Oleh: Firdausi
Kabupaten Sumenep memiliki banyak destinasi religi dan meninggalkan beberapa situs bersejarah di beberapa kecamatan. Salah satunya adalah Asta Agung Ahmad yang tidak pernah sepi dari peziarah yang datang dari beberapa daerah. Yang paling banyak datang dari warga Kecamatan Ganding, Guluk-Guluk. Ada pula datang dari Pamekasan dan Sampang. Untuk luar Jawa, Besuki, Situbondo, dan Jember.
Mantan Bupati Sumenep, KH Ramdlan Siraj menjulukinya astah Nusantara. Sebab ada warga Malaysia yang nyekar atau berziarah. Anehnya lagi, sebagian peziarah membentuk sebuah perkumpulan di sejumlah daerah dan datang ke maqbarah saat malam Jum’at legi dan bulan Ramadhan.
Setiap tahun, dzurriyah mengadakan haul yang dibarengi dengan maulid Nabi. Acara tahunan tersebut dikelola langsung Pemerintah Desa (Pemdes) setempat. Mulai dari masa Kepala Desa KH Ma’mun, Imam, dan saat ini Ramli. Bagi para pecinta wisata religi, asta Agung Ahmad berada di pinggir jalan yang berdekatan dengan dermaga perahu tradisional di Dusun Bringin, Desa Aeng Panas, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep.
Masyarakat mengenalnya dengan sebutan Kiai Bringin. Nama lengkapnya adalah Agung Ahmad (Bringin Aeng Panas) bin Ny Nuruddin (Nung Tengginah Cenlecen Pakong) binti Kiai Ibrohim bin Kiai Abdullah (Batu Ampar Timur) bin Kiai Abd Qidam bin Kiai Abdullah bin Raden Ayu Putri (istri Pengeran Batuputih) binti Dewi Ratmina (istri Pangeran Sindir Puri) binti Aryo Bikunundu bin Pangeran Joko Tole (suami Dewi Ratnadi Brawijaya) bin Dewi Sainiy/Potre Koning (istri Adi Podai) binti Pangeran Cakraningkrat (suami Ny Sahraniy) bin Pangeran Bukabu bin Pangeran Mandaragah.
Berdasarkan penuturan dzurriyah, KH Ma’mun Amar, Gung Ahmad sapaannya memiliki tiga keturunan, yaitu Ny Nurillah,Ny Nurdina, dan Ardiba/Ny Nurdihni yang kelak melahirkan putera bernama Aliman dan berguru kepada Syaikhona Muhammad Kholil Bangkalan.
Gung Ahmad Menetap di Aeng Panas
Dalam catatan sejarah, Gung Ahmad memiliki keinginan untuk hijrah dari tempat kelahirannya, yakni Desa Pakamban Daya, Kecamatan Pragaan. Kemauan tersebut dibulatkan untuk menyebarkan Islam di luar tanah Madura. Untuk sampai ke Jawa, pelabuhan Aeng Panas dijadikan jalur transportasi laut. Sayang, beliau telat menaiki perahu sehingga tertinggal di pelabuhan.
Keterlambatannya membuatnya menetap di desa tersebut hingga beliau bertemu dengan Bhuju’ To’eng seorang warga China yang menetap lama di sana. Pertemuan kedua tokoh tersebut semakin memanas, sebab Gung Ahmad ditantang untuk berdiskusi. Jika kalah, ia akan masuk Islam. Kenyataannya Bhuju’ To’eng kalah berdiskusi dan berdebat hingga ia menepati janjinya untuk mengucapkan kalimat syahadat.
Kemenangannya, Gung Ahmad dihadiahi tanah dan diminta untuk mengurungkan pergi ke Jawa atau menetap di desa yang terkenal dengan pemandian air hangatnya, yakni Aeng Panas. Sejak itulah beliau melakukan syiar Islam dengan mendirikan surau. Misi dakwahnya di start ke arah timur Aeng Panas. Sebab desa Prenduan masyarakatnya sangat kosmopolit.
Menurut penuturan dzurriyah, beliau juga diamanahi oleh raja untuk menjadi imam di masjid kuno Sumenep yang bersebelahan dengan keraton raja. Selain itu, segala keputusan yang berhubungan dengan hukum agama, beliau lah yang memberikan jalan keluar pada raja. Sebab beliau alim, ahli di bidang ilmu alat (bahasa Arab) dan fiqih. Ditambah lagi memiliki ilmu laduni. Hubungan kedekatan ini terus berlanjut setelah beliau wafat dan diteruskan oleh menantunya yang bernama Agung Mahmud bin Abd Karim (Babbalan Pasongsongan). Konon berakhir di masa Bindara Saod.
Kewaliannya tampak ketika beliau mengajar kitab kuning pada santri di pesantren kecilnya, seperti makhluk halus atau sebangsa jin pun ikut menyimak saat beliau mentransfer ilmu pada santri. Setiap mengajar, perwujudan makhluk ghaib tersebut berwujud hewan seperti ular, buaya, dan sejenisnya.
Karomah, Amaliyah dan Peninggalan Gung Ahmad
Menurut Kiai Ma’mun, mazhab almarhum adalah Syafi’iyah. Salah satu wiridan yang dikenal di kalangan masyarakat adalah membaca shalawat Nabi dan surat Al-Ikhlas. Menurut cerita, konon beliau berangkat ke tanah suci cukup berjalan di atas air.
Salah satu peninggalan Gung Ahmad yang termasyhur di kalangan masyarakat adalah suraunya (saat ini sudah tidak ada lagi) dan dua buah Al-Qur’an kuno yang beliau tulis menggunakan tangan. Selain itu yang bisa diteladani oleh anak cucu dan santrinya adalah tidak tidur di tengah malam atau bangun tengah malam, memperbanyak membaca shalawat Nabi dan surat Al-Ikhlas, serta anak keturunannya diwajibkan mengajar. Jika demikian, maka secara spiritual datang kepada anak cucunya untuk mengingatinya. Seperti yang dirasakan oleh Kiai Muqaddas dan Kiai Zubairi Hasyim. Beliau berdua pernah didatanginya lewat mimpi. Dengan demikian, wajar jika keturunan Agung Ahmad banyak memiliki surau, pesantren, dan madrasah demi melanjutkan misi leluhurnya.
Berbeda dengan peninggalan generasi selanjutnya, yakni mendirikan masjid kuno Al-Islah Bringin pada tahun 1943. Lewat itulah lahir kegiatan-kegiatan majlis ta’lim. Menurut Kiai Ma’mun dan ustadz M Su’udi Humaiz, petilasan atau batu besar yang terdapat bekas tirakatnya Agung Ahmad dikuburkan di masjid tersebut. Sebab Agung Rofi’at atau anak angkat Agung Ahmad tidak setuju jika dijadikan cagar budaya. Almarhum khawatir warga menyimpang dari ajaran Islam. Kini di masjid tersebut dibentuk kelompok dzikir yang diprakarsai oleh Kiai Basyirah, Kiai Mahmudah, Kiai Munawar.
*) Ketua LTN NU Sumenep

