Oleh: Camelia Elyzabeth
Samman merupakan suatu kegiatan dengan pertunjukan gerakan dan pujian suci yang membentuk sebuah pusat lingkaran. Sebuah akulturasi dari tradisi budaya yang berbentuk kesenian dan tradisi keagamaan. Mengapa demikian? Karena tradisi ini mempunyai relasi yang erat dengan dunia ghaib—baik berkenaan dengan kehidupan para leluhur maupun religiusitas ke-Tuhan-an. Tidak hanya sebagai kegiatan ritual murni, tetapi tradisi ini juga berfungsi sebagai hiburan dan sarana komunikasi antar masyarakat setempat.
Tradisi ini berasal dari Tarekat Sammaniyah yang terealisasi sejak pemerintahan Raja Abdurrahman di Sumenep tahun 1810 M. Sejak tahun 1836 M, Abdurrahman mendalalmi Islam dan menuntut ilmu Tarekat, Tasawuf serta kejawen. Dalam literature lain disebutkan bahwa Tarekat Sammaniyah ini didirikan oleh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani.
Pelaksanaan tradisi ini biasanya dilakukan setiap malam minggu di rumah masyarakat secara bergilir. Ritual ini dilakukan dengan cara melingkar bersama, baik berdiri maupun duduk, dengan membaca pujian-puijan serta dzikir kepada Allah subhānahu wa ta’āla secara berulang-ulang yang dilakukan seirama dengan nada atau musik yang melantun serta beriringan dengan gerak tubuh yang berayun-ayun dan bertepuk tangan. Setiap gerakan dalam kesenian Samman mempunyai makna tersendiri, seperti gerakan berputar membentuk lingkaran dan lantunan kalimat zikir serta irama tepuk tangan yang begitu sangat teratur. Keseluruhan memiliki makna keagungan Tuhan serta pentingnya sebuah rutinitas ibadah dalam rangka mencapai kebahagiaan yang hakiki. Kesenian Samman ini merupakan sebuah upaya atau ajaran ke-tauhid-an yang berbentuk tarekat guna kebahagiaan ukhrawi.
Hal tersebut dibenarkan Kiai Quraysi, salah seorang tokoh masyarakat di Desa Gapura Timur Kecamatan Gapura Kabupaten Sumenep, yang juga menjadi penggerak tradisi Samman di daerahnya. Setiap gerakan yang dilakukan dan lafadz yang dilantunkan memiliki makna filosofi, yakni pujian kepada Allah SWT Dzat yang Maha Kuasa. Selain mengandung makna, gerakan berputar dan suara yang didengungkan memiliki dampak positif terhadap kesehatan. Utamanya dapat memperlancar peredaran darah, karena jantung terus dilatih.
Pada awalnya tradisi Samman ini tidak mengenal adanya musik, ritual yang dilakukan hanya sebatas tari, tepuk tangan, dan dzikir. Akan tetapi kemudian ritual Samman terpengaruh oleh tradisi lain yang pada saat itu sudah menggunakan alat musik. Maka dari itulah, setikar tahun 1970-an tradisi Samman mengadopsi musik sebagai pelengkap ritual sebelumnya. Namun demikian, alat musik yang digunakan bukanlah alat musik yang ada seperti sekarang, melainkan alat musik yang masih tradisional dan sederhana seperti gendang, jidor, simbal, dan kentungan kecil yang terbuat dari akar bambu. Meskipun begitu, hal tersebut tetap merupakan sebuah perubahan yang diadopsi dari corak kemajuan sains dan teknologi.
Seiring perkembangan zaman, tradisi ini mulai memudar dan ditinggalkan oleh masyarakat Sumenep. Hal ini terjadi karena tidak adanya generasi yang mampu atau mempunyai semangat gigih untuk meneruskan tradisi Samman ini. selain itu juga, tidak adanya peminat karena menganggap bahwa tradisi tersebut sudah kuno. Mengapa demikian? Barangkali karena perkembangan budaya modernisme dan industri penemuan sains-teknologi lebih menarik perhatian masyarakat sehingga menjadikan tradisi tradisional Samman termarjinalkan.
Wallahu A’lam
Tentang Penulis:
Camelia Elyzabeth, lahir di Sumenep. Penulis merupakan santriwati di Pondok Pesantren Al-Anwar 3 Sarang Rembang.

