Gapura, NU Online Sumenep
Musyawarah Kerja (Musyker) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Gapura dilaksanakan pada hari Ahad (21/02/2021). Tanggal itu menjadil penting dalam kepengurusan MWCNU Gapura, karena di tanggal itu semua program dibahas dan dilegalkan sebagai bagian dari proses berjalannya organisasi terbesar di Indonesia yaitu Nahdlatul Ulama. Utamanya bagi MWCNU Gapura yang baru usai melaksanakan konferensi beberapa bulan lalu.
Musyker tersebut diawali dengan penampilan qiroah dari salah satu pengurus Jam’iyah Qurro’ wal Huffadz (JQH) MWCNU Gapura, dilanjutkan dengan shalawat qiyam dengan diiringi Al-Banjari MWCNU Gapura.
Pembukaan Musyker itu dihadiri semua pengurus Lembaga MWCNU Gapura, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan semua pengurus banom MWCNU Gapura.
Musyker tersebut merupakan amanat dari hasil konferensi. Oleh karenanya program kerja yang akan dilaksanakan selama lima tahun ke depan lahir untuk kebermanfaatan, yang berdasarkan pada kepentingan masyarakat. Program itu merupakan cerminan MWCNU Gapura dan menjadi pembeda dengan kepengurusan sebelumnya. Bahkan dari salah satu lembaga, yaitu LDNU membuat syair tanah sangkol karena banyaknya tanah di Sumenep yang dibeli orang luar, demikian kata H. Alwi, selaku ketua Tanfidziyah MWC NU Gapura terpilih dalam sambutannya.
Sementara KH Pandji Taufiq yang hadir atas nama PC NU Sumenep, seperti biasa mengawali pengarahan dengan pernyataan bahwa NU itu ada untuk diamalkan nilai-nilai ke-NU-annya.
“Mengapa harus NU? Karena orang-orang NU banyak yang menjadi wali, salah satu tandanya banyak kuburan-kuburan orang NU yang didatangi penziarah,” tambah Kiai Pandji saat itu.
Lebih lanjut Kiai Panjdi bercerita bahwa Gapura merupakan salah satu kecamatan yang akar budayanya masih kental dengan nilai-nilai ke-NU-an, salah satu contohnya banyak orang-orang Gapura yang ketika salaman cium tangan. Cium tangan kata D. Zawawi Imron yang dikutip oleh Kiai Panjdi adalah tanda cinta. Selain itu, di Gapura ketika ada orang meninggal, yang menyalatkan sangat banyak, tidak memandang yang meninggal tokoh atau bukan.
Kiai Pandji juga berpesan, bahwa Musyker tersebut harus dijadikan instrument muhasabah. Oleh karenanya, MWC NU Gapura tidak hanya menjadikan kantor yang sekadar sebagai alat pelayanan administratif, akan tetapi MWC NU Gapura harus naik kelas yaitu menjadi pelayan masyarakat, misalnya memprogramkan beasiswa.
“Hindari santunan anak yatim, tapi adakan beasiswa untuk mereka dan orang yang tidak mampu. Itu namanya memberi pelayanan konkret. Tidak ada gunanya gedung megah bila tidak ada kegiatan yang menyentuh masyarakat,” ucapnya.
Selain itu, ia juga mengaku merasa lucu pada rencana Madura untuk jadi provinsi karena APBN masih harus berutang.
“lucu kalau ada yang getol mau menjadikan Madura provinsi, padahal APBN kita masih berutang, artinya kalau mau dijadikan provinsi maka akan nambah utang, kan aneh,” imbuhnya sambil tertawa khas Kiai Panjdi.
Menurutnya, dengan gedung yang megah, dengan BMT Nuansa Umat yang menjawatimur, MWC NU Gapura memiliki beban moral, sebab NU itu pelayan umat, sudah seharusnya BMT Nuansa Umat menjadi pelayanan umat, bahkan PC NU Sumenep rela tidak diberi bantuan oleh BMT Nuansa Umat asal bagian PC NU Sumenep diberikan kepada masyarakat.
Di akhir sambutannya ia menyampaikan bahwa,NUlah organisasi besar di Indonesia yang sampai sekarang masih getol menjadikan Pancasila sebagai dasar negara, sebab hanya pancasila yang cocok dengan Indonesia. Dasar permusyawarakan rakyat adalah strategi tertinggi dalam NU yang sejak dicanangkan K.H Hasyim Asy’ari sebagai pendiri NU. Tambahnya, Hubbul Wathan Minal Iman sudah sampai ke sitratul muntaha, itu terjadi karena orang NU itu teguh dalam persatauan dan kesatuan.
Editor: A. Warits Rovi

