Image Slider

Wakil Ketua NU Sumenep: Guru Ngaji Dasar dari Semua Jenjang Pendidikan

Dungkek, NU Online Sumenep
Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Sumenep, Kiai A. Dardiri Zubairi menyatakan, bahwa guru ngaji adalah dasar dari semua jenjang pendidikan. Meski keberadaannya jarang diperhatikan, namun jasa guru ngaji yang ikhlas mendidik anak membaca Al-Qur’an dan ilmu agama begitu besar.

Hal demikian disampaikan Kiai Dardiri, sapaan akrabnya, saat mengisi tausiah di acara Buka Bersama Guru Ngaji yang diselenggarakan oleh Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Dungkek, Rabu (20/4/2022) di Pondok Pesantren Anwarul Abror, Jadung, Dungkek, Sumenep.

“Yang pertama mendidik kita adalah langghar (mushalla tempat belajar mengaji, red.). Jadi guru ngaji di langghar ini adalah dasar, jika tidak ada dasar tidak mungkin ada pendidikan sampai sekarang,” ujarnya.

Jasa guru ngaji yang telah mendidik Al-Qur’an dan ilmu agama, menurut Kiai Dardiri, tidak boleh dilupakan. Sebab, tidak mungkin menjadi orang alim ilmu agama dan sukses berkarir di berbagai sektor kehidupan tanpa barakah dari guru ngaji.

Meski demikian, Masyaikh Pondok Pesantren Nasy’atul Muta’allimin Gapura itu merasa gelisah dengan kondisi saat ini dimana banyak kalangan sudah mulai menghilangkan peran guru ngaji. Para santri yang mulai beranjak remaja sudah berhenti mengaji.

“Saat ini peran guru ngaji lebih berat. Karena para santri yang jenjang pendidikannya sudah Tsanawiyah maupun Aliyah sudah tidak mau mengaji ke guru ngaji,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Kiai Dardiri juga menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan banyak anak-anak berhenti mengaji di langghar. Salah satunya adalah adanya metode belajar mengaji cepat. Bila sudah ditemukan metode belajar ngaji cepat atau kilat, tidak membutuhkan waktu lama, maka besar kemungkinan anak-anak sudah enggan mengaji di langghar, karena prosesnya lama.

“Sekarang itu ada metode cepat belajar membaca Al Qur’an. Seperti Iqra’ misalnya. Jika anak-anak cepat pintar baca Al Qur’an, maka kemungkinan anak tersebut cepat pula berhenti ngaji ke guru ngaji,” tegasnya.

Bagi Kiai Dardiri, proses sangat penting. Termasuk dalam belajar mengaji di langghar, tempat para guru ngaji mendidik santrinya membaca Al-Qur’an.

Di akhir tausiahnya, Kiai Dardiri juga menyampaikan kaitan NU dengan pesantren. Kiai yang juga pegiat agraria ini menukil dawuh Gus Dur, bahwa NU adalah pesantren skala besar, sedang pesantren adalah NU skala kecil.

Keduanya merupakan dua sisi mata uang yang tak bisa dipisahkan. Itulah mengapa keberadaan guru ngaji, menurut Kiai Dardiri harus diperhatikan.

Diketahui, acara tersebut dihadiri jajaran pengurus Tanfidziyah PCNU Sumenep, Panitia Pelaksana NU Sumenep Menyapa, Syuriah dan Tanfidziyah MWCNU Dungkek, lembaga dan badan otonom, serta 40 Guru Ngaji yang tersebar di seluruh Kecamatan Dungkek.

Editor: Ibnu Abbas

 

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga