Image Slider

Pelatihan LF Annuqayah Putri, Sekretaris LFNU Jatim: Ilmu Falak Berkaitan dengan Ibadah

Guluk-Guluk, NU Online Sumenep
Pada zaman dahulu, umumnya manusia memahami atau mempelajari seluk beluk alam semesta hanyalah dengan mengamati kejadian atau fenomena seperti apa yang mereka lihat, yaitu dengan menggunakan panca indra, bahkan sering ditambahi dengan berbagai macam tahayul.

Hal itu disampaikan langsung oleh Ustaz Fathor Rozi saat mengisi materi ‘Pengantar Sejarah Ilmu Falak’ dalam kegiatan Pelatihan Ilmu Falak dan Kaderisasi Ulama Hisab yang diselenggarakan oleh pengurus Lajnah Falakiyah (LF) Annuqayah Putri Guluk-Guluk pada Selasa (22/02/2022) di Aula Madrasah Tsanawiyah 1 Putri Annuqayah.

“Menurut mereka, matahari, bulan, dan bintang-bintang dengan tertib mengelilingi bumi. Pada zaman dahulu orang menganggap bahwa peristiwa terjadinya gerhana matahari, gerhana bulan, jatuhnya batu meteor, adanya bintang berekor dan sebagainya merupakan suatu hal yang tidak beres,” kata alumni Pondok Pesantren Annuqayah Latee Guluk-Guluk ini.

Bahkan menurutnya, timbul anggapan rekayasa bahwa ada raksasa yang menelan bulan, ada dewa marah, dan sebagainnya, di mana banyak masyarakat dulu yang mengaitkan peristiwa-peristiwa yang ada di langit dengan tahayul.

Menurut Sekretaris Pengurus Wilayah (PW) Lembaga Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur ini, penemu pertama ilmu Falak adalah Nabi Idris AS yang mana Allah SWT memberikan ilmu hikmah kepada beliau dengan jalan memberikan pengetahuan tentang rahasia-rahasia peredaran bintang dan susunan titik perkumpulan bintang-bintang di jagat raya.

“Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ilmu Falak sejak saat itu telah ada, sedangkan Falak itu sendiri telah ada jauh sebelum ilmu Falak ditemukan, karena suatu ilmu ditemukan setelah adanya respon dan tanggapan dari sebuah persoalan dalam suatu masyarakat,” tegasnya

Berdasarkan hal itu, dirinya menyimpulkan bahwa ilmu Falak sudah dikenal semenjak bangsa Babilonia (Irak kuno) dengan mengamati rasi bintang. Dimana rasi bintang tersebut dianggap sebagai petunjuk tuhan yang harus dipecahkan. Bahkan pada zaman tersebut mereka sudah menggunakan rasi bintang untuk meramal kehidupan mereka

“Pada zaman itu ilmu ini digunakan untuk menentukan waktu bagi saat-saat penyembahan berhala, seperti di Babilonia dan Mesopotamia untuk menyembah Astoroth dan Dewa Baal, juga di mesir untuk menyembah Dewa Isis dan Dewa Amon,” ungkap alumni Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang ini.

“Pada peradaban Mesir kuno, mereka beranggapan dan meyakini bahwa bintang keseluruhannya hanya memiliki 36 rasi bintang dan masing-masing memiliki Dewa penjaga yang setiap Dewa tugasnya menjaga bintang tersebut selama 10 hari untuk setiap tahunnya yang menurut mereka setahun hanya berjumlah 360 hari. Sebenarnya mereka juga mempunyai anggapan bahwasanya jumlah hari dalam setahun adalah 365 hari,” lanjut pria asal Talango ini.

Sementara itu, sambung pengurus Bidang Hisab Rukyat (BHR) Pimpinan Cabang (PC) LFNU Sumenep ini, pada masa awal kedatangan Islam, ilmu Falak belum masyhur dikalangan umat Islam, walaupun ilmu Falak sangat erat kaitannya dengan ibadah.

“Karena pada semasa Nabi Muhammad SAW masih hidup, semua urusan ibadah dapat ditanyakan langsung kepadanya, perihal waktu dan tata caranya. Walaupun sebenarnya ada juga di antara mereka yang mahir dalam perhitungan,” sambungnya.

Dirinya juga menegaskan, sebenarnya perhitungan tahun hijriyah pernah digunakan sendiri oleh Nabi Muhammad SAW ketika Beliau menulis surat untuk kaum Nasrani Bani Najrah, tertulis Tahun ke V hijriyah, namun dikalangan orang Arab lebih mengenal tahun dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi pada tahun tersebut.

“Seperti ketika adanya peristiwa tentara gajah, maka disebut dengan tahun gajah, tahun izin, tahun amar, tahun zilal, dan lain-lain,” ungkapnya.

Dengan demikian, kata Mas Rozi sapaan akrabnya, tentu ilmu Falak pada masa awal kedatangan Islam sudah sedikit diketahui, akan tetapi belum masyhur dikalangan umat Islam. meskipun pada masa tersebut perkembangan Ilmu Falak belum memiliki bobot yang tinggi.

“Dalam sejarah apabila diteliti secara mendetail ternyata di dunia Astronomi khususnya, dan ilmu pengetahuan pada umumnya, selama hampir delapan abad tidak nampak adanya masa keemasan. Baru pada masa Daulah Abbasiyah masa kejayaan Ilmu Falak itu nampak. Sebagaimana pada masa khalifah Al-Manshur, ilmu astronomi mendapat perhatian khusus, seperti upaya menerjemahkan kitab Sindhind dari India. Hal ini terjadi karena pada awal kedatangan Islam, umat Islam masih fokus pada penyebaran agama belum menginjak pada pengembangannya,” tambahnya.

Di akhir penjelasan, beliau juga menyelipkan pembahasan tentang kaidah waktu serta penentuan posisi di bumi dan langit.

Editor : Ach. Khalilurrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga