Batang-Batang, NU Online Sumenep
Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Batang-Batang menggelar bedah buku “Telaah Prinsip Hidup KHR As’ad Syamsul Arifin”. Kegiatan yang bekerjasama dengan organisasi santri Annuqayah itu berlangsung di Aula MWCNU setempat. Rabu (6/4/2022).
Bertindak sebagai pembedah, Ali Wafa, Demisioner Ketua Ikatan Santri Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah (Iksass) periode sebelumnya.
Wafa, sapaan akrabnya, menjelaskan bahwa peran dan kontribusi KHR As’ad Syamsul Arifin untuk Nahdlatul Ulama sangatlah besar. Bahkan Kiai As’ad merupakan salah satu pendiri atau Muassis organisasi sosial keagamaan yang berlandaskan paham Ahlussunah Wal Jama’ah itu.
“KHR. As’ad Syamsul Arifin juga merupakan tokoh hebat NU, karena beliau juga merupakan mediator atas berdirinya NU yang membawa tongkat dan tasbih,” ujarnya mengawali pembahasan.
Tidak hanya itu, Wafa menambahkan, KHR As’ad Syamsul Arifin yang merupakan Muassis Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo itu juga memiliki peran yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan Republik Indonesia.
Karenanya, pada 9 November 2016, Presiden Joko Widodo menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Kiai As’ad. Gelar tersebut diberikan berdasarkan Keputusan Presiden RI No. 90/TK/Tahun 2016.
“Selain perannya dalam bidang agama, beliau juga sangat berperan penting bagi bangsa dan negara, terutama dalam bidang kebangsaan, pendidikan dan juga politik,” imbuhnya.
Selain itu, menurut Wafa, Kiai As’ad juga merupakan sosok kiai yang ambisi terhadap ilmu pengetahuan dan perjuangan. Jiwa pemikir dan pejuang yang melekat pada Kiai As’ad haruslah diteladani.
“Selain sebagai pemikir dan pejuang, beliau juga merupakan penyair, karyanya yang tidak asing lagi kita dengar aqaid 50,” paparnya.
Lebih jauh, Wafa menambahkan, dalam aspek yang lebih luas, kiprah dan perjuangan KHR As’ad Syamsul Arifin juga dapat dijumpai di dunia politik. Dimana keterlibatan beliau di partai politik telah banyak mewarnai perjuangan bangsa Indonesia.
” KHR. As’ad Syamsul Arifin merupakan seorang tokoh partai, beliau pernah berada di PPP, Masyumi dan NU kala itu,” jelasnya.
Dalam aspek perjuangan masyarakat di akar rumput, Kiai As’ad juga hadir di dalamnya. Dijelaskan Wafa, bahwa Kiai As’ad juga merupakan kiai yang aktivis. Pernah terlibat diskusi soal agraria dengan Mahbub Djunaidi, pendiri organisasi kemahasiswaan yang lahir dari rahim NU.
“Diskusi itu tentu untuk memikirkan bagaimana di masa mendatang, kekayaan alam bisa dimanfaatkan dengan baik oleh penghuninya. Maka buah dari diskusi tersebut ialah berdirinya Fakultas Pertanian di Universitas Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo,” terangnya.
Wafa juga menyampaikan bahwa konsep pendidikan yang diterapkan oleh KHR. As’ad Syamsul Arifin kepada para santri-santrinya sangat luar biasa, juga terdapat keunikan di dalamnya.
Salah satunya adalah, pembagian waktu Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di lingkungan satuan pendidikan pesantren. Untuk pendidikan agama dimulai dari pukul 07:00 hingga 11:00 WIB. Sementara pendidikan umum dimulai pada pukul 13:00 – 17:00 WIB.
“Selain itu, di mushalla Pesantren Salafiyah Syafiiyah Sukorejo mengumandangkan adzan hingga dua kali. Kami tidak tahu mengapa demikian, namun itulah konsep pendidikan yang dijalankan KHR As’ad Syamsul Arifin,” jelasnya.
Pria asal Desa Kolpo Kecamatan Batang-Batang itu juga menyampaikan motto hidup Kiai As’ad yang hingga saat ini masih dijadikan pegangan para santri.
“Motto beliau begini, berbuatlah dengan bukti dan nyata. Baru berkata dan bersuara,” pungkasnya.
Editor: Ibnu Abbas

