Image Slider

Mahasiswi Instika Guluk-Guluk Dibekali Cara Mendidik Anak

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep

Pada dasarnya anak kecil diibaratkan sebagai kertas kosong yang kemudian kita sebagai orang tua harus bisa mengisinya dengan hal-hal positif dan kreatif.

Penegasan ini disampaikan langsung oleh Mohammad Afnan saat mengisi acara ‘Kajian PIAUD’ yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Prodi (HMP) Pendidikan Islam Anak Usia Dini (PIAUD) Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk, Kamis (02/06/2022) di Gedung Laboratorium PIAUD.

Ketua Prodi PIAUD Instika Guluk-Guluk ini menyebutkan, bahwa otak terbagi menjadi lima, yaitu otak kanan, otak kiri, otak depan, dan otak belakang.

“Dari hal itu, kita nantinya sebagai orang tua jangan pernah membentak anak ketika masih usia dini, karena sama saja dengan merusak masa depannya,” tutur alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk itu.

Alumni Instika Guluk-Guluk ini menambahkan, sementara bagian dari psikologi perkembangan itu terdiri dari Id (keinginan), Igo (logika) dan super ego (norma).

“Tetapi anak lebih memiliki sifat keinginan, karena mereka belum tahu logika. misalnya orang tua mempunyai uang atau tidak ia tetap memaksa untuk membeli karena mereka masih dominan pada keinginan,” tambahnya.

Alumni Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang ini juga menyatakan, ada yang disebut dengan masa golden age. Di mana masa itu perkembangan anak sangat pesat sehingga dinamakan masa keemasan, 50% dijalani dari usia 0 sampai 6 tahun.

“Sedangkan 50% sisanya di masa dewasa sampai tua. Ketika kita lebih dewasa, maka jaringan otak kita agak lambat jadi bukan semakin kreatif malah semakin merosot,” lanjut alumni Madrasah Tsanawiyah (MTs) 1 Annuqayah Guluk-Guluk itu.

Maka dari itu, lanjutnya, sebagai calon ibu atau guru PAUD harus bisa membimbing dan mendidik anak dengan baik dan benar. “Juga harus berhati-hati dengan memberi stimulasi. Karena, anak kecil sifatnya meniru,” tandasnya.

Lantas, ia juga menyampaikan tentang konsep Neurosains, di mana otak manusia yang berkembang cepat ketika masa usia dini. Ada 100 milliar neuron yang dimiliki anak ketika baru lahir.

“Neuron ini dihubungkan oleh synaps untuk menghubungkan satu neuron dengan neuron lainnya. Neuron ini berkembang dengan baik apabila diberikan stimulasi dengan cara yang menyenangkan,” sambung alumni Madrasah Aliyah (MA) 1 Annuqayah Guluk-Guluk itu.

Menurutnya, stimulasi dari sekitarnya, termasuk guru harus dilakukan dengan cara menyenangkan dan inovatif. “Selain itu, guru harus memiliki 4 kompetensi yang meliputi profesional, pedagogik, sosial, dan kepribadian. Dari itu juga perlu melakukan pendekatan SCL (Student Center Learning) dengan terus membangun keterlibatan siswa di kelas,” pungkasnya.

Editor: A. Warits Rovi

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga