Giliraja, NU Online Sumenep
Meski peringatan Nuzulul Quran lazim diperingati setiap tanggal 17 Ramadhan, di Pulau Giliraja kebanyakan diperingati pada malam tanggal 27 Ramadhan. Hampir seluruh masjid dan musholla menggelar secara seremonial. Masyarakat Giliraja menyebutnya dengan istilah Salametan Qur’an.
Rentetan acara yang khas menggurita di kalangan masyarakat adalah barzanjian, tumpengan, pengajian, istighotsah, tahlil dan sebagainya. Di masjid Nurul Huda Banbaru Giliraja digelar secara sederhana.
Untuk mensakralkannya, pengurus takmir masjid Nurul Huda menyelenggarakan Salametan Qur’an dengan tausiah keagamaan oleh Kiai Abd Hafidh Yahya, Sabtu malam (8/5/2021).
Dalam kesempatan itu, Kiai Hafidh mengajak kepada jamaah untuk senantiasa memanfaatkan bulan Ramadhan sebaik mungkin, istiqamah dengan ibadah wajib dan sunnah, serta memperbanyak shadaqah.
“Bulan Ramadhan adalah bulan yang mulia, segala kebaikan akan dilipatgandakan pahalanya. Mari kita semua memanfaatkan momentum untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, khususnya di sepuluh terakhir ramadhan ini. Tingkatkan tarawih, qiyamul lail, memperbanyak shadaqah dan amalan baik lainnya,” ajak Mustasyar Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Giliraja itu.
Lebih lanjut, pengasuh pesantren Nurul Huda menjelaskan tentang keutamaan lailatul qadar yang lebih utama dari seribu bulan. Ia mengutip kitab Dzurrotun Nashihin karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir al-Khaubawiyyi, halaman 273. Kemudian diceritakan pengalaman religius seorang tokoh islam Abu Yazid Al-Busthami yang pernah menjumpai lailatul qadar. Abu Yazid Al-Busthami mendapati lailatul qadar sepanjang hidupnya sebanyak dua kali, dan keduanaya terjadi pada tanggal 27 Ramadhan.
Lebih rinci lagi, kiai Hafidh menjelaskan tentang pendapat Syekh Hanafi pengarang kitab Haqoiq yang terdapat dalam kitab Dzurrotun Nashihin juga. Hanafi mengatakan, bahwa lailatul qadar itu ada kemungkinan terjadi pada malam tanggal 27 Ramadhan. Hal itu didasarkan pada tafsir lafadz lailatul qadar yang berjumlah sembilan huruf, dan kalimat lailatul qadar sendiri diulang sebanyak tiga kali dalam surat al-Qadar.
“Sembilan dikalikan tiga sama dengan dua puluh tujuh, jadi ada kemungkinan lailatul qadar akan kita alami pada malam ini, malam tanggal 27 Ramadhan,” ucapnya.
Meski demikian, kata Kiai Hafidh, tidak ada pendapat yang mutlak benar, banyak ulama berbeda pendapat tentang waktu terjadinya lailatul qadar.
“Peristiwa lailatul qadar itu dirahasiakan, agar kita senantiasa berlomba-lomba memperoleh keutamaannya sejak awal hingga akhir bulan ramadhan ini,” pungkasnya.
Editor: A Warits Rovi

