Image Slider

Ra Mamak: Kegigihan Siti Hajar Perlu Ditiru

Rubaru, NU Online Sumenep

“Sesungguhnya Shafa dan Marwah adalah sebagian dari syiar Allah. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau berumroh, maka tiada dosa baginya mengerjakan Sa’i antara keduanya. Dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, maka sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui.” (Q.S. Al-Baqarah:158).

Ayat tersebut dibacakan langsung oleh KH Moh Shalahuddin A Warits saat mengisi kegiatan rutin bulanan pengajian Kitab Tafsir Al-Qur’anul Karim yang diselenggarakan oleh pengurus Ikatan Alumni Annuqayah (IAA) Kecamatan Rubaru, Sabtu (19/02/2022) di kediaman Moh Syaiful Anwar, Dusun Kaleleng, Matanair, Rubaru.

“Salah satu rukun haji dan umrah adalah Sa’i, yaitu berjalan atau berlari-lari kecil dari bukit Shafa dan Marwah sebanyak tujuh kali. Jarak antara bukit Shafa dengan bukit Marwah adalah 450 meter. Jadi kita berjalan sejauh 3,15 Kilo Miter saat melakukan Sa’i,” lanjutnya.

Kepala Madrasah Aliyah 1 Annuqayah itu mengawali pembahasannya dengan mengulas sejarah terjadinya Sa’i yang kemudian menjadi ritual wajib ibadah haji.

“Zaman dahulu, Nabi Ibrahim AS diperintahkan Allah SWT untuk meninggalkan istrinya Siti Hajar dengan anaknya Ismail yang saat itu masih bayi di sebuah gurun yang tandus. Tidak ada makanan atau pun air di situ. Namun dari sinilah akhirnya berdirinya kota Mekkah yang sekarang ramai dikunjungi oleh puluhan juta orang setiap tahun. Jadi perintah Allah itu tidak sembarangan,” tuturnya.

“Ibrahim AS lalu berangkat. Siti hajar dengan menggendong Ismail mengikuti suaminya, lalu berkata: ‘Ke manakah Anda hendak pergi dan mengapa Anda meninggalkan kita di lembah ini, tanpa ada seorang pun sebagai kawan dan tidak ada sesuatu apa pun?’ Hajar berkata demikian itu berulang kali, tetapi Ibrahim AS sama sekali tidak menoleh kepadanya. Kemudian Siti Hajar berkata: ‘Adakah Allah yang memerintahkan Anda berbuat semacam ini?’ Ibrahim a.s. menjawab: ‘Ya’. Hajar berkata: ‘Kalau demikian, pastilah Allah tidak akan menyia-nyiakan nasib kita,” sambungnya.

Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Annuqayah Daerah Lubangsa Guluk-Guluk ini juga menambahkan, pada waktu itu Siti Hajar lalu kembali ke tempatnya semula. Ibrahim AS lalu berangkat sehingga sewaktu beliau itu datang di Tsaniyah, di sesuatu tempat yang tidak terlihat oleh Hajar dan anaknya, kemudian menghadap kiblat dengan wajahnya yakni ke Baitullah. Nabi Ibrahim berdoa.

”Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Ya Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat. Maka, jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur,” katanya.

Alumni Universitas Al-Azhar Kairo Mesir ini juga mengungkapkan bahwa Nabi Ibrahim juga memberi bekal makanan dan minuman untuk istri dan anaknya. Siti Hajar menyusui Ismail dan minum dari air yang ditinggalkan itu, sehingga setelah habislah air yang ada di tempat air dan ia pun haus bersama Ismail.

“Kemudian Siti Hajar melihat anaknya bergulung-gulung di tanah sambil memukul-mukulkan kakinya di atas tanah itu. Karena tidak tahan melihat keadaan anaknya, Siti Hajar melihat sekelilingnya dan tampaklah olehnya bahwa Shafa adalah bukit terdekat yang ada di samping dirinya. Iapun pergi ke puncak bukit Shafa dan melihat kalau-kalau ada orang yang lewat,” jelasnya.

“Selanjutnya ia turun dari bukit Shafa, sehingga setelah ia sampai di lembah lagi, iapun mengangkat gamisnya, terus berlari-lari kecil sehingga lembah itu dilampauinya, kemudian mendatangi bukit Marwah, berdiri di atas puncak Marwah ini, menengok ke lembah, kalau-kalau ada orang yang lewat. Tetapi tidak ada, sehingga Hajar mengerjakan sedemikian itu sebanyak tujuh kali, yakni pergi bolak-balik antara Shafa dan Marwah,” tambah beliau.

Ra Mamak, sapaan Akrabnya, juga mengingatkan, Siti Hajar tidak berani meninggalkan Ismail terlalu jauh, sehingga akhirnya beliau bolak-balik ke bukit Shafa dan Marwah hingga tujuh kali. Saat Ismail menangis, beliau hampiri. Di dekat Ismail, ada malaikat yang menjejakkan kakinya ke bumi melalui kaki ismail yang sedang merengek menangis karena kehausan. Dari situlah keluar air segar yang kita kenal sekarang dengan mata air Zam Zam. Siti Hajar pun kemudian menciduk air Zam Zam tersebut dengan kedua tangannya dan ditaruh ke tempat air sehingga Ismail bisa minum air tersebut dan berhenti menangis.

“Oleh sebab itu para manusia dalam mengerjakan ibadah haji meneladani kelakuan Siti Hajar tersebut, yaitu bersa’i artinya berlari-lari kecil 7 kali antara Shafa dan Marwah. Kegigihan Siti Hajar inilah yang harus kita tiru dalam menjalani kehidupan ini,” tandasnya.

Dengan keluarnya air Zam Zam, menurutnya, daerah itu menjadi subur. Kabilah Arab yang lewat dari suku Jurhum akhirnya minta izin kepada Siti Hajar untuk tinggal di situ. Sejak itu, daerah yang asal mulanya tandus itu terus berkembang sehingga menjadi kota Mekkah yang kita kenal sekarang. Kota Mekkah ini dikunjungi puluhan juta orang setiap tahunnya untuk berhaji dan umroh.

“Air Zamzam pun tetap mengalir dan tidak habis meski ratusan juga bahkan milyaran orang sudah meminumnya selama ribuan tahun,” ungkapnya.

Di akhir penjelasannya, beliau menyimpulkan bahwa kisah keimanan yang terjadi dengan Siti Hajar di antara bukit Shafa dan Marwah tidak lain untuk menarik perhatian kita agar menyadari bahwa Allah SWT adalah Pencipta sebab akibat, namun kekuasaan Allah SWT di atas segala sebab akibat.

ADVERTISIMENT

sosial mediaFollow!

16,985FansSuka
5,481PengikutMengikuti
2,458PengikutMengikuti
61,453PelangganBerlangganan

Rekomendasi

TerkaitBaca Juga!

TrendingViral!

TerbaruBaca Juga