Talango, NU Online Sumenep
Pengurus Lajnah Falakiyah Annuqayah (LFA) Guluk-Guluk, Sumenep menggelar kegiatan kajian Rubu’ Mujjayyab, Ahad (10/04/2022) di Desa Palasa, Talango. Hal itu bertujuan untuk lebih mendalami lagi seluk beluk alat Falak klasik ini.
“Rubu’ Mujayyab merupakan instrumen klasik yang sangat populer pada masanya, karena dianggap mempunyai hasil yang akurat,” kata Fathor Rozi selaku pemateri dalam kegiatan itu.
Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur ini menegaskan, Rubu’ menjadi alat hitung Astronomi dalam memecahkan perhitungan trigonometri (sin, cos, tan). “Rubu’ artinya seperempat, sedangkan mujayyab artinya sinus,” terangnya.
Kemudian ia menambahkan, pada periode awal kreasi, Rubu’ Mujayyab dimulai pada abad Ke-9 M di Baghdad. “Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi diduga kuat sebagai orang yang pertama kali menggunakannya,” tambah alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk itu.
“Langkah Al-Khawarizmi kemudian dilanjutkan oleh Ibnu Syathir yang memberikan kontribusi besar dengan melahirkan berbagai karya mengenai rubu’, baik dari konstruksi serta tata cara pengoperasian,” lanjut pria asal Talango ini.
Ketua Keluarga Falak Annuqayah (KAFA) Guluk-Guluk ini mengungkapkan, selain Ibnu Syathir, Ibnu Saraj juga tercatat memiliki kontribusi besar dalam Rubu’ Mujayyab.
“Rubu’ Mujayyab terus berkembang dan menyebar ke penjuru dunia, termasuk ke Indonesia. Rubu’ yang berkembang di Indonesia adalah jenis Rubu’ yang dikembangkan oleh Ibnu Syathir,” ungkap Fathor.
Menurutnya, pembawa Rubu’ ke Indonesia belum diketahui secara pasti. Namun diduga Rubu’ berasal dari ulama Indonesia yang pernah belajar di Timur Tengah, lalu kembali ke tanah air.
Dewan Konsultan Lajnah Falakiyah (LFA) Guluk-Guluk ini menyatakan, Rubu’ Mujayyab berfungsi sebagai alat hitung trigonometri, awal waktu shalat, alat ukur arah kiblat dan tabel astronomi (menentukan posisi Matahari dalam bujur ekliptika dan deklinasi).
“Fungsi Rubu’ sangat erat kaitannya dengan ibadah, sehingga mempelajarinya menjadi suatu keniscayaan. Di samping itu untuk melestarikan khazanah keilmuan Islam,” jelas Pengurus Bidang Hisab Rukyat (BHR) LFNU Sumenep itu.
“Misalkan kita mencari nilai sin 35. Caranya yaitu letakkan khait (benang) di atas Qaus tepat pada angka 35. Lalu tarik lurus dari Qaus ke Sittini (lihat nilainya) = 34,35. Setelah itu nilai sittini tersebut (34,35) dibagi 60 = 0,5725. Jadi, sin 35 = 0,5725. Jika dihitung dengan kalkulator, maka hasilnya 0.5735. Terdapat selisih hanya 0,001. Sangat mendekati hasil perhitungan alat hitung modern,” lanjut beliau sambil mempraktikkan alat Rubu’ Mujjayyab.
Lantas ia menerangkan, kelebihan Rubu’ dapat menghitung nilai trigonometri, bujur ekliptika Matahari, deklinasi Matahari tanpa kalkulator. “Kekurangannya, Rubu’ tidak bisa membaca angka di belakang koma secara detail,” ulasnya.
Sementara itu, Sekretaris LFA Guluk-Guluk, Moh Ilham Wahyudi mengatakan kegiatan ini bertujuan untuk mengkaji kembali khazanah keilmuan zaman kuno dan mengetahui instrumen Rubu’ Mujayyab sebagai kalkulator zaman kuno.
“Harapan dari kami agar supaya khazanah keilmuan zaman kuno tetap dilestarikan dan terus dikaji sehingga tetap hidup di tengah pusaran perubahan zaman,” tandasnya.
Editor : Firdausi

