Image Slider

Terjunkan Pelatih ke Kepulauan Sepanjang, Cara Terbaik Lestarikan Kesenian Al-Banjari

Sapeken, NU Online Sumenep

Banyak cara yang dilakukan oleh kelompok Majelis Shalawat Al-Banjari di Sumenep untuk melestarikan kesenian tradisional tersebut. Salah satunya dilakukan oleh Muhammad Hilman Ma’mun yang mendatangkan pelatih dari daratan ke kepulauan untuk membimbing grup Poteran Pesantren Darussalam kepulauan Sepanjang, Kecamatan Sapeken. Pengasuhnya adalah Ustadz Nurul Huda Al-Hasni.

Hilman yang kini jadi vokalis utama grup Al-Banjari Al-Ghufran Bajigur Aeng Soka Pragaan Laok itu memberikan alasan, memang tidak ditemukan pelatih di bidang itu di kepulauan tersebut.

“Tidak mudah menemukan calon pelatih yang benar-benar siap bertarung mengarungi lautan demi dakwah,” sergahnya saat dikonfirmasi NU Online Sumenep, Selasa (4/1/2022).

Dijelaskan pula, jumlah personil yang dilatih cukup standar sebagaimana dalam grup Al-Banjari, yaitu 18-20 orang. Mereka adalah santri dan pemuda yang rata-rata usianya tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA).

“Kami membawa 2 personil grup Nasyidul Muhibbin asuhan Ustadz Abd Muhsi Shabri asal Pondok Pesantren Agung Damar, Talaga, Pakamban Daya, Pragaan, untuk melatih teknik dasar tabuhan, mereka adalah Hamidi dan Abrori. Sementara vokal, kami sendiri mampu melatihnya,” ujarnya.

Tak sampai di situ, ada pula calon personil dari kepulauan ia bawa ke daratan saat libur semesteran guna mendapatkan latihan secara maksimal.

“Ada 9 santri yang kami bawa ke daratan. Mereka adalah santri yang dipandang cakap dan tanggap untuk hal ini. Karena kelak grup tersebut akan menjadi pusat latihan kesenian hadrah Al-Banjari di kepulauan Sepanjang,” terangnya.

Alumni Pondok Pesantren Annuqayah Guluk-Guluk itu berharap agar kesenian tersebut menjadi jembatan antara pesantren dan masyarakat.

“Masalah latihan tidak terjadwal, kondisional saja. Pelatih yang kami bawa ke kepulauan akan membimbing para santri dan pemuda selama 20 hari,” tutur ASN P3K di SDN Sepanjang 1 Kecamatan Sapeken itu.

Nilai positif lainnya, lanjutnya, santri-santri yang sudah dilatih di daratan bisa mengetuk tularkan ilmunya pada grup-grup baru yang mungkin akan bermunculan di kemudian hari.

“Kesenian Al-Banjari di kepulauan Sepanjang masih belum ada. Kalau maulidan dan shalawatan ada. Hanya saja belum menyentuh kegiatan sosial masyarakat lebih luas. Semoga grup yang kami latih bisa memasyarakatkan shalawat dan menshalawatkan masyarakat,” harapnya.

Hilman menegaskan, ini dakwah ala Nahdlatul Ulama (NU) yang didasarkan pada spirit perjuangan yang tidak berorientasi pada finansial. Artinya, ia hanya mengharap berkah dari muassis kendati tak dapat uang saku.

“Kami hanya menanggung ongkos pulang-pergi. Untuk makan, minum, dan rokok, pihak pesantren yang menfasilitasinya,” imbuhnya.

Alumni Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (Instika) Guluk-Guluk itu menceritakan, perjalanan dari pelabuhan Kalianget sampai ke Sepanjang memakan waktu 24 jam.

“Pilihan transportasi yang sering kami naiki ada 3, yaitu perahu tradisional, KMP Sumekar dengan bajet Rp175.000 per-orang, dan kapal perintis Tol-Laut atau dikenal Sabuk Nusantara dengan tarif Rp20.000. Ditambah lagi penyeberangan dari Sapeken ke Sepanjang yang merogoh kocek Rp25.000. Semoga perjuangan kami dinilai ibadah oleh Allah SWT guna membumikan shalawat Nabi pada warga,” pungkasnya.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

RUMAH TAK BERPINTU

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga