Cerpen: Ruhan Wahyudi
PEREMPUAN itu selalu mengusik dalam mimpiku, bahkan setiap hari. Barangkali, ia adalah perempuan yang pernah kutemui beberapa bulan lalu. Namun aku tak mengenali lagi, hanya warna kulitnya kuning langsat, suara serak dan hidungnya yang mancung. Siapa perempuan itu? Pada suatu hari, aku pernah mendengar suara perempuan itu entah dari mana, sama seperti suara dalam mimpiku. Atau mungkin ia adalah dirinya? Namun aku belum mengenalinya kembali. Aku mencoba mengingat wajahnya serta hidungnya yang mancung. Akan tetapi, ya tidak ada hasilnya. Bagaimana mungkin aku bisa secepat itu melupakan? Ah, sudahlah. Aku benar-benar lupa.
Aku mencoba memutuskan berdialog dengan buku yang kuambil dari rak di pojok kafe itu. Kunikmati keindahan alam dan secangkir kopi, berpikir bagaimana bisa perempuan itu selalu berada dalam mimpiku? Aku acak telepon, whatsapp sesuai abjad hingga akhir, barangkali ada nomor seorang perempuan dengan wajahnya khas yang sudah lama terabaikan. Entahlah. Bahkan temanku bertanya-tanya, “Ada apa dengan dirimu hingga kebingungan sendiri?” tanya Hamid dengan lirih. Namun tanpa kupedulikan percakapan dalam hati. Saat itu aku masih sangat penasaran apa yang terjadi dalam diriku. Matahari sudah mulai pudar dalam pelukan mendung. Mungkin tak akan lama lagi hujan akan menghiasi tanaman, bunga, dan lainnya. Hingga aku tidak begitu fokus membaca buku. Membaca keadaan sekarang ini meski teman-teman selalu menanyakan tentang diriku. Kemudian kubuka situs berita olahraga di layar ponsel. Ya, karena aku suka membaca berita, apalagi berita sepak bola tanpa kuhindari sejenak hal perempuan itu, agar pikiranku lebih tenang dan tidak tercundangi dengan hal-hal yang tidak nyata. Mencoba tidak terganggu dengan suara khas perempuan itu. Kemudian Hamid menyapaku dari pintu kafe, melambaikan tangan senyum mawar bahkan matanya, seperti gelombang menyapa karang. Indah bagai permata sari susut dalam pandangan hati, dia adalah satu-satunya teman terbaik juga sudah kuanggap seperti keluarga sendiri. Tidak lama kemudian, Hamid menduduki tempat kosong di sebelahku.
“Mid, aku selalu bermimpi dengan salah satu perempuan. Namun aku tidak mengenalinya atau bahkan aku yang lupa,” dengan memberanikan diri bercerita kepadanya. Aku hampir selalu mengingatnya setiap hari, atau mungkin dia adalah jodohku. Ah, tidak mungkin apalagi aku sampai sekarang benar-benar tidak mengetahuinya.
“Kamu, coba ingat kembali! Barangkali kamu pernah mengenal sebelum kamu kecelakaan waktu lalu,” ujar Hamid sambil ramah senyum.
Hingga pada akhirnya, aku dan Hamid memutuskan untuk pulang dari kafe tersebut, karena aku sudah lama ngopi dan menenangkan diri dari keterpurukan. Aku merasakan capek. Lalu menuju rumah untuk merebahkan tubuhku. Sesampainya di rumah, menuju kamar lalu memeluk guling sambil menatap atap kayu yang sudah tua dan cat pun semakin mengelupas sedikit demi sedikit.
***
Telepon berdering mengiringi angin dari luar jendela. Bahkan, rasanya tambah nyaring bunyi telepon itu. Tak sadar bahwa keadaan sudah pagi. Kuembuskan napas agar lega perasaanku saat ini, siapa yang nelepon pagi-pagi dengan nomor yang tidak aku kenali. Entahlah! aku masih ragu untuk menelepon balik. Hari Senin aku harus ke kampus karena acara organisasi juga harus mengerjakan apa pun yang tak membahagiakan. Hari itu aku mengabaikan semua kejadian di luar, termasuk suara serak perempuan dengan hidung mancung, serta kulitnya kuning langsat seperti yang selalu hadir dalam mimpiku. Sebelum pergi ke kampus, aku membiasakan bersih-bersih atau membuka jendela dan tirai atau menyapu halaman yang dipenuhi tanaman indah dan bunga harum menyerbak aroma kasih. Sebab, semua ini tugasku karena ibuku dalam perantauan di negeri orang beberapa tahun belakangan setelah aku sembuh total dari kecelakaan.
Berhari-hari, berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan, aku masih memikirkan mimpi yang sering dialami, ada apa dengan diriku? Setiap malam, tidurku dihiasi mimpi yang sama. Akan tetapi aku merasakan hal yang tidak pernah aku rasakan sebelumnya, ada detakan-degupan yang begitu besar dalam hatiku ini. Tapi sekarang justru dalam mimpi ini, aku berharap datang suatu keberuntungan seperti apa yang pernah dikatakan ibunya yang pernah bilang akan menjodohkan aku dengan seseorang anak teman orang tuaku itu. Aku belum pernah mengenal perempuan yang orang tua katakan kepadaku, karena memang belum pernah disatukan dalam pertemuan kekeluargaan.
Perempuan itu benar-benar misterius. Tapi tidak membuatku menyerah untuk mengetahuinya. Beberapa jam kemudian, telepon kembali berdering dengan nomor baru. Kuabaikan lagi, memang tak membuat peraturan melarang mengangkat telepon waktu itu. Tapi, bunyi telepon yang terdengar sengit dan memaksa seperti itu, kemungkinan besar mengantarkan kabar tidak menyenangkan yang dapat mengacaukan hari Minggu atau sebaliknya. Membawa kabar baik dengan sekuntum bunga mawar. Karena itu, nomor yang tak dikenal itu memaksa kuputuskan mengangkat, biar yang nelepon merasa beruntung. Sehingga si penelepon menyiasati segala sesuatu yang ingin disampaikan pada diriku. Mungkin ada sesuatu yang benar-benar penting.
“Assalamualaikum, akhi,” terdengar suara perempuan yang begitu lembut.
“Waalaikumsalam,” kubalas salam dari perempuan itu.
Aku bingung dan bertanya-tanya pada diriku sendiri. “Aku Uud, akhi, anak dari teman orang tuamu,” katanya, seakan mengingatkan tentang perjodohan yang pernah direncanakan orang tuaku dulu. Kemudian aku merasakan hal yang berbeda dalam perasaanku, setelah itu kumatikan panggilan tersebut, karena aku belum siap menerima kenyataan. Hamid yang berada di sebelahku menoleh setelah kumatikan percakapan.
“Bagaimana jika itu penting?” tanya Hamid sambil menatap kedua mataku.
“Tidak ada yang lebih penting selain percakapan dalam diriku sendiri!” kataku sambil menikmati roti di ruang tamu. ”Ya, setidaknya ada hal yang harus dibicarakan denganmu,” Hamid kembali menasihatiku.
Aku tak ingin memperpanjang percakapan ini. Saat ini, aku masih ingin menikmati kenyataan yang lebih tenang dan terlalu banyak percakapan pada hari-hari lain; tentang perempuan dalam mimpiku, atau perempuan tadi itu sama dengan perempuan dalam mimpiku. Tetapi kalau dari suaranya mirip. Apa mungkin itu adalah jodohku atau perempuan yang akan dijodohkan denganku.
Hamid terdiam di meja tamu dan memakan roti sambil tertawa melihat aku termangu seperti orang lugu. Ya, aku sering mengkhayal dengan sendiri, semenjak kedua orang tuaku merantau ke luar kota. Jika ditanya apa yang aku pikirkan dalam hidup ini, maka aku akan menjawab; aku sering bermimpi dengan seseorang perempuan, bahkan perempuan itu sering mengeja aksara dalam mimpiku yang indah. Kalaupun ada yang buruk, paling tidak bukan dengan perempuan yang sama.
“Sebaiknya, kau telepon lagi perempuan tadi,” saran Hamid. Kepalaku masih mendadak dipenuhi pikiran histeris. Bagaimana kalau penelpon itu mau mengabarkan berita yang tidak diinginkan? Bagaimana kalau perempuan itu ingin memberi tahu soal perjodohan orang tuaku dan dia? Bagaimana kalau seseorang perempuan itu hanya ingin mempermalukan diriku nantinya. Aku masih bingung, tragedi apa ini! Hingga membuatku semakin ragu untuk menelepon kembali.
“Tenangkan dirimu,” kata Hamid sambil memegang ponselnya.
***
Pada malam yang menegur kesunyian dengan cahaya bulan, aku membuka jendela membiarkan udara menjadi teman malam dan kesepianku. Daun-daun di halaman mulai gugur meranggas usianya. Aku merasa menikmati malam itu dengan membaca sebuah buku puisi “menjalari tubuhmu di pundak waktu”. Aku membayangkan betapa berartinya senyuman perempuan yang sering masuk dalam hidupku. Dari keasyikan, bahkan aku sangat mencintai mimpi itu, mencintai keadaan yang selama ini sering berada dalam hidupku.
Tak ada lagi yang tersisa dari kehidupanku selain mencari tahu siapa perempuan dalam mimpiku itu. Tidak lama kemudian, ponselku berdering nyaring, ternyata orang tuaku menelepon, “Nak, kamu gimana kabarnya,” dengan lembut orang tuaku menanyakan kabarku.
“Baik, Bu.” Sahutku
“Syukurlah, Nak. Kalau begitu, ada yang ingin ibu bicarakan.”
Aku bingung, apa yang ingin ibu bicarakan, ucapku dalam hati. Bagaimana aku tidak bingung, biasanya orang tuaku, menelepon itu hanya menanyakan kabar, apa ada kaitannya dengan perjodohan atau ibu akan pulang dari perantauan, ah.
“Ya Bu. Ada apa, Bu?” Dengan bingung aku bertanya.
“Jadi begini, Nak. Waktu lalu ibu dan ayahmu bicara pada teman ayahmu untuk menjodohkan kamu dan anaknya yang bernama Uud. Apakah kamu bersedia?”
Dengan meminta persetujuan dariku. Aku belum mengetahui ada apa dengan hidupku. Tragedi apa yang menimpa diriku.
“Ibu, aku belum bisa memenuhi permintaanmu, sebab anakmu ini masih ingin menyendiri dan fokus belajar tanpa memikirkan seorang perempuan,” jawabku dengan bimbang.
Aku masih percaya diri terhadap diri sendiri, tapi bukan berarti aku tidak ingin perjodohan yang sudah ditawarkan orang tuaku, melainkan ada yang lebih penting dari ikatan perjodohan yaitu menempatkan diri sendiri pada kenyataan untuk mencapai satu keyakinan dalam menuntaskan janji yang terpendam.
***
Pagi itu, yang menampakkan cahaya lebih cerah dan rayuan angin yang lebih gemulai memainkan tragedi. Aku mencoba memberanikan diri untuk menelepon nomor yang dulu menelepon dengan nama yang sama dan suara serak. Sambil kembali membuka gorden dan memandang ke luar. Setelah perempuan mengangkat teleponku, aku langsung memulai percakapan.
“Ukhti, apakah benar kamu namanya Uud, yang dijodohkan denganku?”
“Akhi. Iya benar,” dengan suara lembut ia menjawabnya.
“Tapi maaf, aku belum mengenalmu sama sekali bahkan aku belum mencintaimu, Ukthi,” tanpa aku sadari, mungkin air mata perempuan itu menetes namun tidak tampak. Pada hakikatnya, aku belum pernah bertemu meski ada kesamaan suara serak yang khas membuat aku masih ragu.
Aku menekuri apa yang baru terjadi: antara mimpi dan alam nyata seperti nyaris sama, Cuma ditabiri perasaan saja. Aku masih bingung; antara menuruti kemauan ibu untuk memilih perempuan itu atau menuruti suara hati sendiri untuk tetap tuntas kuliah. Dan kebingunganku baru terkikis saat menulis cerpen ini.
Yogyakarta, 06 Januari 2020
Ruhan Wahyudi. Penulis kelahiran Madura, Mahasiswa Sosiologi Agama UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, , Aktif dibidang kesustraan di berbagai komuntas seperti di Kelas Puisi Bekasi dan Komunitas ASAP dan sekarang Merupakan alumnus MA. Nasy’atul Muta’allimin Gapura Timur Gapura Sumenep dan MTs. Al-Huda Gapura Timur, sekarang berstatus sebagai pengabdian/santri di PP Nasy’atul Muta’allimin dan puisinya pernah mendapat juara 3 di tingkat nasional, juga sebagai 11 nominasi pemenang lomba cipta puisi 2019 Yayasan Hari Puisi Nasional Disparbud DKI Jakarta, juga mendapat Harapan 1 lomba cipta puisi UINSA Surabaya, Puisinya juga termaktub dalam antologi bersama, Banjarbaru Festival Literary(2019), Festival sastra internasional Gunung Bintan (Segara Sakti Rantau Bertuah) (2019), Sua Raya (Malam Puisi Ponorogo; 2019), Dongeng Nusantara Dalam Puisi (2019) Menenun Rinai Hujan(Sebuku.Net) Mahligai Penyair Titi Payung (2020) Pringsewu Kita (2020) Obituari Puisi dan Prosa Arie MP Tamba (2019) Rumah Semesta (2020) Pandemi DSJ(2020) Rantau(KKK) Gambang Semarang(KKK) Air Mata Hujan di Bulan Purnama(Tembi Budaya) dan lainnya, Puisinya juga tersebar di berbagai media cetak dan online antara lain Radar Banyuwangi, Radar Cirebon, Radar Madura, ,Radar Pagi, Tembi id. Magelang Ekspres. Tribun Bali, Mbludus.co, ideide.co Cakra Bangsa, Analisa, Riau Pos, pos bali dan analisa medan. Dan lainnya , buku pertamanya menjalari tubuhmu di pundak waktu sekarang sedang merampungkan buku kedua Gapura Berurat Darah .Facebook Ruhan Wahyudi Alamat: Jl. Gapura Dusun Sema RT/RW 02/05 Gapura Tengah

