu kisah seorang sufi perempuan yang ingin membakar surga. Sufi tersebut bernama Rabiah Al-adawiyah, Ia adalah salah satu sufi yang memperkenalkan kita kepada mahabbah ilahi, yang digelari Syahidat al-Isya al-Ilahi: Sang Saksi Kerinduan Tuhan.
Keikhasannya dalam beribadah banyak dikagumi banyak orang. Dalam hatinya tidak terbersit sedikitpun rasa takut akan neraka atau imbalan surga, sebab kecintaannya kepada sang Tuhan yang mahakuasa. Mencintai tuhan baginya sama halnya dengan mencintai sang maha segalanya, dengan menjalankan perintah serta terus berdzikir kepadanya.
Diceritakan, pada suatu hari saat perjalanan menuju Basrah, Rabi’ah ditanyai oleh seseorang karena membawa obor dan kendi yang berisi air di kedua tangannya, Lalu ia menjawab ”Aku akan melemparkan api ini ke surga dan mengguyurkan air ke neraka, agar kedua penghalang tersebut lenyap. Dengan demikian akan jelas siapa yang memuja tuhan karena cinta, dan bukan karena takut akan api neraka atau harapan akan kenikmatan surga”.
Meneladani keikhlasan Rabiah memang sangat sulit bagi hamba seperti kita, yang mengimani akhirat dan menolak keduniawian, tetapi berlandasan kenikmatan hawa nafsu: pikiran tentang nikmat surga dan siksa neraka. Sedangkan sufi sejati seperti Rabi’ah menafikan kedua penghalang tersebut dengan pengabdian dan cinta yang hakiki.
Salah satu syairnya yang paling terkenal yaitu “Aku mengabdi kepada Tuhan bukan karena takut neraka, bukan pula karena mengharap surga, aku mengabdi karena cintaku kepada-Nya. Ya Tuhan, jika aku menyembahmu karena takut neraka, bakarlah aku di dalamnya. Dan jika aku menyembahmu, karena mengharapkan surga maka campakkanlah aku darinya. Tetapi jika aku menyembahmu demi engkau semata, janganlah engkau enggan memperlihatkan keindahan wajah-Mu yang abadi padaku”.
Ungkapan tersebut menyadarkan spiritualitas manusia, dan menyimpan pesan mendalam bahwa yang harus kita kejar bukanlah surga, melainkan cinta dan ridla Tuhan yang maha perkasa. Sebab cinta dan ridla-Nya apapun yang dikehendaki pasti terkabulkan, apalagi hanya kenikmatan surga. Hal ini bertolak belakang dengan pandangan umum yang menjadikan surga dan neraka sebagai tujuan akhir dari kehidupan.
Kita tidak bisa menggapai tingkatan tersebut kecuali dengan usaha dan keikhlasan dalam melakukannya. Maksudnya tidak mengharap sedikitpun imbalan dari kebaikan yang dilakukan. Salah seorang filsuf prancis, Levinas, lebih suka membahas tentang agama yang tanpa janji, hiburan dan imbalan, atau yang disebut dengan “iman tanpa Thedice ”. Dengan kata lain Ia ingin menunjukkan bahwa ia masih bisa melakukan kebaikan untuk dipersembahkan kepada Tuhan yang tidak senantiasa adil.
Berbeda dengan paham Atheisme, mereka meniadakan celah sedikitpun bagi Tuhan untuk ikut serta dalam kehidupan mereka. Dan juga mereka berpandangan bahwa melakukan pekerjaan baik atau buruk itu karena keinginan dan kebutuhan mereka sendiri, mereka tidak percaya akan hari pembalasan juga kehidupan setelah kebangkitan.
Pada akhirnya, dengan semua persoalan yang terjadi, jika dibandingkan dengan kaum pagan (pemuja berhala), mereka jelas beribadah dan berhamba kepada berhala, yang mereka yakini sebagai sebuah jelmaan dari Tuhan. Lalu kita sebenarnya beribadah kepada siapa? untuk apa? ataukah semua ini hanyalah bangunan retorika para tokoh agama kita? Wallahua’lam.
*) Santri Angkatan Ke-IV Rayon KH. Ahmad Basyir AS PP. Annuqayah Latee.

