Oleh: Lukmanul Hakim*
Bilamana kita mendalami ayat-ayat al-Qur’an melalui cara berpikir filosofis, maka dapat kita ketahui bahwa di dalam kitab suci al-Qur’an terdapat berbagai gaya bahasa atau uslub yang mengandung nilai pendekatan metodologis dalam pendidikan. Allah SWT telah menunjukkan kepada kita berupa prinsip-prinsip dalam melaksanakan pendidikan terhadap manusia, baik secara eksplisit (tersurat) maupun implisit (tersirat) dalam uslub-uslub firman-Nya. Tuhan menurunkan al-Qur’an bertujuan untuk memberikan rahmat sekalian alam melalui proses pendidikan atau pengajaran. Di dalam proses itu terdapat sistem pendekatan metodologis pendidikan yang pada dasarnya dapat kita analisis sebagai berikut.
Pertama, pendekatan psikologis. Aspek rasional atau intelektual mendorong manusia untuk berpikir secara induktif dan deduktif tentang gejala ciptaan-Nya di langit dan di bumi. Juga aspek emosional yang mendorong manusia untuk merasakan adanya kekuasaan yang lebih tinggi dan ghaib sebagai pengendali jalannya alam dan kehidupan ini. Sedangkan aspek ingatan dan kemauan manusia juga didorong untuk difungsikan ke dalam kegiatan menghayati dan mengamalkan nilai-nilai agama yang diturunkan-Nya. Seluruh aspek kehidupan psikologis manusia dibangkitkan oleh Tuhan untuk dipergunakan semaksimal mungkin bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hanya dimensi potensial masing-masing manusia yang membedakan tingkat dan martabatnya dalam masyarakat. Namun, tolak ukur bagi kesamaan derajatnya yang esensial terletak pada dimensi potensial yang fundamental berupa takwa kepada Tuhannya.
Kedua, pendekatan sosio kultural. Memandang manusia tidak hanya makhluk individual yang menghamba kepada Tuhannya, melainkan juga makhluk sosial budaya yang dikaruniai potensi menciptakan sistem kehidupan masyarakat (bersuku-suku atau berbangsa-bangsa) serta menciptakan atau mengembangkan kebudayaannya untuk kesejahteraannya.
Ketiga, pendekatan scientific. Memandang bahwa manusia yang diciptakan-Nya adalah makhluk yang dikaruniai daya (potensi) menciptakan atau menemukan hal-hal baru yang kemudian dikembangkan melalui intelektualnya menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi kesejahteraan hidupnya. Hasil ciptaan dan penemuannya itu berupa ilmu pengetahuan dan teknologi serta ilmu-ilmu lainnya. Akan tetapi, semua ilmu dan teknologi serta ilmu lainnya yang ditemukan harus didasari dengan iman. Dengan ilmu pengetahuan yang didasari iman, maka manusia dapat memperoleh derajat yang tinggi dan aman. Di alam semesta, ciptaan Tuhan itulah terdapat bahan-bahan ilmiah yang dapat digali dan dikembangkan serta dimanfaatkan oleh manusia. Oleh karena itu, Tuhan selalu mendorong manusia untuk mengamati seluk beluk kejadian alam semesta beserta seluruh isinya.
Menurut pandangan Prof. Dr. Moh. Fadhil al-Jamali (2005), gaya bahasa dan ungkapan yang terdapat dalam al-Qur’an menunjukkan fenomena bahwa firman itu mengandung nilai-nilai pendekatan metodologis kependidikan dengan corak dan ragam yang berbeda-beda menurut waktu dan tempat serta sasaran yang dihadapi (yang menjadi khitab-Nya). Namun, yang sangat esensial adalah bahwa firman-firman itu senantiasa mengandung hikmah kebijaksanaan yang secara metodologis disesuaikan dengan kecenderungan psikologis manusia yang hidup dalam situasi dan kondisi yang berbeda beda. Kecenderungan psikologis dalam situasi dan kondisi yang berbeda beda itulah yang diperhatikan oleh Allah SWT sebagai latar belakang utama dari turunnya wahyu-wahyu-Nya.
Pertama-tama Allah SWT mengarahkan firman-firman-Nya kepada kemampuan akal pikiran manusia, karena akal pikiran yang menjadi kriteria antara manusia dan makhluk lainnya. Oleh karena itu, kitab-Nya hanya kepada manusia saja. Dengan akalnya manusia dapat memilih alternatif-alternatif baik atau buruk, salah atau benar, dan bermanfaat atau tidak, baik dilihat dari Tuhan, manusia, atau pun dirinya sendiri. Dengan demikian metode yang terkandung dalam khitab tersebut di atas berupa “metode pemberian alternatif”, melalui ungkapan-ungkapan historis, simbolis, instruksi dan larangan dalam susunan nilai hukum yang kategorial (wajib, sunah, mubah, makruh, dan haram). Akan tetapi, kerena pendekatan Tuhan terhadap manusia juga berdasarkan kejiwaan, maka “instruksi dan larangan” yang dibebankan kepada hamba-Nya itu juga didasarkan atas kadar kemampuan psikologisnya atau bergantung situasi dan kondisi yang melingkupinya. Oleh karena itu, taklif (beban) yang dipikulkan kepada manusia juga juga berbeda-beda, meskipun tugas dan tanggung jawabnya tetap sama, yatiu menjalankan perintah dan menjahui larangan-Nya.
Apabila kita memandang bahwa suatu pendekatan adalah subsistem ilmu pendidikan Islam, maka jelaslah bahwa seluruh firman Tuhan dalam al-Qur’an sebagai sumber ilmu pendidikan Islam itu mengandung implikasi-implikasi pendekatan metodologis yang komprehensif mencakup semua aspek dari kemungkinan pertumbuhan dan perkembangan pribadi manusia. Wallahu A’lam. (*)
*) Mahasiswa Semester VIII Prodi PAI Instika Guluk-Guluk, Kepala Perpustakaan MA 1 Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021, dan Sekretaris Lajnah Falakiyah Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk Periode 2020-2021.

