Image Slider

Sekretaris PWNU Jatim: Aktivis NU Online Mujahid Literasi Digital

Kota, NU Online Sumenep
Mulai tahun 2030 dan seterusnya, yang menentukan Indonesia adalah teman-teman NU Online. Dari sisi usia, mereka lah yang menentukan ruang publik. Karena seluruh aktivis NU Online seorang mujahid literasi digital.

Pernyataan ini disampaikan oleh Akh Muzakki di acara Webinar Penguatan Literasi Dakwah dengan tajuk ‘Upgrading dan Penguatan Literasi Dakwah di Era Resonansi Digital 5.0’, Kamis (25/11) di studio UBTV Universitas Brawijaya Malang.

“Buruknya ruang publik, karena hebatnya orang jahat dan diamnya orang baik. Ruang publik zaman dahulu, tidak sama dengan kondisi saat ini. Tidak mungkin ada ada digital culture. Jika dulu warga berinteraksinya secara fisikal. Saat ini berinteraksi di dunia maya,” ujarnya saat mengawali presentasinya.

Sekretaris Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur itu mengaitkan rumusan masalahnya dengan dunia dakwah. Tantangannya bisa dijawab dan ada pula yang tidak. Oleh karenanya, aktivis NU Online akan menjadi penting bagi warga Indonesia yang majemuk. Terlebih kondisi masyarakat saat ini mengkonsumsi sesuatu yang dipengaruhi oleh siapa role modelnya.

“Implikasinya, semua barang terpapar dengan baik. Orang datang bisa memilih, mana yang sesuai dengan seleranya. Jadi, beragama di era ini sama dengan masuk ke minimarket. Tidak perlu ditanya mau beli apa? Tapi orang akan memilih dengan sendirinya,” kata Dewan Penasihat NU Online Jatim itu.

Diuraikan pula, pilihan-pilihan itu diantaranya adalah siapa yang akan menguasai minimarket. Misalnya, menaruh produknya di rak depan atau belakang. Menurut Muzakki, dalam dunia bisnis, menaruh barang di rak depan dan belakang beda harganya.

“Perlu diketahui, orang yang masuk ke minimarket bisa memilah dan memilih sesuai dengan isi hatinya. Padahal orang datang tanpa pilihan. Saat ia menemukan produk yang menarik, maka ia akan dikonsumsi,” terangnya.

Dari penganalogian tersebut, Guru Besar Sosiologi Universitas Islam Negeri Sunan Ampel (UINSA) Surabaya itu mengingatkan bahwa, di era ini ada dua hal yang harus diperhatikan, yaitu important (penting) dan interesting (menarik).

“Di ruang digital, sesuatu yang penting tapi tidak disajikan dengan cara yang menarik, maka akan ditinggalkan konsumen. Walaupun tidak penting, tapi disajikan dengan menarik, maka akan dikonsumsi orang. Kita dinasehati seorang ahli, ketahuilah yang kau ceramahkan, bukan ceramahkan yang engkau ketahui. Artinya, kita  harus tau pasarnya seperti apa? Konsumennya? Karakternya? Jangan semua diceramahkan, karena kita menganggap penting. Jika demikian, maka ditinggal konsumen,” sergahnya.

Dirinya menegaskan, konsumen di ruang digital tidak sama karakternya dengan di ruang manual fisikal. Di ruang digital orang impersonal, di ruang fisikal terlihat santun. Kalau di ruang digital, jari-jemarinya pedas sekali.

Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UINSA Surabaya itu mengimbau kepada pegiat media NU untuk tidak meninggalkan ruang digital.

“Jangan sampai merasa jumlah jamaah kita besar. Sementara di ruang digital tidak mengenal besar tidaknya sebuah jamaah. Karakternya adalah siapa yang cepat akan memangsa yang lambat, siapa yang menarik akan memangsa yang penting. Seperti, di dunia bisnis transportasi, seseorang bisa menguasai dunia transportasi karena aplikasi digital. Semetara perusahan lama yang armadanya ribuan di jaringan nasional, SDM nya top, harus tumbang dengan itu,” tuturnya saat mengingatkan audien.

Dilanjutkan, ada yang disebut media morfosis. Artinya, sesuatu di paltform A bisa direplikasi dan konversi di platform lain. Seperti teks menjadi video, video menjadi suara, dan seterusnya. Contoh lainnya, berangkat dari novel yang baik, dikonsumsi dengan tingkat keterbacaan yang tinggi, lalu konversi menjadi sebuah film. Walaupun sudah dibaca novelnya, tapi tetap menonton filmnya berkali-kali.

“Orang mengenal figur tertentu karena mungkin tidak tahu siapa mereka? belajar kepada siapa agamanya? Karena punya kemampuan untuk menyampaikan yang penting dengan menarik yang memenuhi dahaga intelektual dan emosi warga digital. Wajar jika mendapat pengaruh yang kuat. Oleh karenanya, penting media morfosis ini segera dikembangkan aktivis NU Online, sebab platform digital semakin lama kuat dan beragam,” pintanya.

Di akhir presentasinya, ia memberikan perumpamaan. Yakni, sebuah panggung yang diduduki bersama yang di atasnya ada penari, penyanyi, MC, ustadz, dan seterusnya. Jikalau ada salah satu di antara mereka mengatakan panggung tersebut kotor karena diisi oleh orang yang beragam. Kemudian turun dari panggung tersebut, maka panggung ini akan diisi oleh orang-orang berkepentingan.

“Kepentingan kita di Indonesia adalah mensinergikan anatra keislaman dengan kebangsaan dan kenegaraan, sehingga panggung yang diwariskan oleh founding father ini dirawat dengan baik. Peran NU Online tidak sekedar media dakwah, tapi mensinergikan kebutuhan dakwah dan kebutuhan Indonesia,” pungkasnya.

Editor: A Habiburrahman

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga