Oleh: K. M. Faizi
Jika pagi hari, sekitar pukul 04.45-05.00, saya sedang di mushalla lalu terdengar suara knalpot motor Honda Win melintas, maka itu adalah salah satu tanda Abdul Ghaffar sedang pulang dari Ganding. Pasti, ia sedang membawa serantang ‘bulud’ (penganan lokal; semacam lemper goreng). Itu juga merupakan tengara kuat bahwa ada Pak Toni di Annuqayah.
Hampir setiap bulan, Pak Toni datang ke Annuqayah. Untuk apa? Selain untuk makan bulud setiap pagi bersama para putra kiai (lora) dan sebagian pengasuh muda, saya tidak tahu, apa tujuannya. Tempat kongkownya di emperan di wisma tamu (dulu kantor Biro Pengembangan Masyarakat [BPM] PP Annuqayah). Biasanya, beliau juga membawa segepok oleh-oleh yang sesuai dengan peruntukan si penerima, mulai dari kopi, buku, obat-obatan herbal, hingga majalah. Yang pasti tak tertinggal adalah kopi. Adapun kopi yang dibawanya selalu beda-beda varietas dan singel origin-nya, mulai dari Gayo, Toraja, Papandayan, Ermera, Bajawa, dll. Dari beliaulah saya bisa merasakan nyaris semua jenis kopi Nusantara.
Anggota obrolan rutinnya adalah putra-putra pengasuh, pengasuh-pengasuh muda. Ketua PCNU Sumenep, Pak Pandji Taufiq, sering bergabung pula. Demikianlah gaya beliau bersilaturahmi. Setelah pukul 07.30, biasanya ada panggilan dari dalam (dhalem). Tandanya waktu Pak Toni sarapan di kediaman salah satu pengasuh sepuh, Kiai Abdul Basith AS (yang notabene merupakan kawan akrab Gus Dur; tempat Gus Dur menginap kalau berkunjung ke Luk-Guluk; akrab juga dengan Gus Mus). Maka, jika ada perbincangan yang di dalamnya meliputi Gus Dur, Gus Mus, dan Kiai Abdul Basith sekaligus, pasti—dan harus ada—nama Pak Toni Pangcu di dalamnya kecuali ia akan obrolan yang entah apa namanya.
Untuk makan siang atau malam, tempat makan Pak Toni berpindah-pindah, terkadang diundang makan di Lubangsa Selatan, kadang ke Lubtara, kadang ke Lubangsa, dan kadang ke rumah saya jika kebetulan istri sedang masak rawon, salah satu masakan kesukaan belaiu. Dan dalam pada itu pula, selama seminggu atau lebih, pak Toni juga berkunjung ke ke rumah-rumah santri, alumni, atau ke tempat yang disukainya, seperti ke Fauzi Sirran (Pakamban), Kiai Zaini Muntaha (Gaddu) Kiai Munif Zubairi (Gapura), bahkan terkadang hingga ke Jember, ke pondok pesantrennya Kiai Abdul Muqiet Ariev.
Rupanya, kalau saya perkirakan, kedatangan setiap bulan Pak Toni ke Annuqayah ini adalah sejenis mengulang-ulang romansa atau nostalgia seperti awal kedatangannya yang pertama. Konon, beliau datang ke Guluk-Guluk dalam rangka memperkenalkan teknologi tepat guna. Beliau disangoni memo oleh Gus Dur agar lebih mudah diterima oleh kalangan pesantren, “Mungkin karena nama saya tidak akrab dalam hal penyebutan di kalangan santri dan kiai,” kata beliau.
Dengan lembaga-lembaga yang berbeda, seperti PKBI, Yayasan Mandiri, LP3ES, Pak Toni masuk ke pondok-pondok pesantren dan mempunyai jaringan dengan banyak kiai dan antar-pesantren, mulai dari Kiai Mukhtar Syafaat (Blokagung, Banyuwangi), Kai Mustofa Bisri (Leteh, Rembang), Kiai Ilyas Ruchiyat (Cipasung, Tasikmalaya), Kiai Syarqawi Miftahul Arifin (Panempan, Pamekasan), hingga pondok-pondok pesantren lainnya, seperti PP Nurul Jadid, dll. Menurutnya, Pak Toni bahkan pernah tinggal beberapa waktu di Bangkalan dan sering ikut Kiai Abdullah Schol menghadiri undangan demi pengajian.
Begitu luasnya pengetahuan beliau terjadap jaringan kiai hingga saya tak segan menggelarinya “kiaipedia”. Soalnya, bukan hanya jaringan massa dan politik kebangsaan, keilmuan dan pemberdayaan, yang beliau tahu, bahkan hingga nasab serta fragmen-fragmen asmara di kalangan (beberapa) kiai pun beliau kuasai. Dan dari jaringan itu, beliau banyak berjasa bagi banyak pondok pesantren dalam memperantarai dengan dunia luar pesantren. Salah satu jasa mutakhirnya di Guluk-Guluk adalah membantu pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dikerjasamakan dengan IBEKA, diawasi oleh Ibu Tri Mumpuni (Ibu Tri ini merupakan salah ilmuwan muslim paling berpengaruh di dunia menurut laporan The World’s 500 Most Influential Muslims 2021).
Teringat suatu hari manakala diadakan pertemuan alumni PP Annuqayah (IAA) di Aula As-Syarqawi. Ketika itu, Pak Toni kebetulan ada di Guluk-Guluk. Saya bilang, “Itu lho, sedang ada pertemuan alumni. Gak ke aula, tah, Pak Ton?”
“Saya nanti saja ketemuan sama mereka di sini. Acara itu kan buat alumni, sedangkan saya bukan, karena saya masih santri, ha, ha, ha,” jawabnya seraya tergelak-gelak. Terkadang, beliau malah meledek saya. “Saya di sini kenal dan berteman dengan embahnya kamu (Kiai Mahfud), ayah kamu (Kiai Abdul Adhim), hingga kamu, bahkan sampai anakmu segala,” katanya sembari tertawa.
Per Februari 2022, Pak Toni sudah 40 tahun di Annuqayah. Rencananya, Kiai Naqib Hasan mau merayakannya dalam sebuah obrolan santai, bulan lalu, tapi lalu ditunda (tertunda) karena alasan ini dan itu. Acara dimundurkan ke bulan ini, bulan yang ternyata beliau telah pergi. Tentu saja, kami semua kaget dan merasa kehilangan, apalagi berita kewafatan beliau sangat cepat. Maka, per hari ini, akan ada perubahan: tak ada lagi orang berkirim pesan dinding (wall post) ke wall saya setiap hari. Tak akan lagi ada bulud di pagi hari. Tak ada lagi “kiaipedia” yang kami kenal di sini. Dan berkurang pula satu sumber kelucuan di muka bumi.
Pak Toni telah mengubah banyak hal dan karenanya banyak hal akan juga berubah ketika ia telah pergi. Kemarin, salah seorang sahabatnya, Martin van Bruinessen, menulis seperti ini: “Without Pangcu, Indonesia will no longer be the same to me” (Di mata saya, Indonesia tanpa Toni Pangcu tidak lagi sama dengan semasa dia ada.”
“Jadi, sebetulnya, Pak Toni itu siapa?” tanya seseorang kepada saya, “Kok dengan entengnya beliau nulis di dinding Facebook Anda tentang lucu-lucu, setiap hari, bahkan tidak peduli di kala Anda sedang berkabung karena kewafatan sang istri…”. Saya bilang kepadanya, bahwa saya sudah mengenal beliau puluhan tahun, tapi hingga hari ini pun saya tidak benar-benar tahu, siapa beliau itu sesungguhnya dan saya memang tidak ingin lebih banyak tahu lebih dari itu. Yang pasti, di samping lucu, beliau itu tidak masyhur kecuali karena kedermawannya dan ketulusannya dalam membantu. Dan di zaman sekarang, apa yang dilakukannya, sikap yang dipilihnya, jalan hidup yang ditempuhnya, sudah sangat cukup syarat untuk menjadikannya sebagai “bukan orang biasa”.
Selamat jalan, Pak Toni Pangcu (Driyantono). Semoga Allah membalas semua jasa kebaikan, mengampuni khilaf dan kesalahan, serta menganugerahi ketabahan bagi keluarga dan orang-orang yang ditinggalkan.
Luk-Guluk, 22-02-2022

