Image Slider

Kultur Guluk-Guluk dan Ambunten Tidak Terlepas Sejarah Terdahulu

Ambunten, NU Online Sumenep

Saidi, Kepala Seksi (Kasi) Pemerintahan Desa Ambunten Timur mengatakan, kultur yang ada di Kecamatan Ambunten adalah kepesantren. Hal ini tidak terlepas dari hubungan sejarah antara masyaikh di Ambunten dan Guluk-Guluk.

Pernyataan ini disampaikan di acara pemasrahan peserta Kuliah Kerja Nyata (KKN) Integratif Posko 56 Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk 2022, Rabu (27/07/2022) di balai desa setempat.

Secara historis, lanjutnya, masyaikh di Ambunten masih memiliki hubungan famili dengan masyaikh yang ada di Annuqayah. Baginya, warnya sama, baik di segi sosial dan lainnya.

“Yang berbeda adalah alamnya. Jika di Guluk-Guluk alam pertanian, sedangkan di sini adalah alam nelayan. Potensi tersebut tersirat dalam lagu daerah yang berjudul Tanduk Majeng yang mengartikan bahwa melaut bukan hal yang mudah, sebab bekerja di laut bermodal nyawa,” terangnya saaat memberi sambutan.

Kultur yang keras itu, sambungnya, mencerminkan ketangguhan dan rasa tanggung jawab besar untuk menghidupi keluarganya. Maksudnya, jika peserta KKN melihat dialek masyarakat yang agak kasar, itu berarti alam yang mempengaruhinya.

Saidi berharap, data yang dikumpulkan lewat survei itu harus dituangkan dalam program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) yang bisa disenergikan dengan kegiatan yang ada di Langgar, pesantren, madrasah dan sebagainya.

“KKN yang menjadi Tri Dhrama Perguruan Tinggi ini semata-mata mashlahatul ummah atau mengandi pada masyarakat. Mudah-mudahan memberikan manfaat yang besar dan mendapat ridha Allah,” doanya.

“Salam ta’dzim pada Ketua Yayasan dan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk, serta Rektor Instika. Semoga jalinan kerjasama ini menjadi jalinan yang barakah,” tandasnya.

Penulis: Adit Asrori

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga