Di acara hari puncak Hari Lahir (Harlah) ke-99 NU yang dipusatkan di Pondok Pesantren Al-Ahsan Loteng, Kecamatan Kota, Redaksi NU Online Sumenep dikejutkan dengan bangunan kuno yang memiliki loteng. Masyarakat mengenalnya dengan sebutan rumah bertingkat. Langit-langit rumah dijadikan lantai dua, bahkan sampai berlantai tiga.
Bengunan kuno tersebut sudah lama dibangun dan masih kokoh hingga saat ini. Menurut sejarah, pemilik rumah ini adalah Pangeran Kornel Nawawi, putra sekaligus panglima perang di masa Sultan Abdurrahman Pakunataningrat.
Rumah tersebut pernah dijadikan markas militer. Hal ini bisa dilihat dari bentuk rumah loteng yang berlantai 2 ataupun 3. Konon, di lantai kedua tersebut, musuh diawasi dari atas agar membuktikan bahwa kondisi benar-benar aman atau tidak.
Di dalam rumah kuno itu terdapat beberapa ruangan. Mulai dari kamar pangeran, dan keluarganya. Konon, khusus lantai 3 dijadikan tempat meditasi. Selain itu, tim redaksi dikejutkan pula dengan temuan barang-barang kuno yang ada di lantai bawah. Untuk kitab-kitab kuno tersimpan rapi walaupun termakan zaman.
Sudah 20 tahun tidak ditempati lagi dan tidak direnovasi. Entah pakai apa bahan-bahan bangunan yang bisa merekatkan beberapa adonan ke bebatuan.
Untuk arsitektur bangunannya berpola Eropa dan Arab. Pasalnya di setiap Loteng pangeran, terdapat ukiran-ukiran lambang kerajaan dan dihiasi dengan kaligrafi Arab.
Silsilah Ahli Waris
Menurut penuturan RB M Hendry Kusairi dan RB M Ishaq, pasangan Bindara Saod dan Raden Ayu Tirtonegoro, penguasa Sumenep di tahun 1750-1762, tidak dikarunia keturunan.
Namun dari isteri pertamanya, yaitu Nyai Izzah di Lembung (masuk kawasan Lenteng) Bindara Saot memiliki dua putra, yaitu Raden Ario Pacenan (Bahauddin) dan Raden Ario Atmojonegoro (Asiruddin). Singgasana kerajaan jatuh pada Asiruddin yang selanjutnya bergelar Panembahan Natakusuma atau Panembahan Sumolo.
Ratu Raden Ayu Tirtonegoro trahnya berasal dari perpaduan trah Keraton Sumenep, Keraton Pamekasan dan Kerajaan Demak Bintoro. Berangkat dari kenasaban ini, sebelum menobatkan Panembahan Sumolo sebagai raja. Ia meminta kepada putra tirinya itu agar memelihara dan tidak meninggalkan tradisi keluarga.
Untuk memelihara tradisi keluarga, Panembahan Natakusuma Asiruddin menikah dengan putri Adipati Semarang. Dari pernikahan itulah lahir Sultan Abdurrahman Pakunataningrat yang kemudian memiliki putra yang di antaranya bernama Pangeran Kornel (Kolonel Nawawi) atau pemilik Loteng tersebut.
Sementara menurut penjelasan RB Moh Farhan Muzammily, Pangeran Kornel dari beberapa istrinya memiliki belasan putra-putri. Di antaranya Raden Ajeng Syansuriyah, Raden Ajeng Radiyah (Raden Ayu Ario Mertonegoro II), Raden Ario Supatmadiningrat, dan lainnya.
Raden Ajeng Syansuriyah menikah dengan sepupunya yaitu Raden Ario Prawiringrat (Husen), yaitu putra Panembahan Moh Saleh bin Sultan Abdurrahman.
Dari pernikahan tersebut lahir Raden Ajeng Ruqayyah, isteri Raden Bagus Hasan. Raden Bagus Hasan adalah putra Kiai Muharrar alias Raden Miftahul Arifin, Penghulu Negara (Qodi Keraton Sumenep). Ibu Raden Bagus Hasan ialah Raden Ajeng Zubaidah putri Pangeran Letnan Kolonel Hamzah (Pangeran Le’nan) di Kepanjin. Pangeran Le’nan ini juga merupakan salah satu putra Sultan Abdurrahman.
Raden Bagus Hasan merupakan tokoh Loteng Sarsore yang selanjutnya melanjutkan tradisi keilmuan khususnya di bidang agama. Beliau merupakan pendiri sekaligus pengasuh pertama Pesantren Loteng.
Dari pesantren ini banyak bermunculan tokoh-tokoh ulama Sumenep. Hampir semua tokoh sepuh atau pendiri pesantren di Sumenep saat ini, khususnya di kawasan Kecamatan Kota, Matanair, Timur Daya, hingga kepulauan dan lainnya memiliki sanad keilmuan ke Pesantren Loteng Sarsore.

