Image Slider

Puisi-puisi Akbar Hamzah

Lelaki Bahari

kecut yang membalut tubuhmu
masih setia kuhidu
pabila sedap aroma bumbu di dapur
melebur ke ceruk dada
penuh cinta
dan kau datang membawa seikat pindang
serta berkeranjang kasih-sayang.

kesederhanaan ialah bara api
pada tungku memasak hidup.

maka sebelum do’a benar-benar
menjelma arus penembus jalan pulang
kupastikan perahu bukanlah prahara;
pembawa kabar lara
di setiap lembar layar berkibar
dibuntuti angin sakal
yang tak pernah pudar.

kau memanglah lelaki pelaut
tiada takut menantang maut
ombak bukanlah malaikat
memungut jiwa dengan ribut
gelombang paling nyalang,
kendati air mata berarti kekhawatiran
menanti subuh memaksamu
untuk segera mengetuk pintu
lantas aku membukanya malu-malu
penuh rindu.

hidup akan senantiasa tertuang
dalam semangkok senyum terhidang
sebagai sarapan pagimu
juga pagiku.

Mata Pena, 29-01-21

Lelaki Jaban Pemimpi Mutiara Lautan

/
lelaki itu kembali mencipta sepi
dengan segelas susu dan roti pagi hari
matanya tajam menikam huruf demi huruf
pada tiap-tiap lembar buku tentang laut,
seolah-olah ia cemas –takut tiba-tiba
ombak menghantam kapal dengan ganas
;terombang-ambing dan tenggelam
hingga tak tersisa selain duka.
sementara ia tak dapat memenuhi cita-cita
mengarungi samudera walau dalam buku semata
maka dengan pasrah dan sedikit resah
ia memutuskan untuk berhenti membacanya

/
lelaki itu kembali mencipta sepi
dengan sesulut rokok dan kopi malam hari
imajinya runcing merancang huruf demi huruf
untuk sebuah puisi tentang laut;
kedalaman ialah cinta kepada kekasihnya
riak ombak ialah gelombang rindu
yang disetiap pasang-surutnya kian menderu.
namun cemas semakin tuntas meranggas
kekhawatiran akan kesejahteraan bagi dapur
para nelayan tak sempat ia lunaskan
pabila laut yang sedang ia tulis
tak ada ikan berenang riang walau sebaris
maka dengan begitu kacau dan risau
ia memutuskan untuk berhenti menulisnya

/
lelaki itu kembali mencipta sepi
dengan kekhawatiran yang semakin berapi
mata hatinya nyalang memandang pekat biru laut
–mutiara di kedalaman sangatlah ia damba
sebagai mahar melamar mawar di seberang sana
namun ia tetaplah ia; lelaki jaban
senantiasa bugkam mengerami kata-kata
maka cinta hanyalah sekedar cinta.
wallahu a’lam.

MataPena, 2021

Tiga Lanskap Minomi

I
di minomi malam ini

aku melihat kedamain
jiwa, pada gemintang berjatuhan
dan bertabur indah
di altar desa paling lembah

seperti kunang-kunang
kerlap-kerlipnya elok dipandang
sesekali aku ingin menangkapnya
untuk kuhadiahkan padamu
sebagai tanda bahwa
cintaku menyala selalu

II
di minomi malam ini

angina sejuk memluk tubuh
saat berlabuh; berteduh
di dermaga alismu yang rindang
detelah mengarungi laut matamu yang tenang

ah, di tengah
pelayaran hatiku gundah
sebab jarum kompas terus bergerak
mungkin saja rusak
tak menunjukkan arah utara
atau arah menuju surga

namun untnglah maha purnama
menjelma wajahmu nan jelita
sebagai kompas bagi tualangku
sebagai ruh bagi puisiku

III
di minomi malam ini

aku baru tahu
bahwa segala hal baru
kalah indah pada wajahmu

Mata Pena, 2020

Kepada Tuhan Semasa Kecilku
;Azizah
/
riap harap membubung tanpa walau
saat jerit suaramu menjelma risau
peras keringat menderas tuntas
jua nafas hampir saja terhempas

“semogalah resah tak lagi berdarah-darah
berilah aku hadiah berupa anugerah”
do’amu sambil berseru meriuhkan hu
hingga di seluruh penjuru terdengar hu

maka barokahlah saat lengking tangisku
menyapa ramah sungging senyummu
sebab setahun kurang tiga bulan sudah
engkau menghidupiku dengan tabah

/
24 januari 2003
diperlihatkanlah aku kepada estetika
sebuah seni rupa tanpa warna
oleh engkau ibu
tuhan semasa kecilku

/
ibu ialah sekolah pertamaku
diajarinya aku alif-ba-ta
bahkan cinta beserta perangkatnya;
luka, sendu, bahagia dan rindu

ibu ialah bidadari tak berdebu
sesekali mendekapku dengan sayapnya
hangat kasih-sayangnya senantiasa kurasa
semenjak itu hingga kini, selalu

/
kala kenakalanku mulai meronta
seringkali ujung rotan mengecup mesra
hingga membekas manis di betis
merah bagai ciuman gincu seorang gadis

selalu kuiringi tabuhan gendang
pada omelan ibu kian berdendang
disetiap jalan menuju pulang
dari seharian bermain layang-layang

namun harus kudeklamasikan
bahwa setiap tegur-rotan
ialah ritual pengusir setan
serta iba yang tak terungkapkan

/
dalam dekapanmu cinta tak menyesakkan dada
bisu air matamu menjelma sulaman rahasia
sedari diriku menyesap payudaramu
hingga mengecap madurasa maduramu

biarlah surga di telapak kakimu tertutup
biarkan degup ini semakin sanggup
menanggung segala rasa
semasa perjalananmu di atas kerikil tua

maka atas nama cinta
padamu pemilik iba paling sempurna
telah kuperintahkan kepada ridwan
bukalah pintu sebelum jembatan

Mata Pena, 2020

Anatomi

pada akhirnya
seluruh tubuhku
ialah engkau

Mata Pena, 2020

*Pelajar ’54 (IPNU). Alumnus SMA Pesantren Al-in’am Banjar Timur Gapura. Sekarang nyantri di PP. Anuuqayah Lubangsa. Aktif di Komunitas Menulis Pasra (Kompas), Majelis Sastra Mata Pena(MSMP), Lesehan Pojok Sastra (LPS) Lubangsa, Sanggar Kotemang dan Sanggar Andalas. Menjabat sebagai Redaktur Pelaksana Majalah Rendesvous Ikstida dan Buletin Pelangi Pasra 2020-2021

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga