Image Slider

Nilai Moderasi Beragama dalam Budaya Hataman Al-Quran di Madura

Oleh: Abdul Warits

Di zaman digitalisasi yang merambah dan masuk ke ruang-ruang masyarakat telah mengikis sebagian tradisi dan kearifan local. Kepungan teknologi dan seperangkat alat canggihnya telah menjadi manusia menjadi budak konsumstif dari media sosial. Terbukanya ruang publik di media sosial telah menggeser paradigma masyarakat dengan segala bentuk kemudahan dan aspek-aspek pragmatismenya. Problematika ini tentu menghantui masyarakat pemuda dan milenial hari ini.  

Di kalangan masyarakat Madura, tradisi mengaji Al-Quran bagi anak-anak surau lambat laun akan punah seiring dengan berjalannya waktu. Dengan kemolekan teknologi, gerakan masyarakat magrib mengaji yang didengung-dengungkan hanya akan menjadi wacana belaka. Sebab tidak bisa dipungkiri, jika hari ini, paradigma masyarakat mulai menggeser budaya khatmil Al-Quran dilaksanakan melalui whats app sebagai alat dan ruang untuk melaksanakan tradisi ini. Selain menghadirkan kemudahan melalui online, hataman ini juga bisa dilaksanakan dari rumah masing-masing, tanpa harus hadir ke langgar.

Melihat realitas ini, budaya hataman al-Quran di kalangan anak-anak Madura memiliki ancaman-ancaman dari budaya luar seperti akan berpotensi hanyut ditelan zaman, khususnya di kalangan anak-anak yang mengaji di Surau menjelang magrib. Jika tidak ada partisipasi aktif orang tua dan institusi pendidikan Islam (langgar), maka bisa dipastikan budaya khatmil Quran ini akan musnah dengan tangan hampa. Hataman Al-Quran di kalangan anak-anak masyarakat Madura masih menjadi atensi hingga zaman industrialisasi saat ini.  

Teguhnya tradisi hataman Al-Quran di kalangan anak-anak di Madura didukung oleh beberapa stakeholder dan pihak-pihak yang memberikan sumbangsih dalam mengukuhkan tradisi hataman al-Quran di Madura. Kekuatan dan pemberdayaan terhadap tradisi hataman al-Quran di kalangan anak-anak berlangsung dengan sangat heroik di tengah pergeseran budaya, tradisi serta paradigma masyarakat Madura dari hari ke hari.    

Salah satu resepsi tradisi hataman al-Quran adalah berfungsi sebagai fungsional. Masuknya praktik hataman Quran ke dalam ruang-ruang kegiatan dan rutinitas masyarakat Madura kemudian bermetamorfosis menjadi tradisi dan kebudayan. Biasanya hataman al-Quran ini dilakukan oleh sekelompok orang yang berjumlah 30 orang secara bersama-sama membaca al-Quran (per juz satu orang). Hataman al-Quran ini kemudian direspon, diapresisasi oleh masyarakat tidak hanya sebagai rutinitas semata akan tetapi berubah menjadi perayaan-perayaan yang dimasyarakatkan dan ritual-ritualnya bersentuhan dengan kearifan local seperti adanya pagelaran drumband, hadrash tradisional, pengajian umum, selametan, jheren kencak dan lain sebagainya.

Sebut saja hataman sebelum upacara Alako Gebhai merupakan salah satu budaya yang ada di masyarakat Sumenep secara umum yang didalamnya sarat dengan nuansa Alqur’an. Alqur’an menjadi bacaan sebelum acara Alako Ghebai digelar. Hal ini menunjukkan bahwa upaya masyarakat muslim dalam rangka menyikapi Alqur’an dalam aktivias budayanya masih ada dan menjadi fenomena yang sarat bagaimana masyarakat memperoleh pemahaman akan Alqur’an melalui sosiokuktural yang ada—tidak hanya melalui pendekatan teks semata. Khataman praacara Alako Gebhai hanyalah salah satu media yang dipakai untuk melihat fenomena Alqur’an yang ditemukan dalam komunitas masyarakat Muslim.

Perayaan budaya khataman Al-Quran juga terdapat di kalangan anak-anak  yang melakukan proses pembelajaran mengaji di Surau yang ada di Madura. Hataman Al-Quran di kalangan anak-anak di Madura berlangsung dengan penuh khidmah dan meriah karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kearifan lokal seperti tolong menolong, tradisi selametan, anak-anak yang diarak dengan menggunakan jheren dan drumband.

Beberapa problematika yang akan mengikis budaya mengaji di kalangan anak-anak masyarakat Madura berhasil diredam dengan sumber-sumber pelindung utama (modal sosial) dalam tradisi hataman al-quran di kalangan anak-anak di Madura ini. Seperti peran orang tua, guru alif (guru reba’an), dukungan (support) para tetangga dan masyarakat, yang ikut andil dalam eksistensi tradisi hataman al-Quran di Madura. Bahkan, anak-anak yang sudah selesai menghatamkan Al-Quran akan diberi parsel sebagai ucapan selamat karena telah selesai dalam menghatamkan Al-Quran.  

Dukungan tersebut dengan memberikan modal material dalam tradisi hataman al-Quran di Madura dengan merayakannya di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, masyarakat  memberikan apresiasi kepada anak yang telah selesai melaksanakan hataman al-Quran. Tidak hanya itu, selain dirayakan dalam bentuk tradisi, hataman al-quran ini juga diselingi dengan budaya-budaya di kalangan masyarakat seperti dengan mengundang grup musik tradisional dan modern untuk memeriahkannya.

Apresisasi yang dilakukan oleh beberapa stakeholder ini memberikan suplemen tradisi hataman Al-Quran di Madura sehingga budaya hataman al-quran dan masyarakat magrib mengaji bisa berlangsung dan tetap eksistensi menjadi energi spiritual di tengah hiruk pikuk paradigma msayarakat Madura yang berubah dari hari ke hari. Kekuatan gotong royong dan apresiasi dalam budaya tradisi hataman al-Quran ini menjadi ketahanan dari gemburan budaya yang merasuk ke rongga-rongga kehidupan masyarakat Madura.

*Sekretaris Duta Damai Santri Jatim

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga